Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • ERNESTO SÁBATO: KETIKA SEORANG ILMUWAN MENCARI MANUSIA DI DALAM SASTRA

    01 Sep 2026 | Dilihat: 10 kali

    oleh : Riri Satria

    Ada nama yang belakangan ini menarik perhatian saya: Ernesto Sábato. Ia bukan sekadar sastrawan Argentina, melainkan seseorang yang perjalanan hidupnya terasa seperti sebuah perjalanan panjang dari dunia rasional menuju wilayah manusia yang jauh lebih misterius.

    Ia seorang fisikawan yang pernah menekuni dunia sains, bahkan pernah bekerja di Institut Curie di Paris. Namun kemudian ia meninggalkan dunia fisika dan memilih sastra.

    Bagi saya, keputusan itu menarik bukan karena ia berpindah profesi, melainkan karena di balik perpindahan tersebut tampaknya ada sebuah kegelisahan bahwa ilmu pengetahuan, betapapun hebatnya, ternyata tidak selalu mampu menjawab pertanyaan paling mendasar tentang manusia yaitu tentang kesepian, cinta, kematian, kegelisahan, kebebasan, dan makna kehidupan.

    Ketika membaca perjalanan Sábato, saya seperti sedang melihat sebuah cermin. Tentu saja saya tidak sedang menyamakan diri dengan seorang Ernesto Sábato. Tetapi ada persinggungan yang membuat saya merenung.

    Saya sendiri datang dari dunia teknologi dan ilmu komputer. Pendidikan dan perjalanan profesional saya bertahun-tahun berada di sekitar komputer, sistem informasi, transformasi digital, strategi, dan belakangan kecerdasan buatan.

    Namun pada saat yang sama, sastra, puisi, dan dunia pemikiran manusia semakin mendapatkan ruang dalam perjalanan saya. Bahkan ketika saya berbicara tentang AI, saya sering kembali kepada pertanyaan yang sebenarnya sangat tua, untuk apa teknologi itu dibuat, dan pada akhirnya manusia macam apa yang ingin kita bangun?

    Mungkin inilah titik di mana saya merasa dekat dengan kegelisahan Sábato. Ia bergerak dari sains menuju sastra untuk mencari manusia, saya justru mencoba mempertemukan teknologi dengan sastra untuk memahami manusia dari dua sisi sekaligus.

    Sábato mengajarkan bahwa perjalanan intelektual manusia tidak selalu harus lurus. Kita sering menganggap karier sebagai sebuah garis, belajar sesuatu, menjadi ahli, lalu terus mendalami bidang tersebut sampai akhir. Padahal manusia bukan mesin yang harus berjalan mengikuti algoritma yang sudah ditentukan.

    Ada saat ketika pengetahuan yang kita miliki justru melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak bisa dijawab oleh bidang yang selama ini kita tekuni. Sábato mengalami titik itu. Ia tidak menganggap perpindahan dari fisika ke sastra sebagai kegagalan, tetapi sebagai pencarian.

     Mungkin di situlah pelajaran pentingnya, jangan takut berubah ketika perubahan itu lahir dari kegelisahan intelektual yang jujur. Sebab terkadang kita justru menemukan diri kita setelah berani keluar dari identitas yang selama ini melekat pada kita.

    Saya juga melihat pelajaran lain dari Sábato: semakin jauh manusia memasuki dunia pengetahuan, semakin penting baginya untuk kembali kepada kemanusiaan. Kita hidup pada zaman ketika AI mampu membaca jutaan dokumen, menghasilkan gambar, menulis puisi, membuat musik, menganalisis data, bahkan berdialog dengan manusia.

    Tetapi pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah mesin bisa melakukan semua itu. Pertanyaan yang jauh lebih penting justru adalah apa yang masih membuat manusia menjadi manusia?

    Di sinilah sastra menjadi penting. Algoritma dapat mengenali pola, tetapi apakah ia dapat merasakan kehilangan? Mesin dapat menghasilkan kalimat tentang cinta, tetapi apakah ia pernah mengalami patah hati? AI dapat menjelaskan kematian, tetapi manusia yang sadar akan kematiannyalah yang kemudian bertanya tentang makna hidup.

    Karena itu, perjalanan Ernesto Sábato bagi saya bukan sekadar kisah seorang fisikawan yang menjadi sastrawan. Ia adalah kisah tentang pencarian manusia di balik pengetahuan. Mungkin setiap orang yang telah melewati perjalanan hidup cukup panjang pada akhirnya akan sampai pada pertanyaan yang sama.

    Setelah mengejar karier, membangun berbagai hal, memperoleh pengalaman, membaca banyak buku, menguasai teknologi, bertemu begitu banyak manusia, dan melewati berbagai peristiwa, kita akhirnya bertanya, sebenarnya apa yang sedang saya cari? Mungkin jawabannya tidak selalu berupa jabatan, kekayaan, popularitas, atau pencapaian.

    Bisa jadi yang kita cari adalah pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.

    Karya-karya Ernesto Sábato memperlihatkan perjalanan seorang manusia yang bergerak dari dunia ilmu pengetahuan menuju kedalaman sastra dan perenungan tentang eksistensi.

    Ia menulis Uno y el Universo (1945), ketika mulai mempertanyakan keterbatasan ilmu pengetahuan dalam memahami manusia, kemudian El túnel (1948), yang membawa kita ke lorong kesepian, obsesi, dan keterasingan manusia, Sobre héroes y tumbas (1961), mahakaryanya yang mempertemukan cinta, sejarah, kegilaan, dan pencarian identitas, hingga Abaddón el exterminador (1974), yang semakin eksperimental dan gelap dalam mempertanyakan manusia serta peradaban.

    Dalam esai seperti El escritor y sus fantasmas, Sábato bahkan membedah hubungan antara pengarang, sastra, dan kegelisahan batin, sementara karya-karya reflektifnya pada usia tua, seperti Antes del fin dan La resistencia, menunjukkan seorang intelektual yang akhirnya kembali kepada pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit, di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban, bagaimana manusia tetap dapat menjadi manusia?

    Pada akhirnya, saya merasa Sábato mengingatkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang menjadi semakin pintar, tetapi tentang menjadi semakin manusia. Teknologi boleh semakin canggih, AI boleh semakin hebat, dan dunia boleh bergerak semakin cepat. Tetapi manusia tetap membutuhkan sastra, puisi, seni, perenungan, dan keheningan untuk memahami dirinya sendiri.

    Mungkin itulah sebabnya perjalanan Sábato terasa seperti sebuah cermin bagi saya, saya tidak sedang ingin meninggalkan dunia teknologi, tetapi saya semakin menyadari bahwa teknologi tanpa pemahaman tentang manusia bisa kehilangan arah.

    Pada fase kehidupan tertentu, kita memang tidak lagi terlalu sibuk bertanya “apa yang bisa saya capai?”, melainkan mulai bertanya lebih dalam: “apa yang sebenarnya ingin saya maknai dari seluruh perjalanan ini?”

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Recent Event: Medan, 28 Agustus 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture