Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENJAGA KEJERNIHAN PIKIRAN DI TENGAH BELANTARA INTERNET

    28 Oct 2026 | Dilihat: 16 kali

    oleh: Riri Satria

    Internet ibarat gudang jagat raya yang nyaris tanpa batas. Di dalamnya tersimpan segala macam hal, mulai dari ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, karya seni, dan inspirasi kehidupan hingga kebohongan, kebencian, penipuan, hoaks, dan berbagai kemudaratan. Ibadah ada, maksiat pun ada. Kebaikan hadir berdampingan dengan keburukan.

    Internet memberikan kesempatan kepada manusia untuk belajar, bertumbuh, dan memperluas cakrawala pemikiran, tetapi pada saat yang sama juga membuka pintu bagi manipulasi dan penyesatan.

    Kini dengan perkembangan kecerdasan buatan, foto, video, bahkan suara seseorang dapat direkayasa melalui teknologi deepfake sehingga sesuatu yang tidak pernah terjadi bisa tampak seolah-olah nyata. Kita hidup dalam zaman ketika mata dan telinga saja tidak lagi cukup untuk memastikan kebenaran. Informasi datang begitu deras, sementara kemampuan manusia untuk memeriksa dan memahami semuanya tetap memiliki keterbatasan.

    Lantas bagaimana kita menjaga kejernihan pikiran agar tidak termakan, apalagi tergulung oleh arus negatif internet? Menurut saya, semuanya harus dimulai dari kebiasaan untuk tidak langsung percaya. Ketika menerima informasi yang mengejutkan, memancing kemarahan, menimbulkan ketakutan, atau terasa sangat sesuai dengan keyakinan kita, berhentilah sejenak dan ajukan pertanyaan. Siapa sumbernya? Apa buktinya? Adakah konteks yang dihilangkan? Bisakah informasi tersebut dikonfirmasi melalui sumber lain yang tepercaya?

    Jangan sampai kecepatan jari kita membagikan informasi melampaui kecepatan pikiran kita memeriksa kebenarannya. Informasi yang viral belum tentu benar, sebagaimana sesuatu yang disampaikan dengan penuh keyakinan belum tentu memiliki dasar yang kuat. Dalam situasi seperti ini, berpikir kritis bukan berarti mencurigai segala sesuatu, melainkan membiasakan diri untuk menempatkan kepercayaan secara proporsional berdasarkan bukti dan penalaran yang masuk akal.

    Kita juga perlu menyadari bahwa internet bukan ruang yang sepenuhnya netral dalam membentuk kebiasaan berpikir. Algoritma platform digital dapat terus menyajikan konten yang sesuai dengan ketertarikan, emosi, dan perilaku kita. Tanpa disadari, kita bisa terperangkap dalam lingkungan informasi yang hanya mengulang pandangan sendiri, memperkuat prasangka, bahkan memelihara kebencian terhadap pihak lain. Karena itu, kita perlu memilih apa yang dibaca, ditonton, dan diikuti secara sadar.

    Jangan hanya mencari informasi yang membenarkan pendapat kita, tetapi berikan ruang bagi perspektif berbeda dan bukti yang mungkin mengoreksi pemahaman kita. Kita pun harus berani mengatakan bahwa kita belum tahu atau mungkin keliru. Tidak semua yang tersedia perlu dikonsumsi, tidak semua yang kita temukan perlu dipercaya, dan tidak semua yang kita ketahui perlu disebarluaskan. Kemampuan mengendalikan perhatian dan emosi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan mengakses teknologi.

    Tantangan terbesar di era digital bukanlah sekadar bagaimana mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana mempertahankan kebijaksanaan di tengah kelimpahannya. Internet dapat memperluas pengetahuan, tetapi tidak otomatis menjadikan kita lebih bijaksana. Kecerdasan buatan dapat membantu menganalisis informasi, tetapi tanggung jawab untuk memeriksa, menilai, dan mengambil keputusan tetap berada pada manusia.

    Kita mungkin tidak mampu membersihkan seluruh internet dari sampah informasi, tetapi kita masih dapat menjaga kebersihan pikiran sendiri. Kita mungkin tidak dapat mengendalikan segala sesuatu yang muncul di layar, tetapi kita dapat menentukan apa yang layak dipercaya dan bagaimana kita bertindak setelah menerimanya.

    Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, kejernihan berpikir adalah bentuk ketahanan diri, kemampuan memverifikasi adalah bentuk perlindungan, dan kebijaksanaan adalah kompas yang menjaga kita agar tidak tersesat. Sebab, ketika segala sesuatu dapat terlihat meyakinkan, kemampuan membedakan kebenaran dari kepalsuan menjadi salah satu kecakapan paling mendasar untuk tetap menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Hari ini pas Hari Pelindo 1 Oktober, Paltform Digital Adhara resmi dipergunakan

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture