Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KE MANA PERGINYA AURA TAMAN ISMAIL MARZUKI (TIM)?

    18 Jul 2026 | Dilihat: 22 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada sebuah perasaan yang selalu hadir setiap kali saya kembali menginjakkan kaki di Taman Ismail Marzuki (TIM). Kawasan itu kini tampil jauh lebih megah, lebih bersih, dan lebih modern dibandingkan masa lalu. Gedung-gedung baru berdiri dengan arsitektur yang mengesankan, fasilitas tampak semakin lengkap, dan jumlah pengunjung terlihat semakin banyak.

    Mata saya melihat sebuah kemajuan yang nyata. Hati saya justru merasakan kehilangan sesuatu yang tidak mudah dijelaskan.

    Saya memang bukan seniman tulen. Saya juga bukan budayawan dalam pengertian yang sesungguhnya. Saya hanyalah seorang pencinta seni, sastra, dan kebudayaan yang sejak lama menikmati denyut kehidupan di TIM. Kedekatan itu membuat saya mengenal kawasan ini bukan sekadar sebagai kumpulan bangunan, melainkan sebagai sebuah ruang yang memiliki jiwa.

    Saya merasakan betul bahwa ada marwah yang perlahan memudar dari tempat ini. Perasaan itu mungkin lahir dari kenangan, mungkin pula lahir dari perubahan yang memang sedang berlangsung. Apa pun penyebabnya, kehilangan itu terasa begitu nyata di hati saya.

    Ingatan saya masih menyimpan TIM sebagai sebuah kawasan yang sejuk, teduh, dan bersahabat. Pepohonan rindang menaungi ruang-ruang terbuka yang nyaman untuk duduk berlama-lama. Warung-warung sederhana menjadi tempat bertemunya penyair, pelukis, pemusik, sutradara, penulis, mahasiswa, dan para pencinta seni.

    Keakraban tumbuh tanpa dibuat-buat. Orang-orang saling menyapa dengan hangat, berbincang panjang, lalu berdiskusi tentang sastra, teater, musik, film, atau kehidupan. Percakapan itu sering kali tampak sederhana, bahkan remeh-temeh. Isi pembicaraannya justru berbobot dan penuh inspirasi.

    Kawasan itu menghadirkan suasana yang sangat kondusif untuk mencari inspirasi, memikirkan sebuah karya seni, atau sekadar menikmati keheningan dalam kontemplasi dan refleksi. TIM pada masa itu terasa seperti rumah bersama yang memeluk siapa saja yang mencintai kebudayaan.

    TIM sekarang menghadirkan kesan yang berbeda bagi saya. Kawasan itu terasa lebih menyerupai sebuah ekosistem ekonomi atau bisnis daripada sebuah ekosistem kesenian dan kebudayaan. Keramaian memang tetap ada, tetapi keramaian itu lebih banyak diisi oleh rombongan pelajar yang mengunjungi planetarium, perpustakaan, atau berbagai fasilitas lainnya. Kehadiran mereka tentu merupakan sesuatu yang patut disyukuri.

    Saya hanya semakin jarang menjumpai kelompok-kelompok seniman yang duduk berjam-jam untuk berdiskusi, menulis puisi, membuat sketsa, memainkan musik, atau sekadar bertukar gagasan. Suasana hangat dan guyub yang dahulu begitu terasa kini seolah menghilang. Banyak orang datang dengan urusannya masing-masing, lalu pulang setelah kegiatannya selesai.

    Ruang perjumpaan yang dulu begitu hidup terasa semakin sempit. Suasana kawasan juga terasa lebih panas, lebih gersang, dan lebih berdebu dibandingkan yang saya ingat dahulu. Dominasi beton menghadirkan kesan yang lebih keras dan lebih formal. Saya bahkan sering bertanya kepada diri sendiri, apakah seseorang masih dapat berkontemplasi dengan tenang, mencari inspirasi secara mendalam, atau melakukan refleksi batin di tengah suasana seperti ini. Saya sendiri tidak yakin.

    Saya tentu tidak sedang mengajak siapa pun untuk menentang kemajuan atau modernisasi. Kemajuan merupakan keniscayaan yang harus berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Fasilitas yang lebih baik, bangunan yang lebih representatif, serta pengelolaan yang lebih profesional merupakan langkah yang patut diapresiasi.

    Harapan saya sesungguhnya sangat sederhana. Modernisasi seharusnya tidak menghilangkan marwah yang selama puluhan tahun melekat pada Taman Ismail Marzuki. Ekosistem kesenian dan kebudayaan seharusnya tetap terpelihara sebagai ruang yang menghadirkan keteduhan, melahirkan inspirasi, menghidupkan refleksi, mempertemukan para seniman dan pencinta seni dalam suasana yang akrab dan guyub, serta menjadi tempat lahirnya karya-karya yang memperkaya kehidupan bangsa. Kemajuan fisik semestinya berjalan berdampingan dengan pemeliharaan jiwa sebuah ruang budaya.

    Barangkali semua yang saya rasakan hanyalah pengalaman yang sangat subjektif. Barangkali banyak orang justru menemukan semangat baru di wajah TIM yang sekarang. Saya bahkan berharap sayalah yang keliru dalam membaca perubahan ini. Perasaan kehilangan itu tetap sulit saya sangkal. Saya tidak hanya merindukan pepohonan yang rindang atau ruang terbuka yang luas.

    Saya lebih merindukan suasana ketika orang-orang saling menyapa, saling mendengarkan, saling menginspirasi, dan bersama-sama merawat kebudayaan.

    Bagi saya, itulah marwah TIM yang sesungguhnya. Sebuah pusat kesenian bukan hanya dibangun oleh beton, kaca, dan baja, tetapi juga oleh kehangatan manusia, percakapan yang bermakna, serta inspirasi yang tumbuh di antara mereka.

    Bagaimana menurut sahabat lainnya yang sudah lama berada di lingkungan TIM? Apakah merasakan hal yang sama?

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture