Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KETIKA UNIVERSITAS KEHILANGAN JIWANYA

    01 Nov 2026 | Dilihat: 8 kali

    oleh: Riri Satria

    Sebuah universitas dapat berdiri megah dengan gedung-gedung yang indah, perpustakaan yang lengkap, dan berbagai fasilitas pembelajaran modern. Di dalamnya, ribuan mahasiswa datang untuk menuntut ilmu, sementara para dosen dan peneliti sibuk menjalankan kegiatan akademik.

    Namun di balik kesibukan itu, ada pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah universitas masih menjadi tempat tumbuhnya kebebasan berpikir dan pencarian kebenaran, atau justru telah berubah menjadi institusi yang semakin sibuk mengurus angka, peringkat, dan target kinerja?

    Pertanyaan inilah yang mengemuka dalam buku "Dark Academia: How Universities Die" karya Peter Fleming, seorang akademisi yang mengkritisi perubahan dunia pendidikan tinggi akibat semakin kuatnya pengaruh logika bisnis dan neoliberalisme.

    Fleming menggambarkan bagaimana universitas perlahan-lahan kehilangan jati dirinya ketika pendidikan semakin diperlakukan sebagai komoditas, mahasiswa diposisikan sebagai konsumen, dan dosen dinilai berdasarkan produktivitas yang dapat diukur melalui berbagai indikator. Publikasi, sitasi, pendanaan penelitian, dan peringkat institusi menjadi ukuran yang semakin menentukan keberhasilan akademik.

    Padahal, kegiatan intelektual tidak selalu dapat diterjemahkan ke dalam angka. Ada pemikiran yang membutuhkan waktu panjang untuk berkembang, ada penelitian yang hasilnya tidak segera terlihat, dan ada proses pendidikan yang keberhasilannya baru terasa bertahun-tahun kemudian. Ketika segala sesuatu harus memenuhi target, universitas berisiko kehilangan ruang bagi perenungan, kebebasan akademik, dan keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap mapan.

    Kritik Fleming mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah universitas tidak semestinya hanya diukur dari keberhasilan administratif dan ekonominya. Universitas adalah komunitas intelektual yang mempertemukan manusia dengan pengetahuan, gagasan, dan berbagai kemungkinan pemikiran. Di dalamnya, mahasiswa seharusnya memiliki kebebasan untuk berbeda pendapat, dosen dapat mengembangkan pemikiran tanpa ketakutan, dan penelitian dijalankan bukan semata-mata untuk memenuhi target, melainkan untuk memperluas pemahaman manusia tentang dunia.

    Teknologi, manajemen, dan berbagai sistem pengukuran tentu diperlukan untuk mendukung kegiatan akademik. Namun, semuanya harus tetap menjadi sarana, bukan tujuan. Sebab, ketika manusia direduksi menjadi angka dan pengetahuan diperlakukan sebagai produk, universitas perlahan-lahan dapat kehilangan makna kemanusiaannya.

    Buku Dark Academia menjadi penting karena mengajak kita melihat kembali hakikat universitas di tengah perubahan zaman. Di Indonesia, ketika perguruan tinggi terus didorong untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, dan daya saing, refleksi semacam ini menjadi semakin relevan. Kita tentu membutuhkan universitas yang dikelola secara profesional, tetapi kita juga membutuhkan universitas yang berani menjaga kebebasan berpikir dan mengembangkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

    Universitas tidak cukup hanya berhasil menghasilkan lulusan, publikasi, dan berbagai capaian yang dapat dipamerkan. Universitas harus tetap menjadi tempat manusia belajar memahami kehidupan, mempertanyakan realitas, dan membangun masa depan. Sebab, universitas yang kehilangan semangat intelektualnya mungkin masih hidup secara administratif, tetapi sesungguhnya telah mulai kehilangan jiwanya.

    Menurut saya, kekuatan utama gagasan Fleming terletak pada pertanyaan yang diajukannya: apakah universitas masih menjadi tempat untuk mencari kebenaran dan mengembangkan pemikiran kritis, atau justru semakin sibuk memenuhi tuntutan pasar dan birokrasi?

    Pertanyaan itu relevan bagi universitas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kita membutuhkan tata kelola yang profesional, pengukuran kinerja yang masuk akal, dan pengelolaan sumber daya yang efisien. Namun, semua itu tidak boleh menghilangkan kebebasan akademik, kualitas pendidikan, dan tanggung jawab sosial universitas.

    Universitas yang baik bukanlah universitas yang bebas dari pengukuran, melainkan universitas yang tidak membiarkan angka menggantikan tujuan pendidikan itu sendiri.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Hari ini pas Hari Pelindo 1 Oktober, Paltform Digital Adhara resmi dipergunakan

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture