Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh Riri Satria Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah tradisi lisan diterjemahkan ke dalam bahasa puisi. Folklor yang selama berabad-abad hidup melalui cerita, tutur, ingatan, dan pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya, kemudian memperoleh bentuk baru melalui larik-larik puisi. Itulah kesan yang saya rasakan ketika menerima buku Sulur Kembang Sri Tanjung: Kompilasi Puisi Folklor […]
oleh Riri Satria Ada kebahagiaan tersendiri ketika menerima sebuah buku puisi dari seorang sahabat, terlebih ketika buku itu merupakan rekaman perjalanan batin yang begitu personal sekaligus mampu menjangkau dunia yang lebih luas. Begitulah kesan saya ketika menerima Nyanyian Ilalang, kumpulan puisi karya Mbak Viefa, sahabat saya yang sehari-hari berdomisili di Banyuwangi, Jawa Timur. Membaca Nyanyian […]
Perkenalan saya dengan Bang Jose Rizal Manua sesungguhnya terjadi jauh sebelum saya aktif bersastra di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Waktu itu saya memang sering bermain-main ke kawasan TIM, tetapi bukan untuk bersastra. Tujuan saya justru adalah sebuah toko buku milik Bang Jose. Saya datang untuk mencari berbagai buku langka, terutama buku-buku filsafat, kebudayaan, dan […]
Riri Satria dan Emi Suy PUISI SEORANG PEREMPUAN DI JALAN SUNYI Menjelang tengah malam sehabis gerimis perempuan itu menyusuri lorong sunyi jalan basah memantulkan wajah kota yang pandai tersenyum melihat luka orang lain. Angin mengikuti dari belakang mengacak rambut panjangnya seperti tangan tak kasat mata ingin memastikan apakah kau masih berani berjalan ketika dunia […]
oleh : Riri Satria Ada nama yang belakangan ini menarik perhatian saya: Ernesto Sábato. Ia bukan sekadar sastrawan Argentina, melainkan seseorang yang perjalanan hidupnya terasa seperti sebuah perjalanan panjang dari dunia rasional menuju wilayah manusia yang jauh lebih misterius. Ia seorang fisikawan yang pernah menekuni dunia sains, bahkan pernah bekerja di Institut Curie di Paris. […]
oleh: Riri Satria Tadinya saya berpikir untuk tidak menuliskan kisah ini di sini. Tetapi kemudian saya berpikir ulang, mungkin ada baiknya saya bagikan. Bukan untuk membalas pesan seseorang. Saya justru ingin menjadikannya sebagai bahan pembelajaran dan perenungan bersama. Beberapa waktu lalu, seorang penulis senior yang saya hormati tiba-tiba mengirimkan pesan kepada saya. Kurang lebih ia […]
Riri Satria PUISI PADA SUATU KEHENINGAN Bulan tertahan awan seperti wajah lama enggan memperlihatkan diri malam menumpahkan sunyi di jalan-jalan Denpasar yang pernah kita lalui. Angin membawa sisa musik dari kejauhan seperti orkestra yang memainkan lagu bagi sesuatu yang telah selesai. Di kiri-kanan jalan pura berdiri dalam keheningan sementara pohon kamboja menjatuhkan bunga […]
Riri Satria Defisit APBN menyimpan bom waktu detaknya tak pernah berhenti ledakannya menunggu lengah. Kemerdekaan terasa semakin mahal kebebasan perlahan menjadi utang rakyat berjalan sambil dicekik. Pajak mengetuk pintu-pintu BUMN dipaksa berlari kehabisan napas lalu utang membuka gerbang baru. Awan kelabu menggantung panjang nasib bangsa dipertaruhkan anggaran kehilangan keseimbangan. Generasi masa depan menunggu mereka mewarisi […]
Riri Satria OPERA SUATU MALAM TANPA PURNAMA : untuk mengenang alm Yoevita Soekotjo Engkau pengantin puisi pada malam tanpa purnama puisi membuka langit kata-katamu terbang dan menyebar menjadi kawanan cahaya. Tubuhmu menepi jiwamu terus berlayar kursi roda terdiam cakrawala tetap kau datangi waktu memetik senja engkau menanam abadi. Kematian hanya pintu bukan rumahmu sebab puisi […]
Di laboratorium malam aku menajamkan angka rumus-rumus berubah menjadi jendela galaksi integral dan partikel saling berbisik di papan tulis penuh debu kosmik. Aku belajar bahwa semesta tidak selalu berbicara dengan bahasa manusia kadang ia hadir sebagai grafik sunyi bergerak perlahan di antara denyut bintang. Lalu aku memasuki puisi seperti memasuki hutan kehilangan peta […]
Ada nama-nama dalam sejarah sastra Indonesia yang tidak sekadar dikenang sebagai pengarang, melainkan sebagai tempat banyak orang belajar memahami kehidupan. Salah satu nama itu adalah NH. Dini. Melalui karya-karyanya yang tenang, reflektif, dan jujur, Nh. Dini menghadirkan pengalaman perempuan, keluarga, cinta, kesepian, perjalanan, dan pergulatan manusia dengan cara yang sangat manusiawi. Novel-novelnya seperti "Pada Sebuah […]
HARUSKAH AKU MASIH PERCAYA KEPADAMU, WAHAI PUISI? Di layar kecil itu kebenaran diperdagangkan seperti diskon akhir musim orang-orang menanam amarah dengan jempol yang berlari lebih cepat dari nurani. Aku melihat fakta diganti filter lalu sejarah dipoles menjadi konten berdurasi semenit seseorang bersumpah atas nama cahaya namun wajahnya berpendar dari api algoritma. Haruskah aku masih percaya […]
Oleh Riri Satria Saat ini dunia sedang mengalami gelombang disrupsi yang begitu luas, terutama dalam bidang ekonomi, bisnis, sosial, dan budaya, yang didorong oleh percepatan perkembangan teknologi. Salah satu gejala paling nyata adalah mulai memudarnya dominasi media cetak di berbagai belahan dunia. Surat kabar, majalah, hingga buku fisik tidak lagi menjadi satu-satunya medium utama penyebaran gagasan, […]
oleh: Riri Satria Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa saya begitu mencintai puisi, sementara latar belakang saya justru berada pada dunia teknologi digital, ekonomi, dan bisnis, yaitu dunia yang identik dengan logika, struktur, dan rasionalitas. Pertanyaan itu sering berujung pada satu hal yang lebih mendasar, apa sebenarnya fungsi puisi dalam hidup seorang Riri Satria? Tulisan […]
panas terik menggantung pertanyaan matahari mengunyah bayangan tubuhku jalan setapak retak tanpa arah puisi terselip di celah waktu gerhana adalah jeda pura-pura gelap menyelinap ke saku semesta angin mengganti arah diam-diam menghentikan hari tanpa estetika sawah memantulkan langit lelah pepohonan diam menahan bisu semak-semak berbisik kehilangan keindahan retak di antara bayangan awan menggulung […]
oleh Riri Satria Sebuah pertanyaan sederhana tiba-tiba mengusik pikiran saya, adakah kesamaan antara fisika teori dan puisi? Pertanyaan itu terdengar ganjil, seolah mempertemukan dua dunia yang tidak pernah saling menyapa. Satu dunia dipenuhi angka, persamaan, dan hukum-hukum yang ketat. Dunia lainnya dipenuhi kata-kata, metafora, dan getaran perasaan yang sulit dijelaskan. Namun semakin lama saya memikirkannya, […]
di tepi senja pecah seperti gelas lupa utuh aku meneguk diriku sendiri rasa gagal menjadi air di hutan tropis lembab dan berpikir aku berjalan di jalan panjang tak menuju atau selalu kembali seperti luka mengulang namanya sungai mengalir tanpa ingatan membawa sisa-sisa yang tak lagi mau disebut ilalang berbisik dengan lidah patah aku duduk […]
oleh: Riri Satria Adakalanya saya membayangkan seorang anak dari Generasi Alpha duduk di sudut kamar pada suatu malam yang tenang. Di tangannya bukan lagi buku puisi tipis dengan halaman yang menguning, melainkan sebuah perangkat yang memancarkan cahaya ke wajahnya. Di layar itu, kata-kata bergerak perlahan, diiringi suara hujan buatan, visual langit yang berubah warna, dan […]
manyalinok diam-diam bukan di tanah bukan di daun tapi di celah nan indak basuaro antara niek jo ragu inyo alah ado sabalun pikiran jadi kato sabalun hati mangaku salah inyo lah lahia dari haniang nan panjang nan indak ka tanyo asal-usulnyo kulik licin jo basisiak bukan untuak diliek tapi untuak diraso bak bayang nan […]
oleh: Riri Satria Sore menurunkan dirinya seperti tirai tipis yang enggan menutup panggung sepenuhnya. Gerimis jatuh bukan sebagai peristiwa, melainkan sebagai bahasa yang lupa bagaimana harus bersuara. Ia tidak mengetuk, tidak meminta dikenali, hanya menyusup ke dalam celah-celah waktu yang retak, melunakkan tepi-tepi hari yang terlalu keras. Di sana kita duduk, membiarkan pikiran larut seperti […]
Emi Suy dan Riri Satria di antara hening dan nyaring : perasaan dan kenyataan cemas! yang diseduh air panas biarlah mengendap di ampas kopi lalu aku lalu laju di waktu sahur malam Lailatul Qadar mencecapi secangkir sepi di tiap teguk ada harap menyala di bakar bara doa yang begitu tenang di saat subuh tiba […]
Riri Satria FIREWALL Ada dinding terbentang bukan untuk pemisah melainkan agar segala yang datang punya alasan untuk tinggal Ini bukan dinding kebencian ia adalah kebijaksanaan yang lahir dari luka-luka lama yang akhirnya belajar Bernama Tak semua kata atau diksi perlu masuk sekaligus tak semua suara pantas menjadi gema bahkan tak semua puisi layak […]
Aku bukan garis pulang namun juga bukan titik lupa arah berdiam di antara dua nyala api. Satu mengukur satu membayangkan tak semua yang nyata perlu suara tak semua yang mungkin perlu bukti. Aku belajar hidup di logika yang ditolak Itu bukan ruang yang hanya sah karena tak mampu didefinisikan padahal lorong itu melingkar waktu juga […]
Catatan atas Pertanyaan dan Gugatan Terhadap Diri oleh: Riri Satria Saya sering dikatakan tidak fokus. Alasannya terdengar sederhana sekaligus menghakimi karena saya dianggap menyentuh terlalu banyak bidang. Bukan hanya teknologi digital, transformasi digital, manajemen strategis, dan bisnis, yang sejak lama menjadi wilayah kerja saya, tetapi juga ekonomi makro, persoalan sosial dan kebudayaan, filsafat, bahkan sastra, […]
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]