Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Bayangkan suatu pagi seseorang membuka WhatsApp di ponselnya, tetapi mendapati akunnya telah keluar dengan sendirinya. Ia mencoba masuk kembali, tetapi ternyata nomor teleponnya sedang digunakan pada perangkat lain. Sementara itu, teman-teman dan keluarganya mulai menerima pesan yang tidak pernah ia kirimkan. Ada yang dimintai uang, ada yang dimintai kode verifikasi, dan ada pula yang menerima cerita seolah-olah pemilik akun sedang mengalami kesulitan.
Situasi seperti ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan salah satu bentuk kejahatan siber yang dapat menimpa siapa saja. Akun WhatsApp dapat diambil alih tanpa sepengetahuan pemilik aslinya melalui berbagai cara, mulai dari penipuan kode verifikasi, penyalahgunaan fitur perangkat tertaut, hingga pengambilalihan nomor telepon melalui teknik SIM swap.
Pelaku tidak selalu harus membobol sistem keamanan WhatsApp, dengan memanfaatkan kelengahan manusia, kepercayaan, dan ketidaktahuan terhadap cara kerja teknologi, seseorang dapat kehilangan kendali atas akun digitalnya sendiri.
Salah satu cara yang paling sering digunakan adalah dengan meminta korban memberikan kode verifikasi yang dikirimkan melalui SMS atau panggilan telepon. Pelaku dapat menyamar sebagai petugas WhatsApp, teman, atau seseorang yang mengaku salah mengirimkan kode. Jika korban memberikan kode tersebut, pelaku dapat mendaftarkan akun pada perangkatnya sendiri dan menyebabkan WhatsApp pada perangkat korban terkeluar.
Ada pula modus lain, yaitu menautkan akun ke perangkat yang tidak dikenal atau mengambil alih nomor telepon korban melalui manipulasi terhadap operator seluler. Hal ini memperlihatkan bahwa keamanan digital tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga dengan perilaku manusia.
Rasa percaya yang berlebihan, keinginan membantu orang lain, atau kepanikan ketika menerima pesan tertentu dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan. Salah satu prinsip paling mendasar dalam menjaga keamanan akun adalah tidak pernah memberikan kode verifikasi maupun PIN verifikasi dua langkah kepada siapa pun. Kode tersebut merupakan kunci untuk mengakses akun, bukan sekadar angka biasa yang dapat dibagikan kepada orang lain.
Apabila akun WhatsApp terlanjur diambil alih, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencoba mendaftarkan kembali nomor telepon pada perangkat sendiri melalui proses verifikasi resmi. Jika berhasil, perangkat pelaku akan keluar dari akun tersebut. Setelah itu, pemilik akun perlu mengaktifkan verifikasi dua langkah, memeriksa perangkat tertaut, dan mengeluarkan perangkat yang tidak dikenal.
Jika nomor telepon juga tidak dapat digunakan, segera hubungi operator seluler untuk memastikan bahwa kartu SIM tidak sedang dikuasai pihak lain. Jangan lupa memberi tahu keluarga, teman, dan rekan kerja bahwa akun sempat diambil alih agar mereka tidak menjadi korban penipuan berikutnya.
Namun apabila pelaku telah mengaktifkan PIN verifikasi dua langkah yang tidak diketahui pemilik asli, proses pemulihan dapat memerlukan waktu. Dalam situasi seperti ini, penting untuk mengikuti prosedur pemulihan resmi WhatsApp dan tidak mudah percaya kepada pihak yang menjanjikan dapat mengembalikan akun secara instan dengan meminta sejumlah uang. Keamanan digital menuntut kita untuk bertindak cepat, tetapi tetap tenang dan tidak mengambil keputusan secara terburu-buru.
Peristiwa pengambilalihan akun WhatsApp mengingatkan kita bahwa identitas digital merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Akun yang selama ini digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan rekan kerja dapat berubah menjadi sarana penipuan apabila jatuh ke tangan yang salah. Kita tidak perlu menjadi ahli teknologi untuk melindungi diri dari kejahatan siber, tetapi kita perlu memiliki kesadaran dan kebiasaan digital yang baik.
Mengaktifkan verifikasi dua langkah, menjaga kerahasiaan kode verifikasi, menggunakan kata sandi yang kuat pada perangkat, serta memeriksa perangkat tertaut secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan perlindungan berarti. Lebih dari itu, kita perlu memahami bahwa keamanan digital bukan hanya persoalan melindungi diri sendiri, melainkan juga melindungi orang-orang yang terhubung dengan kita.
Ketika sebuah akun diambil alih, yang terancam bukan hanya pemiliknya, tetapi juga seluruh jaringan kepercayaan yang selama ini dibangun melalui komunikasi digital.
Banyak kasus pengambilalihan akun WhatsApp bukan terutama terjadi karena pelaku berhasil membobol sistem keamanan WhatsApp, melainkan karena pemilik akun tanpa sadar memberikan jalan masuk, misalnya membagikan kode verifikasi, mengikuti instruksi penipu, atau kurang memahami cara kerja verifikasi akun.
Jadi yang sering dimanfaatkan pelaku bukan kelemahan teknologinya, melainkan kelengahan dan ketidaktahuan penggunanya. Meski begitu, tidak semua kasus demikian; ada pula risiko yang berasal dari perangkat atau metode serangan lain.
Waspadalah, berhati-hatilah! Jangan mudah percaya pada pesan, tautan, atau permintaan kode verifikasi yang mencurigakan. Lindungi akun WhatsApp Anda. Jangan sampai kelalaian kecil membuat Anda menjadi korban berikutnya.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]