Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • POJOK TIM: Adaptasi Novel ke Film sebagai Ruang Pembacaan Baru

    27 Sep 2026 | Dilihat: 15 kali

    PojokTIM – Sebuah karya sastra tidak pernah benar-benar selesai ketika buku ditutup. Ia dapat terus hidup melalui pembacaan baru, perdebatan, hingga ketika berpindah medium menjadi karya audio-visual. Gagasan inilah yang mengemuka dalam diskusi “Revolusi dan Kota”, yang mengupas novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis dan adaptasi filmnya, Perang Kota, garapan sutradara Mouly Surya.

    Demikian mengemuka dalam diskusi bertajuk Bertemu di Cikini yang diselenggarakan  Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) berkolaborasi dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026.

    Diskusi yang digelar di aula Akademi Jakarta, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (27/9/2026) sore, menghadirkan Mouly Surya dan kritikus film Hikmat Darmawan, dipandu oleh Riri Satria sebagai moderator.

    “Hak adaptasi sudah diperoleh sejak 2018, namun produksi baru berjalan beberapa tahun kemudian akibat pandemic,” ujar Mouly.

    Mouly Surya membagikan proses panjang adaptasi tersebut. Pada draft awal, skenario dibuat sangat dekat dengan novel. Namun, seiring berjalannya waktu, Mouly menyadari bahwa novel dan film memiliki perangkat penceritaan yang berbeda. Film harus mampu berdiri sendiri bagi penonton yang belum membaca novelnya.

    Pada draft keempat, Mouly memberanikan diri mengubah karakterisasi tokoh utama hingga 70 persen. Langkah ini diambil sebagai wujud kebebasan kreatif ketika karya sastra diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

    “Film The Shining karya Stanley Kubrick yang diangkat dari novel Stephen King menjadi bukti bahwa film adaptasi dapat memiliki identitas artistiknya sendiri,” terang Mouly.

    Meskipun melakukan perombakan struktur, karakter, dan dialog, Mouly tetap membaca novelnya berulang kali. Kesetiaan baginya bukan memindahkan adegan secara harfiah, melainkan menjaga ingatan, suasana zaman, gaya bahasa, dan jiwa dari cerita tersebut.

    Perubahan judul dari Jalan Tak Ada Ujung menjadi Perang Kota didasari oleh diskusi bersama sejarawan. Kisah ini bukan sekadar pergulatan individu, melainkan dinamika Jakarta di tengah situasi perang revolusi—saat Belanda bersama Inggris kembali masuk pascaproklamasi. Untuk menangkap nuansa ini, Mouly memasukkan detail sejarah seperti karakter “Matthew” dan “Matthias” (disebut MMM) yang merepresentasikan kehadiran dua kekuatan asing tersebut.

    Dari kacamata pengamat, Hikmat Darmawan menyoroti perubahan demografis dan ruang kota Jakarta pada masa revolusi. Menurutnya, perkembangan kota saat itu dipengaruhi oleh arus migrasi dan pertumbuhan kampung kota

    “Kawasan seperti Kebon Kacang dalam novel bukan sekadar latar tempat, melainkan bagian dari pengalaman sosial tokoh,” ujarnya.

    Hikmat mengapresiasi latar belakang jurnalistik Mochtar Lubis yang kuat. Gagasan besar mengenai kemerdekaan, negara, dan ketakutan tidak dibiarkan mengambang secara abstrak, melainkan diturunkan menjadi pengalaman manusia sehari-hari di jalanan, kampung, dan rumah-rumah di Jakarta.

    Terkait hubungan sastra dan ideologi, Hikmat menekankan bahwa setiap karya membawa posisi gagasan tertentu. Baik karya yang bersifat liris, eksperimental, maupun realis, tidak bisa dimutlakkan mana yang lebih unggul.

    “Yang utama adalah kualitas gagasan, craft, disiplin penggarapan, serta pilihan artistik penciptanya,” urainya.

    Oleh karena itu, posisi pembaca menjadi penting. Pembaca sebaiknya tidak sekadar hanyut menikmati cerita, tetapi juga memiliki kesadaran kritis untuk menyingkap lapisan gagasan di balik teks.

    Usai diskusi peserta mengikuti kuliah umum oleh Zen Hae

    Perbedaan medium antara novel dan film juga tercermin dari perangkat sinematik. Film bekerja melalui montase, penyuntingan, komposisi gambar, warna, dan gerak ruang. Pergulatan batin tokoh Guru Isa—seperti ketakutan dan persoalan keintiman—harus diwujudkan melalui bahasa tubuh dan ekspresi visual. Mouly mengolah persoalan psikologis Guru Isa sebagai metafora bagi bangsa yang merdeka secara formal namun masih menghadapi ketidakberdayaan.

    Selain itu, Mouly memberi perhatian khusus pada karakter Fatimah. Sebagai sutradara perempuan, ia merefleksikan kembali ruang bergerak Fatimah yang sebelumnya terbatas pada ranah domestik. Pembacaan ulang ini memberi lapisan baru pada relasi antar-karakter sesuai dengan perspektif zaman sekarang.

    Baik novel maupun film pada akhirnya mempertemukan sejarah besar dengan pengalaman personal manusia: ketakutan, cinta, keraguan, dan pilihan moral di tengah Jakarta yang terus berubah.

    Diskusi “Revolusi dan Kota” mempertegas bahwa Jalan Tak Ada Ujung bukan teks yang berhenti pada zamannya. Melalui Perang Kota, karya klasik ini menemukan kehidupan baru di tangan media sinema—membuktikan bahwa gagasan sastra akan terus bergerak, ditafsirkan, dan menemukan makna baru melintasi zaman.

     

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: Medan, 28 Agustus 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture