Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • SCIENCE AND POETRY: KETIKA NALAR BERTEMU NURANI

    29 Oct 2026 | Dilihat: 15 kali

    oleh Riri Satria

    Apakah ada hubungan antara sains dan puisi? Pertanyaan ini mengemuka dalam buku Science and Poetry (2001) karya filsuf Inggris Mary Midgley. Dalam dunia akademik modern, sains dan puisi kerap ditempatkan pada dua kutub yang berbeda.

    Sains diasosiasikan dengan rasionalitas, objektivitas, pembuktian, dan penalaran logis, sedangkan puisi lebih sering dihubungkan dengan imajinasi, emosi, intuisi, dan kepekaan rasa. Pembagian disiplin ilmu yang semakin tegas membuat keduanya seolah-olah berjalan di jalur yang terpisah.

    Padahal, sebagaimana tersirat dalam pemikiran Midgley, manusia memiliki kebutuhan intelektual yang tidak seluruhnya dapat dipenuhi melalui penalaran ilmiah semata. Manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan untuk memahami dunia, tetapi juga membutuhkan pemaknaan untuk memahami kedudukannya di dalam dunia. Di sinilah sains dan puisi menemukan ruang perjumpaannya. Saya sepakat bahwa upaya memahami fenomena sekaligus membangun kesadaran manusia dapat ditempuh melalui dua jalan yang saling melengkapi: menggugah nalar melalui sains dan menggugah nurani melalui puisi.

    Sains membantu manusia menyingkap berbagai fenomena melalui observasi, pengumpulan bukti, pengujian hipotesis, dan scientific inquiry yang terbuka terhadap koreksi. Sains mengajarkan manusia untuk tidak begitu saja menerima suatu klaim, melainkan memeriksa dasar pemikirannya, menguji validitas bukti, dan mempertanggungjawabkan kesimpulannya.

    Namun pengetahuan tentang suatu fenomena tidak selalu dengan sendirinya melahirkan kesadaran tentang makna dan konsekuensinya. Manusia dapat memahami perubahan iklim melalui data ilmiah, misalnya, tetapi pemahaman tersebut belum tentu cukup untuk membangkitkan kepedulian terhadap kehidupan generasi mendatang. Manusia dapat mengetahui perkembangan kecerdasan buatan, tetapi pengetahuan tentang kemampuan teknologinya belum tentu membuat kita merenungkan persoalan etika, martabat manusia, dan tanggung jawab sosial yang menyertainya.

    Puisi hadir untuk membuka ruang pemaknaan itu. Melalui metafora, imajinasi, simbol, dan kekuatan bahasa, puisi membawa fenomena yang semula terasa jauh menjadi dekat dengan pengalaman manusia. Puisi tidak menggantikan fakta ilmiah, tetapi dapat membuat fakta tersebut terasa, direnungkan, dan dihubungkan dengan kehidupan.

    Dalam perspektif pemikiran kontemporer, termasuk sejumlah pendekatan pascamodern, batas-batas antara rasionalitas dan subjektivitas, fakta dan pemaknaan, serta pengetahuan dan pengalaman juga terus dipertanyakan. Hal ini bukan berarti standar pembuktian ilmiah harus dilebur dengan ekspresi puitis, melainkan bahwa pengalaman manusia dalam memahami dunia jauh lebih kaya daripada yang dapat dijelaskan oleh satu cara berpikir saja.

    Hubungan tersebut juga memperoleh tempat dalam komunikasi sains. Sebuah artikel di The Conversation pada 2022 berjudul “How Poetry Can Help Communicate Science to a More Diverse Audience” menjelaskan bahwa komunikasi sains tidak semata-mata bertujuan menyebarkan hasil penelitian kepada sebanyak mungkin orang. Komunikasi sains juga mencakup dialog, pertukaran pengalaman, dan partisipasi masyarakat dalam mengembangkan pemahaman serta mencari solusi atas berbagai persoalan. Pengetahuan ilmiah yang disampaikan melalui jurnal akademik sering kali sulit dijangkau oleh masyarakat di luar komunitas ilmuwan.

    Di sinilah puisi dapat berperan sebagai jembatan yang mempertemukan hasil penelitian dengan khalayak yang lebih luas. Puisi dapat membingkai kembali gagasan ilmiah melalui bahasa yang lebih akrab, imajinasi yang hidup, dan pengalaman yang dekat dengan keseharian. Berbagai inisiatif, seperti The Sciku Project dan Consilience, menunjukkan adanya upaya untuk mempertemukan ekspresi kreatif dengan pengetahuan ilmiah.

    Dalam konteks ini, puisi bukan sekadar alat untuk memperindah komunikasi sains. Puisi dapat membantu masyarakat membayangkan konsekuensi suatu fenomena, mengajukan pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan, dan membangun kepedulian terhadap persoalan bersama. Tentu saja, kebebasan artistik tetap perlu dibedakan dari ketepatan ilmiah. Puisi dapat menggugah kesadaran, tetapi klaim faktual yang disampaikannya tetap perlu memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, hubungan sains dan puisi tidak mengaburkan kebenaran, melainkan memperluas jalan manusia untuk mendekati, memahami, dan memaknai kenyataan.

    Ke depan, saya membayangkan sains dan puisi akan semakin sering berkolaborasi dalam proses penemuan (discovery), pemahaman, dan penyadaran manusia. Sains membawa ketelitian dalam membaca kenyataan, sedangkan puisi membawa kepekaan dalam merasakan dan memaknai kenyataan tersebut. Sains membantu kita menjawab bagaimana suatu fenomena terjadi dan mengapa hal itu dapat dijelaskan melalui bukti serta penalaran. Puisi mengajak kita merenungkan apa arti fenomena itu bagi kehidupan, bagaimana manusia seharusnya bersikap, dan nilai-nilai apa yang perlu dijaga ketika pengetahuan berkembang menjadi kekuatan yang mengubah dunia.

    Keduanya memang tidak identik dan tidak perlu dipaksa menjadi satu disiplin yang sama. Kekuatan masing-masing justru terletak pada perbedaan cara kerjanya. Namun, ketika keduanya dipertemukan, pemahaman manusia dapat menjadi lebih utuh: tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga peka dalam merasakan; tidak hanya mampu menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga bijaksana dalam menentukan apa yang sebaiknya dilakukan dengan penemuan tersebut.

    Kemajuan peradaban tidak cukup diukur dari seberapa jauh sains membawa manusia menguasai alam dan teknologi. Kemajuan juga perlu diukur dari seberapa dalam manusia mampu memahami dirinya sendiri, menghargai kehidupan, dan mempertanggungjawabkan pengetahuannya. Sains menggugah nalar, puisi menyentuh nurani. Ketika keduanya bertemu, pengetahuan berpeluang tumbuh menjadi kebijaksanaan.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Hari ini pas Hari Pelindo 1 Oktober, Paltform Digital Adhara resmi dipergunakan

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture