Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • POJOK TIM: Hujan Kepagian Menembus Mitos Heroisme

    26 Sep 2026 | Dilihat: 16 kali

    PojokTIM — Membedah ulang narasi sejarah tidak selalu berarti merayakan kemenangan atau mengagungkan mitos kepahlawanan. Dalam forum diskusi kebudayaan bertajuk Bertemu di Cikini hari kedua yang berlangsung di Aula Akademi Jakarta, Lantai 13 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (26/9/2026), narasi perang kemerdekaan Indonesia dikupas dari sudut pandang yang lebih intim dan manusiawi: luka, trauma, serta kerapuhan jiwa manusia di tengah kecamuk revolusi.

    Program yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan berkolaborasi dengan Jagat Sastra Milenia (JSM) dan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini menjadi wadah Penguatan Komunitas Sastra tahun 2026. Anggota Komite Sastra DKJ, Esha Tegar Putra, menyampaikan bahwa rangkaian diskusi ini dirancang untuk mengangkat karya-karya sastra—baik klasik maupun kontemporer—dengan fokus pada tema evolusi gagasan dan bentuk dalam sastra Indonesia.

    Dipandu oleh moderator Khairani Piliang dari Jagat Sastra Milenia, diskusi kali ini menghadirkan dua pembicara utama, Hamzah Muhammad dan Cindy Wijaya. Keduanya membedah secara mendalam kumpulan cerita pendek Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto, sebuah karya monumental terbitan Balai Pustaka tahun 1958 yang mendokumentasikan dinamika perang kemerdekaan dan agresi militer Belanda.

    Mitos Pahlawan

    Hamzah Muhammad mengawali pemaparannya dengan sorotan terhadap latar belakang empiris pengarang. Nugroho Notosusanto, atau yang akrab disapa Nobunobo, menuliskan keenam cerpen tersebut berdasarkan pengalamannya sendiri saat terjun langsung sebagai prajurit muda. Pengalaman menyaksikan kematian secara jarak dekat dalam tempo yang singkat melahirkan retakan psikologis atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

    “Sastra dalam Hujan Kepagian berfungsi sebagai media untuk merekam kekhususan kondisi mental pengarangnya. Ini adalah kesaksian empiris di batas tipis antara kehidupan dan kematian,” ujar Hamzah.

    Menurutnya, kekuatan utama Hujan Kepagian terletak pada keberaniannya melakukan dekomposisi terhadap mitos heroisme. Narasi besar sejarah formal kerap mengkotakkan pelaku sejarah ke dalam kategori biner yang kaku: pahlawan dan musuh. Namun, karya ini justru meruntuhkan kategorisasi tersebut dan mengembalikan sosok prajurit menjadi manusia utuh yang bisa merasa takut, lapar, sakit, kasmaran, bahkan bertindak nakal.

    Dalam diskusi yang dihadiri Pudjiastuti Hasjim, istri Nugroho Notosusanto, Cindy Wijaya memaparkan bagaimana sastra revolusi melakukan dekonstruksi terhadap konsep heroisme tradisional. Menurut Cindy, narasi Hujan Kepagian berhasil mengikis kontinuitas peristiwa sejarah yang agung dan menggantinya dengan memori personal yang sangat intim.

    “Bahasa besar kepahlawanan dan pengorbanan negara ternyata tidak cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya dilakukan perang terhadap jiwa manusia,” tegas Cindy.

    Cindy menyoroti tiga alih bahasa naratif penting dalam kumpulan cerpen tersebut. Pertama, Oposisi biner “kami vs mereka” (Indonesia vs Belanda) diluluhkan menjadi hubungan personal “dia dan aku”. Dalam salah satu cerita, seorang prajurit Indonesia dan tentara Belanda yang berhadapan justru disatukan oleh rasa takut yang sama dan dorongan manusiawi untuk menyelamatkan seorang bayi di tengah pertempuran.

    Kedua, perang merampas segalanya dari rakyat, termasuk tubuh dan kehormatan perempuan di garis depan. Narasi memperlihatkan kondisi tragis ketika korban kekerasan seksual terpaksa mengartikan penderitaannya sebagai bagian dari “pengorbanan”, memperlihatkan betapa destruktifnya perang terhadap tatanan psikologis manusia.

    Ketiga,kKeputusan personal, rasa rindu pada ibu, kenangan rumah, dan naluri kasih sayang sering kali memenangkan narasi ketimbang instruksi komando taktis militer.

    Warisan Persoalan

    Meminjam kerangka pemikiran sejarawan Reinhard Koselleck mengenai perubahan makna revolusi, baik Hamzah maupun Cindy sepakat bahwa revolusi tidak berhenti tatkala letusan senjata usai. Peristiwa sejarah bukan sekadar membeku menjadi pengetahuan masa lalu, melainkan mewarisi persoalan moral dan sosial yang belum tuntas kepada generasi berikutnya.

    Perang meninggalkan dua kemungkinan warisan bagi masyarakat pasca-revolusi: risiko terjadinya normalisasi kekerasan atau justru lahirnya kesadaran kritis untuk mempertanyakan kembali batas-batas kemanusiaan.

    Melalui pembacaan ulang atas Hujan Kepagian, diskusi di Forum Bertemu di Cikini ini berhasil menegaskan kembali fungsi penting sastra. Sastra tidak bertugas memoles sejarah menjadi tugu pahlawan yang kaku, melainkan mengaktifkan kembali persoalan-persoalan kemanusiaan agar generasi masa kini dapat menguji ulang makna kemerdekaan, kedamaian, dan keberadaban di masa depan.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: Medan, 28 Agustus 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture