Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • PUISI, DOA, DAN ORKESTRA MALAM RAMADAN

    08 Mar 2026 | Dilihat: 68 kali

    Emi Suy dan Riri Satria

     

    di antara hening dan nyaring

    : perasaan dan kenyataan

    cemas!

    yang diseduh air panas

    biarlah mengendap

    di ampas kopi

    lalu

    aku

    lalu

    laju

    di waktu sahur malam Lailatul Qadar

    mencecapi

    secangkir sepi

    di tiap teguk

    ada harap menyala

    di bakar bara doa

    yang begitu tenang

    di saat subuh tiba

    puasa adalah jalan sunyi

    menujuNya

    lahaula walakuata illabillah

    hingga lebaran menjadi satu-satunya

    kampung halaman kita

     

    ada bisikan di antara sunyi

    memuji kebesaran Sang Khalik

    dan aku terdiam

    jiwa tafakur

    hening

     

    erawangku jauh

    melampaui malam

    menyisir kilauan cahaya

    mencari makna

    bersama-Mu

     

    malam ini ada orkestra

    partitur ayat-ayat Semesta

    mengiringi bait-bait puisi cinta

     

    aku terdiam

    Tertunduk

    di tengah pusaran Jagat Raya

     

    Tuhan, dari tahun ke tahun

    ia menabuh rindu bertalu-talu

    dari pintu ke pintu ia mengantar kecemasan mudik

    menenteng rasa dan menghimpun air mata paling puitik

     

    Tuhan, dari asin peluh yang membasuh

    di tubuh kota yang gaduh

    tempat menjual patuh pada keterasingan

    takdir paling aduh—nasib paling riuh

     

    semua berseru dari takbir ke takbir

    dari takdir ke takdir

    sunyi menghampiri—menari-nari

    di keramaian sepanjang hari

     

    ada yang pulang

    perjalanan paling romantis

    dari palung ke palung menuju ibu,

    kampung halaman

    menziarahi—kemenangan

    di antara kenangan berserakan

    dari debar ke debar dari pijar ke pijar

     

    jantung bergetar cahaya memudar

    dari antik ke antik gaya tarik menarik

    hanya Tuhan yang Maha Asyik

     

    pada malam yang turun perlahan seperti hujan

    terdengar takbir menggema dari dalam kalbu

    di antara sunyi yang tak bernama

    kita belajar tunduk kepada Tuhan yang selalu kutuju

     

    kita membawa rindu seperti perahu kecil

    mengapung di atas samudera yang tak bertepi

    di sanalah raga belajar berserah diri

    bahwa cinta adalah jalan pulang yang sunyi

     

    tak ada yang kita punya selain napas yang rapuh

    dan doa yang sering jatuh sebelum sampai

    namun dalam diam jiwa tetap memuja

    sebab nama-Mu lebih luas dari segala kata

     

    maka biarlah hidup berjalan seperti air

    mengalir pelan menuju cahaya yang tak terlihat

    di ujung perjalanan ini, wahai Tuhan

    biarlah kalbu ini tenggelam dalam cinta dan taat

     

    Tuhan

    ia butuh ruang

    untuk pulang,

    pulang pada dirinya sendiri

    merenangi kedalaman sunyi

    dalam diri

     

    saat ia diinjak

    dilindas--dilumuri lumpur

    dan dilempari batu

    siapa, ada membela?

     

    pada semesta alam

    ia meminta

    melaju tubuhnya

    sebagai kereta

     

    fi bulan ketika puasa menjadi sunyi yang panjang

    kita berjalan perlahan

    dalam perjalanan hidup yang tak selalu terang

    di antara haus dan lapar yang sederhana

    nama Tuhan diam-diam kupanggil seperti pulang

     

    pada malam-malam yang jatuh seperti hujan yang lembut

    kita belajar tunduk pada waktu dan pada diri sendiri

    sebab cinta bukan hanya yang kita miliki

    tetapi juga yang kita lepaskan sambil memuja sunyi

     

    kadang doa hanya berupa napas yang pelan

    kadang harap hanya setipis cahaya di kejauhan

    namun di suatu malam yang dirahasiakan langit

    barangkali itulah Lailatul Qadar yang diam-diam datang

     

    dan kita mengerti akhirnya

    bahwa hidup hanyalah perjalanan pulang yang panjang

    dari tubuh yang berpuasa menuju jiwa yang lapang

    dari cinta yang rapuh menuju Tuhan yang tak pernah hilang.

     

    cuma sedikit jejak matahari senja

    dari rasa yang besar setelah petang usai pesta

    tak ada yang ditakar apalagi ditukar

    sejak embun subuh yang diam-diam pergi

    hingga hatimu menyala lalu pucat pasi

     

    perjalanan boleh redup

    tapi harapan tetap hidup

    kalau gelap kerap menimang kesedihan

    di dekapmu sepasang lengan yang cidera

    mungkin kau pernah rapuh di deru waktu yang

    detiknya berdetak — di dinding retak

    sunyi yang ia rawat di dada kiri terlahir dari rahim sepi

    sesuatu yang lebih hidup dari kehidupan

     

    suka – duka mengalir di jantung berdegup,

    kerap menganga — memompa

    mengatup di deru mesin waktu

    yang dituhankan manusia

    tapi ditahan atau dihentikan oleh tuhan

    luka tetap luka sepenggal kisah musim yang terkoyak

    — terjepit mulut pintu yang berderit-derit

    kenangan bercakap-cakap

    memanggil hujan membasahi luka di tubuh kemarau

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture