Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh : Riri Satria
Hari ini, 31 Agustus, di sejumlah kalender internasional diperingati sebagai World Distance Learning Day atau Hari Pembelajaran Jarak Jauh Sedunia. Bagi saya, momentum ini memiliki makna yang sangat personal. Pembelajaran jarak jauh bukan sekadar topik yang pernah saya baca atau saya dengar, melainkan sesuatu yang telah hadir cukup panjang dalam perjalanan akademik dan profesional saya.
Bahkan jauh sebelum online learning, webinar, Zoom, dan AI menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, saya sudah bersentuhan dengan gagasan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membuat proses belajar tidak lagi dibatasi oleh ruang dan jarak.
Kalau ingatan saya tidak keliru, sejak sekitar dekade 1970-an atau 1980-an, Lembaga Manajemen PPM telah mengembangkan pembelajaran jarak jauh melalui model korespondensi. Pada masa itu tentu belum ada internet, email, learning management system, ataupun video conference. Materi pembelajaran dikirimkan secara tertulis melalui pos kepada peserta.
Mereka mempelajarinya di tempat masing-masing, mengerjakan tugas, kemudian mengirimkan kembali hasilnya melalui pos. Model yang sederhana secara teknologi tersebut ternyata mampu menjangkau orang-orang yang bekerja di remote area di berbagai wilayah Indonesia. Mereka tetap dapat belajar manajemen, meningkatkan kompetensi, dan mempersiapkan pengembangan karier tanpa harus meninggalkan pekerjaan dan tempat mereka bekerja.
Ketertarikan saya terhadap persoalan ini bahkan sudah muncul pada masa studi. Tesis S2 saya pada tahun 1997 dibimbing Pak Anugerah Pekerti, membahas tentang pembelajaran jarak jauh atau distance learning dengan memanfaatkan fasilitas internet. Pada masa itu, internet masih merupakan sesuatu yang relatif baru dan belum menjadi bagian dari kehidupan masyarakat seperti sekarang.
Hasil penelitian pada tesis ini saya presentasikan pada International Distance Learning Conference pada tahun 1999 di Surabaya.
Karena itu, yang saya pikirkan bukan sekadar bagaimana memindahkan materi pembelajaran ke internet, tetapi bagaimana merancang sebuah sistem yang mampu memadukan teknologi, metode pembelajaran, konten pembelajaran, serta kebutuhan peserta didik. Dengan kata lain, teknologi tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus dirancang sebagai bagian dari keseluruhan ekosistem pembelajaran.
Kalau dipikir dari perspektif sekarang, gagasan tersebut sesungguhnya sudah mengarah pada apa yang hari ini kita kenal sebagai digital learning ecosystem.
Kemudian perjalanan saya berlanjut ketika pada akhir 1990-an dan awal 2000-an saya bekerja di Lembaga Manajemen PPM. Di sana saya ikut serta dalam mengasuh pembelajaran jarak jauh kepada banyak peserta yang berada di berbagai remote area di Indonesia. Pengalaman tersebut memberikan perspektif yang berbeda. Saya tidak hanya membahas distance learning secara akademis, tetapi juga melihat bagaimana konsep tersebut dijalankan dalam praktik.
Ada peserta yang berada jauh dari pusat kota, jauh dari kampus, bahkan jauh dari berbagai fasilitas pendidikan konvensional, tetapi memiliki keinginan yang sama untuk belajar dan meningkatkan kompetensinya. Dari situ saya semakin memahami bahwa inti dari pembelajaran jarak jauh sebenarnya bukan semata-mata teknologi. Intinya adalah membuka akses terhadap pengetahuan bagi mereka yang secara geografis, waktu, atau kondisi pekerjaan tidak mudah menjangkau pendidikan konvensional.
Kalau kita melihat evolusinya sekarang, perjalanannya sungguh luar biasa. Dari modul yang dikirim melalui pos, kemudian berkembang ke komputer dan internet, e-learning, learning management system, kelas virtual, webinar, video conference, hingga sekarang memasuki era AI. Pandemi COVID-19 bahkan mempercepat adopsi pembelajaran daring secara global.
Hari ini AI mulai memungkinkan pembelajaran yang semakin personal, materi dapat disesuaikan, pertanyaan dapat dijawab secara interaktif, tugas dapat memperoleh umpan balik dengan cepat, dan peserta didik dapat memiliki semacam learning assistant yang selalu tersedia.
Teknologinya berubah secara fundamental, tetapi pertanyaan dasarnya tetap sama seperti puluhan tahun lalu: bagaimana membuat manusia dapat belajar tanpa terhambat oleh jarak?
Dari perjalanan tersebut saya belajar bahwa distance learning sesungguhnya bukanlah sebuah teknologi, melainkan sebuah filosofi tentang akses terhadap pengetahuan. Surat dan perangko pada masanya adalah teknologi. Internet pada masa saya mengerjakan tesis adalah teknologi. Zoom dan learning management system adalah teknologi. AI juga merupakan teknologi.
Semuanya hanyalah medium. Nah, yang jauh lebih penting adalah desain pembelajarannya: apa yang dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya, bagaimana interaksi terjadi, bagaimana peserta memperoleh umpan balik, dan bagaimana proses tersebut benar-benar menghasilkan kompetensi.
Karena itu, jangan sampai kita terjebak pada technology-driven learning, seolah-olah semakin canggih teknologinya berarti semakin baik pembelajarannya. Teknologi harus mengikuti kebutuhan pedagogis, bukan sebaliknya.
Hari ini, ketika kita berbicara tentang World Distance Learning Day, saya teringat kembali perjalanan panjang tersebut. Dari model korespondensi berbasis pos yang saya lihat dan kemudian ikut kelola, tesis S2 saya pada 1997 tentang pemanfaatan internet untuk distance learning, hingga pengalaman langsung mengasuh peserta di berbagai wilayah Indonesia pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.
Hampir tiga dekade berlalu. Dunia berubah, teknologi berubah, tetapi kebutuhan manusia untuk belajar tetap sama. Mungkin inilah pesan terpentingnya, pendidikan tidak seharusnya mengenal batas geografis. Dulu pengetahuan datang melalui amplop. Kemudian datang melalui jaringan internet.
Sekarang bahkan dapat hadir melalui AI. Namun pada akhirnya, teknologi hanyalah jembatan. Namun yang menentukan masa depan tetaplah manusia yang memiliki kemauan untuk belajar.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]