Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KOSMOPOLITAN: Winarta: Saat Dendam, Sejarah dan Kemanusiaan Bertemu

    27 Sep 2026 | Dilihat: 15 kali

    Oleh Rissa Churria

    JAKARTA — Sebuah revolusi mungkin tercatat dalam buku sejarah sebagai rangkaian peristiwa besar. Namun, bagi manusia yang mengalaminya, revolusi bisa berarti kehilangan rumah, kehilangan keluarga, menyaksikan kekerasan, atau hidup dengan dendam yang tak pernah selesai.

    Pertanyaan tentang manusia di tengah pusaran sejarah itulah yang menjadi titik berangkat diskusi novel WINARTA karya Basuki Gunawan bertajuk “Revolusi dan Dendam”, Sabtu, 26 September 2026, di Ruang Akademi Jakarta/Selasar Akademi Jakarta, lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki.

    Acara yang berlangsung pukul 16.00–17.30 WIB tersebut menghadirkan Dewi Anggraeni dan Ronny Agustinus, dengan Nunung Noor El Niel sebagai moderator.

    Kegiatan diselenggarakan oleh Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) bersama Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026.

    Dendam yang Berubah Menjadi Pencarian

    Dalam pembacaan Dewi Anggraeni, Winarta tak berhenti sebagai kisah tentang seseorang yang kehilangan orang tua dan kemudian melakukan pembalasan.

    Kematian orang tua tokoh utama justru berawal dari kekeliruan identitas. Mereka dibunuh bukan karena kesalahan yang benar-benar mereka lakukan. Kekeliruan tersebut menghadirkan sebuah dunia yang kehilangan logika sebab-akibat.

    Bagi Dewi, dari sinilah absurditas dalam novel menjadi menarik.

    Tokoh utama kemudian masuk ke dalam kekerasan. Akan tetapi, tindakan tersebut tak semata-mata dapat dibaca sebagai luapan kesedihan. Ada pencarian yang lebih dalam: keinginan memahami apa yang ada dalam pikiran manusia ketika melakukan kekerasan terhadap manusia lain.

    Dendam dengan demikian berubah menjadi perjalanan eksistensial.

    Pertanyaan yang muncul bukan hanya “siapa yang harus dibalas?”, tetapi juga “untuk apa kekerasan dilakukan?” dan “apakah seseorang akan menemukan makna setelah melakukan pembalasan?”

    Dewi melihat pengalaman tokoh tersebut sebagai perjalanan yang justru memperlihatkan betapa sulitnya manusia menemukan jawaban ketika kekerasan telah menjadi bagian dari hidupnya.

    Sejarah yang Tak Hitam-Putih

    Dari wilayah eksistensial, pembicaraan bergerak ke sejarah.

    Ronny Agustinus menyoroti kenyataan bahwa sejarah dekolonisasi Indonesia memiliki lebih banyak suara daripada yang sering tampil dalam narasi sederhana.

    Pengalaman masyarakat pada masa revolusi tak seragam. Ada yang mendukung Republik, ada yang berpihak kepada Belanda, ada yang menjadi korban, dan ada pula yang mengambil keputusan berdasarkan nasionalisme, kepentingan pribadi, trauma, ataupun dendam.

    Karena itu, sejarah tak selalu dapat ditempatkan dalam pola hitam dan putih.

    Ronny juga mengingatkan bahwa pilihan istilah dalam sejarah memiliki konsekuensi terhadap cara pembaca memahami sebuah peristiwa. Istilah “Agresi Militer” yang lazim digunakan di Indonesia memiliki konteks berbeda dengan politionele acties atau “aksi kepolisian” yang pernah digunakan dalam historiografi Belanda.

    Perbedaan istilah tersebut memperlihatkan bahwa satu peristiwa dapat memiliki bingkai yang berbeda ketika diceritakan dari sudut pandang yang berbeda.

    Di sinilah sastra memiliki kemungkinan untuk menghadirkan pengalaman individual yang tak selalu terlihat dalam narasi sejarah makro.

    Ketika Algoritma Membentuk Cara Kita Melihat Dunia

    Menariknya, diskusi kemudian bergerak dari sejarah masa lalu menuju persoalan manusia di era digital.

    Dewi Anggraeni melihat kecenderungan manusia berpikir secara biner sebagai sesuatu yang alamiah. Ketika berhadapan dengan informasi yang terlalu banyak, manusia cenderung menyederhanakannya menjadi dua pilihan: benar atau salah, setuju atau tak setuju, kawan atau lawan.

    Media sosial dapat memperkuat kecenderungan tersebut.

    Algoritma akan menghadirkan semakin banyak konten yang sesuai dengan pola interaksi pengguna. Akibatnya, seseorang dapat merasa bahwa pandangannya merupakan pandangan mayoritas karena hampir setiap hari dia melihat orang-orang yang berpikir serupa.

    Padahal, ruang digital yang tampil di hadapannya telah melalui proses penyaringan.

    Dewi menyebut keadaan tersebut sebagai situasi ketika “jempol lebih cepat daripada otak.”

    Respons spontan dapat muncul sebelum seseorang memberikan waktu kepada dirinya untuk memahami persoalan.

    Menurutnya, permenungan tetap diperlukan. Tak setuju terhadap sesuatu bukan persoalan. Yang penting adalah memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berpikir sebelum bereaksi.

    Terbuka terhadap Informasi, Tegas dalam Sikap

    Ronny kemudian menambahkan satu hal penting: keterbukaan terhadap berbagai perspektif tak berarti manusia harus kehilangan keberpihakan.

    Setelah mendapatkan informasi yang luas dan tak sepihak, seseorang tetap perlu menentukan sikap. Terutama dalam persoalan keadilan, keputusan untuk berpihak tak selalu dapat dihindari.

    Dengan demikian, permenungan bukan berarti seseorang harus menjadi netral selamanya.

    Yang diperlukan adalah proses: mendengar, memahami, mempertimbangkan, kemudian menentukan sikap.

    Gagasan tersebut kembali mengingatkan pada perjalanan Winarta. Tokoh dalam novel mengambil keputusan berdasarkan keyakinannya sendiri, tetapi setiap keputusan membawa konsekuensi. Ketika kekerasan dipilih sebagai jalan, batas antara korban dan pelaku dapat menjadi semakin kabur.

    Sastra Mengembalikan Manusia ke Tengah Perang

    Pembicaraan tentang Winarta kemudian menemukan relevansinya dengan situasi dunia saat ini.

    Ronny menyinggung bagaimana perang dapat bersinggungan dengan kepentingan politik dan ekonomi. Dalam kondisi semacam itu, upaya menuju perdamaian menghadapi persoalan yang kompleks.

    Sastra memang tak memiliki kekuatan langsung untuk menghentikan perang.

    Namun, sastra dapat melakukan sesuatu yang tak kalah penting: mengingatkan bahwa perang selalu menyangkut manusia.

    Di balik istilah politik terdapat keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Di balik strategi militer terdapat tubuh manusia. Di balik kemenangan terdapat korban. Dan di balik dendam terdapat manusia yang sedang berusaha memahami luka yang dialaminya.

    Dalam perspektif tersebut, Winarta menjadi lebih dari sekadar novel berlatar revolusi. Ia menjadi ruang untuk mempertanyakan bagaimana manusia bereaksi ketika sejarah memaksanya berhadapan dengan kehilangan dan kekerasan.

    Diskusi “Revolusi dan Dendam” akhirnya mempertemukan tiga wilayah yang saling berkaitan: sejarah, sastra, dan kemanusiaan.

    Sejarah membantu manusia mengingat apa yang terjadi. Sastra memberi ruang untuk merasakan pengalaman manusia di balik peristiwa. Sementara permenungan memberi kesempatan agar manusia tak tergesa-gesa menghakimi.

    Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, mungkin justru kemampuan untuk berhenti sejenak dan membaca manusia lain secara utuh menjadi salah satu bentuk penting dari upaya menangkal kekerasan.

    Kegiatan: Diskusi Novel WINARTA, “Revolusi dan Dendam”
    Penulis: Basuki Gunawan
    Pembicara: Dewi Anggraeni & Ronny Agustinus
    Moderator: Nunung Noor El Niel
    Penyelenggara: Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) bekerja sama dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta
    Dukungan: Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Program Penguatan Komunitas Sastra 2026
    Tempat: Ruang Akademi Jakarta/Selasar Akademi Jakarta, Lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki
    Waktu: Sabtu, 26 September 2026, pukul 16.00–17.30 WIB

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: Medan, 28 Agustus 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture