Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MEMBACA TIDAK BISA DIGANTIKAN OLEH MENONTON

    27 Oct 2026 | Dilihat: 25 kali

    oleh: Riri Satria

    Kita hidup pada zaman ketika informasi datang tanpa henti melalui layar ponsel. Dalam beberapa menit, kita dapat menonton puluhan video pendek, membaca potongan berita, atau menyimak berbagai penjelasan tentang dunia. Semuanya terasa cepat, praktis, dan mudah dipahami.

    Namun ada pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah banyaknya informasi yang kita lihat sebanding dengan kedalaman pengetahuan yang kita miliki?

    Menonton memang dapat membuka wawasan, memperlihatkan peristiwa, dan membantu kita memahami sesuatu secara visual. Akan tetapi, menerima informasi tidak selalu berarti memahami maknanya. Ada perbedaan antara mengetahui sesuatu karena pernah melihatnya dan sungguh-sungguh memahaminya melalui proses berpikir yang mendalam.

    Secara ilmiah, membaca melibatkan serangkaian proses kognitif yang kompleks. Otak tidak sekadar mengenali kata-kata, tetapi juga berdialog dengan teks yang sedang dibaca. Kita menghubungkan kalimat dengan pengetahuan sebelumnya, mengajukan pertanyaan dalam pikiran, menafsirkan makna, menarik kesimpulan, dan menguji apakah pemahaman kita sudah tepat.

    Proses ini tidak selalu berlangsung satu arah. Ketika menemukan kalimat yang sulit dipahami, kita mungkin kembali ke paragraf sebelumnya, membaca ulang sebuah ungkapan, atau menelusuri kembali gagasan yang telah lewat. Kita bergerak maju, mundur, lalu maju lagi, sampai berbagai potongan informasi membentuk pemahaman yang lebih utuh.

    Di sinilah membaca menjadi aktivitas intelektual yang istimewa: bukan sekadar menerima apa yang disampaikan penulis, melainkan membangun makna melalui dialog yang terus berlangsung antara teks dan pikiran pembaca.

    Video pendek dan reels memiliki karakter yang berbeda. Pergantian gambar yang cepat, suara yang menarik, serta informasi yang dikemas secara ringkas membuat kita mudah berpindah dari satu konten ke konten berikutnya. Tayangan memang dapat membantu kita belajar, bahkan menggugah pikiran dan perasaan.

    Namun ketika kebiasaan menonton membuat kita terus mengejar informasi berikutnya, kesempatan untuk berhenti, mempertanyakan, dan mengolah informasi sebelumnya dapat semakin berkurang. Kita mungkin merasa telah mengetahui banyak hal, padahal belum tentu mampu menjelaskan kembali apa yang ditonton atau menghubungkannya dengan persoalan yang lebih luas.

    Tentu saja, video dapat dijeda dan diputar ulang. Akan tetapi, dalam membaca, teks selalu terbentang sebagai ruang yang dapat kita telusuri kembali secara langsung, dari satu kata hingga keseluruhan gagasan. Kita tidak hanya mengikuti alur yang disajikan, tetapi juga menentukan sendiri ke mana pikiran akan bergerak dan bagian mana yang perlu direnungkan lebih lama.

    Membaca dan menonton tidak perlu dipertentangkan, tetapi keduanya juga tidak selalu dapat saling menggantikan. Menonton dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sesuatu, sedangkan membaca memberi ruang untuk menyelami gagasan, menelusuri argumentasi, dan membangun pemahaman secara lebih mendalam. Membaca mengajarkan kita untuk bersabar menghadapi pemikiran yang tidak sederhana, terbuka terhadap berbagai perspektif, serta berani mempertanyakan apa yang kita anggap benar.

    Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk berhenti sejenak, membaca dengan saksama, dan berdialog dengan gagasan menjadi semakin berharga. Sebab masyarakat yang dibanjiri informasi belum tentu menjadi masyarakat yang kaya pengetahuan. Pengetahuan membutuhkan perhatian, pengolahan, dan refleksi.

    Ketika membaca kita tidak hanya berdialog dengan tulisan orang lain, tetapi juga berdialog dengan pikiran kita sendiri. Dalam dialog itulah, pemahaman tumbuh, pengetahuan berkembang, serta cakrawala berpikir semakin terbuka. 👍 😎 🥰 🇮🇩

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Hari ini pas Hari Pelindo 1 Oktober, Paltform Digital Adhara resmi dipergunakan

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture