Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh : Riri Satria
Beberapa hari terakhir saya membaca The Economist, dan ada satu hal yang menarik perhatian saya. Majalah tersebut menempatkan “Returns on AI” sebagai salah satu liputan utamanya. Menurut saya, pilihan tema ini menarik karena menunjukkan bahwa pembicaraan tentang kecerdasan buatan atau AI telah memasuki babak baru.
Selama beberapa tahun terakhir kita banyak berbicara tentang kemampuan AI, generative AI, large language models, AI agents, produktivitas, bahkan kemungkinan AI menggantikan berbagai pekerjaan manusia. Kini pertanyaannya mulai bergeser, setelah begitu besar investasi yang ditanamkan ke dalam ekosistem AI, sebenarnya apa yang kembali kepada perusahaan dan perekonomian?
Menariknya, istilah yang digunakan bukan Return on AI Investment, melainkan Return on AI. Mengapa? Menurut saya, ada pesan penting di balik pilihan istilah tersebut, yang ingin diukur bukan semata-mata return dari uang yang diinvestasikan untuk membeli atau membangun AI, tetapi return yang dihasilkan oleh AI sebagai sebuah kapabilitas bisnis.
Perbedaan ini sekilas terlihat kecil, tetapi sesungguhnya cukup fundamental. Return on AI Investment akan membuat perhatian kita tertuju pada investasinya: berapa uang yang dikeluarkan, kemudian berapa uang yang kembali. Itu adalah pendekatan financial ROI yang konvensional.
Sementara Return on AI memiliki cakupan yang lebih luas. AI bukan lagi sekadar sebuah proyek atau perangkat teknologi yang dibeli perusahaan, melainkan sebuah kemampuan baru yang dapat mengubah cara organisasi bekerja, mengambil keputusan, melayani pelanggan, mengelola risiko, menciptakan produk, bahkan merumuskan strategi.
Karena itu, return-nya juga tidak selalu berbentuk uang yang langsung masuk ke laporan laba rugi. AI bisa menghasilkan produktivitas, mengurangi risiko, mempercepat proses, meningkatkan kualitas keputusan, meningkatkan pengalaman pelanggan, mempercepat time-to-market, menciptakan inovasi, dan membangun kapabilitas organisasi. Bahkan dalam konteks tertentu, nilai AI bisa berupa sesuatu yang lebih sulit diberi harga, seperti peningkatan keselamatan atau kemampuan organisasi merespons krisis.
Karena itu, Return on AI pada dasarnya bukan sekadar pertanyaan “berapa keuntungan dari investasi AI?”, tetapi “berapa besar nilai yang mampu diciptakan AI bagi organisasi?”
Di sinilah pengukurannya menjadi lebih kompleks. Misalnya, AI membuat pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan empat jam menjadi hanya satu jam. Tiga jam yang dihemat memang merupakan productivity gain, tetapi belum tentu menjadi economic gain.
Pertanyaannya kemudian: ke mana tiga jam tersebut pergi? Apakah digunakan untuk menghasilkan lebih banyak pekerjaan? Apakah meningkatkan kualitas? Apakah memungkinkan perusahaan melayani lebih banyak pelanggan tanpa menambah tenaga kerja? Ataukah waktu tersebut hilang begitu saja karena tidak ada perubahan dalam proses bisnis?
Jadi, AI usage tidak sama dengan AI value, dan AI adoption tidak otomatis sama dengan AI transformation. Kita perlu menghubungkan penggunaan AI dengan business outcome yang nyata.
Dalam perspektif ini, saya melihat Enterprise Architecture menjadi sangat relevan. AI harus ditempatkan sebagai bagian dari arsitektur perusahaan, bukan berdiri sendiri sebagai proyek teknologi. Kita mulai dari business strategy, kemudian melihat business capability, proses bisnis, data, aplikasi, teknologi, manusia, dan akhirnya menentukan di mana AI dapat memberikan nilai terbesar.
Dari sana barulah kita mengukur business outcome dan menghitung return-nya. Dengan pendekatan seperti ini, kita tidak lagi bertanya, “Kita sudah punya AI, lalu AI ini mau digunakan untuk apa?”
Sebaliknya, kita bertanya, “Persoalan bisnis apa yang ingin kita selesaikan, nilai apa yang ingin kita ciptakan, dan seberapa besar AI berkontribusi terhadap penciptaan nilai tersebut?” Inilah alasan saya melihat istilah Return on AI lebih menarik daripada sekadar Return on AI Investment. Fokusnya bergeser dari investment menuju value creation.
Pada akhirnya, menurut saya, kemunculan istilah Return on AI menandai kedewasaan baru dalam perjalanan teknologi kecerdasan buatan. Pada fase awal, kita terpesona oleh pertanyaan “What can AI do?” Kemudian kita masuk ke fase “How do we implement AI?”
Sekarang kita mulai memasuki fase yang jauh lebih serius: “What value does AI actually create?” Investasi AI akan terus membesar, tetapi perusahaan tidak bisa selamanya hanya menunjukkan berapa banyak use case, berapa banyak user, atau berapa banyak model AI yang telah mereka implementasikan. Pada akhirnya, AI harus menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Inilah makna terdalam dari Return on AI: bukan hanya menghitung berapa banyak uang yang kembali dari uang yang ditanamkan untuk AI, tetapi mengukur seberapa jauh AI mampu mengubah investasi teknologi menjadi nilai nyata bagi organisasi, manusia, dan masyarakat.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]