Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • BAGAIMANA KITA MENGETAHUI PONSEL KITA DISADAP?

    04 Nov 2026 | Dilihat: 8 kali

    oleh: Riri Satria

    Beberapa hari yang lalu, perhatian publik tertuju pada kabar mengenai seorang mantan Kapolri yang ditahan karena dugaan penyadapan terhadap ponsel Presiden Prabowo Subianto. Peristiwa tersebut tentu menarik untuk dibicarakan dari berbagai sudut pandang. Namun, kali ini saya tidak ingin membahas peristiwa itu.

    Justru, beberapa pertanyaan yang masuk kepada saya terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, bagaimana kita mengetahui bahwa ponsel kita sedang disadap oleh orang lain? Pertanyaan ini menarik, karena ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi. Di dalamnya tersimpan percakapan pribadi, foto keluarga, dokumen pekerjaan, akses perbankan, hingga berbagai informasi penting lainnya.

    Ada beberapa tanda yang dapat kita perhatikan dengan cepat ketika mencurigai ponsel sedang disadap. Misalnya, baterai tiba-tiba menjadi sangat boros, ponsel terasa panas meskipun tidak sedang digunakan, atau penggunaan kuota internet meningkat secara tidak wajar. Kita juga perlu waspada jika muncul aplikasi yang tidak pernah kita pasang, kamera atau mikrofon aktif tanpa alasan yang jelas, serta terdapat pesan atau panggilan keluar yang tidak pernah kita lakukan.

    Tanda lainnya adalah munculnya pemberitahuan bahwa akun kita diakses dari perangkat yang tidak dikenal, atau adanya perubahan pengaturan keamanan yang tidak pernah kita lakukan.

    Namun, perlu dipahami bahwa tanda-tanda tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya penyadapan. Baterai yang cepat habis, misalnya, bisa disebabkan oleh aplikasi yang berjalan di latar belakang atau kondisi baterai yang sudah menurun. Ponsel yang terasa panas juga bisa terjadi karena penggunaan aplikasi berat. Demikian pula, peningkatan penggunaan data internet belum tentu disebabkan oleh aktivitas penyadapan.

    Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut sebaiknya menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, bukan langsung menyimpulkan bahwa ponsel kita telah disadap.

    Ada beberapa pemeriksaan sederhana yang dapat kita lakukan. Pertama, periksa daftar aplikasi yang terpasang dan hapus aplikasi yang benar-benar tidak dikenal. Kedua, periksa izin akses kamera, mikrofon, lokasi, dan pesan. Ketiga, periksa daftar perangkat yang terhubung dengan akun WhatsApp, Google, atau Apple kita. Jika terdapat perangkat yang tidak dikenal, segera keluarkan perangkat tersebut. Keempat, periksa penggunaan baterai dan data internet untuk melihat apakah ada aplikasi yang menggunakan sumber daya secara tidak wajar. Pemeriksaan ini dapat dilakukan langsung melalui pengaturan ponsel.

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keamanan akun. Terkadang, yang sebenarnya terjadi bukanlah penyadapan terhadap perangkat, melainkan pengambilalihan akun. Seseorang mungkin berhasil memperoleh kata sandi kita melalui tautan palsu, kemudian masuk ke akun WhatsApp, surat elektronik, atau media sosial dari perangkat lain.

    Dalam situasi seperti ini, pelaku tidak harus menguasai ponsel kita secara fisik untuk membaca percakapan atau menggunakan identitas digital kita. Karena itu, jangan pernah memberikan kode verifikasi kepada orang lain, sekalipun orang tersebut mengaku sebagai petugas layanan resmi. Gunakan autentikasi dua faktor dan kata sandi yang kuat serta berbeda untuk setiap akun penting.

    Jika kita mencurigai adanya penyadapan, langkah pertama adalah tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Periksa aplikasi, izin akses, penggunaan baterai dan data, serta aktivitas akun yang terhubung dengan ponsel. Pastikan sistem operasi dan aplikasi diperbarui melalui sumber resmi. Jika ditemukan aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan akun penting, segera ganti kata sandi menggunakan perangkat lain yang aman.

    Apabila kecurigaan cukup kuat, mintalah bantuan tenaga keamanan digital yang tepercaya. Jangan langsung menghapus seluruh isi ponsel apabila terdapat dugaan tindak kejahatan, karena data yang ada mungkin diperlukan sebagai bukti.

    Pada akhirnya, keamanan ponsel bukan hanya persoalan teknologi, melainkan juga persoalan kebiasaan dan kesadaran. Kita sering merasa aman karena tidak pernah kehilangan ponsel atau karena perangkat kita dilengkapi dengan berbagai fitur keamanan. Padahal, ancaman digital tidak selalu datang melalui perangkat yang hilang atau sistem yang berhasil ditembus.

    Terkadang, ancaman itu justru berawal dari satu tautan yang kita klik, satu kode verifikasi yang kita berikan, atau satu aplikasi yang kita pasang tanpa memeriksa asal-usulnya.

    Kita tidak harus menjadi ahli teknologi untuk melindungi diri, tetapi kita perlu memahami cara kerja perangkat yang setiap hari kita gunakan. Sebab, di dunia digital, menjaga keamanan bukan hanya tentang melindungi sebuah ponsel, melainkan juga menjaga privasi, kepercayaan, dan kehidupan kita sendiri.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Hari ini pas Hari Pelindo 1 Oktober, Paltform Digital Adhara resmi dipergunakan

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture