Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Kontributor Rissa Churria
Jakarta, Hatipena // Revolusi dalam karya sastra tak selalu hadir melalui suara tembakan dan pertempuran. Ia juga hidup di gang-gang kota, rumah-rumah warga, percakapan sehari-hari, ketakutan, pilihan moral, hingga perubahan wajah sebuah kota.
Perspektif tersebut mengemuka dalam diskusi “Revolusi dan Kota”, yang membahas novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis dan adaptasinya ke layar lebar melalui film Perang Kota. Diskusi berlangsung di Ruang Akademi Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan diselenggarakan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) bekerja sama dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026. Diskusi menghadirkan sutradara Mouly Surya dan kritikus film Hikmat Darmawan, dengan moderator Riri Satria.
Jakarta dalam Ingatan Revolusi
Dalam pembahasannya, Hikmat Darmawan mengajak peserta melihat Jakarta bukan sekadar latar tempat berlangsungnya cerita. Kota mengalami perubahan sosial dan demografis yang turut membentuk pengalaman tokoh-tokohnya.
Pergerakan penduduk, tumbuhnya kampung kota, perubahan ruang hidup, serta aktivitas masyarakat di tengah situasi revolusi menjadikan Jakarta sebagai ruang yang terus bergerak.
Karena itu, ketika tokoh-tokoh dalam Jalan Tak Ada Ujung berpindah dari satu ruang ke ruang lain, membuat propaganda, berhadapan dengan kekerasan, atau menjalani kehidupan sehari-hari, yang bergerak bukan hanya manusia, tetapi juga kotanya.
Revolusi akhirnya dapat dibaca sebagai pengalaman urban. Perang tidak semata berlangsung di medan pertempuran, tetapi merembes ke kehidupan masyarakat.
Dari Novel ke Bahasa Sinema
Mouly Surya mengungkapkan bahwa mengadaptasi Jalan Tak Ada Ujung bukan pekerjaan memindahkan seluruh isi novel ke layar.
Menurutnya, novel dan film memiliki cara kerja yang berbeda. Novel memungkinkan pembaca masuk ke dalam pikiran tokoh melalui narasi batin, sementara film harus menemukan bahasa visual untuk menghadirkan pengalaman tersebut.
Karena itu, proses penulisan skenario mengalami berbagai perubahan. Karakter, struktur cerita, bahkan cara menyampaikan konflik mengalami penyesuaian agar dapat berdiri sebagai karya sinema.
Perubahan tersebut juga tampak dari judul. Jika karya Mochtar Lubis berjudul Jalan Tak Ada Ujung, film Mouly Surya menggunakan judul Perang Kota.
Perubahan itu sekaligus menunjukkan adanya ruang kreatif dalam proses adaptasi.
Guru Isa dan Ketakutan Manusia
Salah satu pembahasan menarik dalam diskusi adalah karakter Guru Isa.
Hikmat Darmawan melihat Guru Isa bukan sekadar sosok pengecut. Di dalam dirinya terdapat pertarungan antara rasa takut, keinginan untuk bertahan hidup, dan tuntutan untuk mengambil sikap dalam situasi revolusi.
Ketakutan menjadi bagian penting dari pengalaman manusia ketika berhadapan dengan kekerasan.
Mouly Surya kemudian menerjemahkan pergulatan batin tersebut melalui bahasa film. Bahkan, ia mengembangkan sejumlah aspek karakter Guru Isa untuk membangun metafora tentang seseorang yang hidup dalam situasi ketika kemerdekaan politik belum serta-merta menghadirkan kemerdekaan manusia secara utuh.
Fatimah dan Ruang yang Diperluas
Adaptasi juga membuka ruang untuk melihat karakter perempuan secara lebih luas.
Mouly Surya mengungkapkan bahwa karakter Fatimah menjadi salah satu bagian yang ingin ia kembangkan. Jika dalam novel ruang geraknya relatif terbatas, film memberikan kesempatan untuk mempertanyakan siapa Fatimah, apa yang dia inginkan, serta bagaimana posisi perempuan dalam situasi sosial pada masa tersebut.
Dengan demikian, adaptasi bukan hanya persoalan mengubah cerita menjadi gambar bergerak, tetapi juga membuka kemungkinan pembacaan baru terhadap karakter dan zamannya.
Membaca Ideologi di Balik Cerita
Hikmat Darmawan juga mengingatkan bahwa pembaca tidak perlu buru-buru memberikan penilaian baik atau buruk terhadap sebuah karya hanya karena karya tersebut membawa gagasan atau ideologi tertentu.
Yang penting, menurutnya, pembaca mampu melihat dari posisi mana seorang pengarang berbicara.
Pertanyaan seperti “Dalam posisi apa pengarang menulis?” menjadi penting agar pembaca tak hanya menikmati cerita, tetapi juga memahami gagasan yang bekerja di baliknya.
Dengan cara tersebut, membaca menjadi aktivitas yang lebih aktif. Pembaca tidak sekadar mengikuti alur, melainkan turut membongkar cara pandang, pilihan artistik, dan gagasan yang ditawarkan sebuah karya.
Sastra dan Film sebagai Dua Pengalaman
Diskusi akhirnya memperlihatkan bahwa Jalan Tak Ada Ujung dan Perang Kota dapat dinikmati sebagai dua pengalaman artistik yang berbeda.
Novel memberikan ruang bagi pembaca untuk membangun imajinasinya sendiri, sementara film menawarkan pengalaman melalui gambar, suara, ruang, tubuh, penyuntingan, dan berbagai perangkat sinema.
Pertemuan keduanya justru membuka ruang dialog baru tentang sejarah, manusia, kota, dan ingatan.
Melalui kegiatan ini, JSM kembali menghadirkan sastra sebagai ruang perjumpaan berbagai disiplin. Bukan hanya membicarakan karya, tetapi juga mempertemukan sastra dengan film, sejarah, kritik, dan pengalaman sosial masyarakat.
Pada akhirnya, revolusi dalam Jalan Tak Ada Ujung dan Perang Kota bukan hanya tentang masa lalu. Ia menjadi pintu untuk bertanya kembali tentang manusia, kota, ketakutan, kebebasan, dan bagaimana sebuah bangsa memahami dirinya melalui cerita. (*)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]