Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada tiga buku karya Alijullah Hasan Jusuf alias Al Jushan yang menurut saya menarik dibaca sebagai satu rangkaian perjalanan hidup, yaitu “Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang”, (2015), “Paris Je Reviendrai, Aku Kan Kembali” (2016), dan “Lurah Paris, 43 Tahun Berkelana di Prancis”, 2022).
Ketiganya sebenarnya lebih tepat dipandang sebagai kisah nyata atau novel-autobiografi yang merekam perjalanan hidup penulisnya. Buku ini semuanya diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2015 dengan 312 halaman, sementara Paris Je Reviendrai diterbitkan pada 2016 dengan 378 halaman. Lurah Paris kemudian hadir pada 2022 dengan 464 halaman.
Ketiganya membentuk semacam trilogi kehidupan, dari mimpi seorang anak muda Aceh untuk melihat Eropa, perjuangannya bertahan di Paris, hingga perjalanan panjang selama puluhan tahun di Prancis.
Penumpang Gelap merupakan kisah paling dramatis dari ketiganya. Alijullah, anak muda asal Sigli, Aceh, yang ketika itu hidup sendiri di Jakarta, memiliki keinginan besar untuk pergi ke luar negeri, tetapi tidak mempunyai uang, paspor, maupun tiket.
Dalam situasi Indonesia yang penuh gejolak pada 1967, ia bertahan hidup sebagai penjaja koran dan bahkan pernah tinggal di peti rokok. Dari situlah lahir keberanian yang sekaligus nekat: ia mencari jalan untuk ikut terbang ke Eropa sebagai penumpang gelap. Ia berhasil mencapai Amsterdam, tetapi kemudian ditolak dan dipulangkan ke Indonesia.
Bagi saya, lesson learned paling kuat dari buku ini adalah jangan pernah membiarkan keterbatasan keadaan mematikan mimpi. Namun, buku ini juga menunjukkan bahwa keberanian harus dibaca bersama konsekuensinya; kenekatan Alijullah bukan sesuatu yang perlu ditiru, melainkan kesaksian tentang betapa kuatnya tekad seorang anak muda untuk mengubah nasib.
Kegagalan ternyata tidak membuat Alijullah berhenti. “Paris Je Reviendrai, Aku Kan Kembali” (2016) menjadi kelanjutan dari petualangan tersebut. Setelah kegagalan pertama, ia kembali mencoba mencapai Eropa dan akhirnya berhasil tiba di Prancis.
Di Paris, persoalannya bukan lagi bagaimana mencapai Eropa, tetapi bagaimana bertahan hidup di negeri asing tanpa dokumen dan tanpa kepastian masa depan. Ia menghadapi kesulitan, bekerja, bergaul dengan berbagai orang, mengenal kehidupan Paris dari sisi yang tidak selalu terlihat oleh turis, sekaligus mengalami berbagai kisah cinta dan pergulatan hidup. Katalog perpustakaan bahkan menggambarkan bahwa ia sempat bertahan di Paris selama sekitar satu tahun dalam situasi tanpa paspor dan visa.
Lesson learned dari buku kedua adalah kegagalan bukan akhir perjalanan. Mimpi yang gagal pada percobaan pertama dapat menjadi bahan bakar untuk mencoba kembali, tetapi setelah mimpi tercapai, perjuangan sesungguhnya justru baru dimulai.
Kemudian “Lurah Paris, 43 Tahun Berkelana di Prancis”, 2022) memberikan perspektif yang jauh lebih luas. Kalau dua buku sebelumnya berpusat pada bagaimana Alijullah mencapai dan bertahan di Paris, buku ketiga berkisah tentang 43 tahun kehidupannya di Prancis, terutama ketika bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris. Ia bertemu dan melayani berbagai kalangan, pejabat, tamu-tamu penting, masyarakat Indonesia, masyarakat asing, hingga mahasiswa Indonesia, dan dari pengalaman panjang itulah lahir julukan “Lurah Paris”.
Ia seperti seorang lurah informal yang menjadi tempat orang Indonesia mencari bantuan, informasi, atau sekadar tempat bertanya ketika berada di Paris. Buku ini memperlihatkan bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang mencapai tempat yang kita impikan, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan setelah sampai di sana dan seberapa besar keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain.
Bagi saya pribadi, ketiga buku ini memiliki makna yang jauh lebih khusus karena Alijullah Hasan Jusuf adalah sahabat baik saya ketika saya berada di Paris. Pak Ali-lah yang membawa saya berkeliling kota Paris, memperkenalkan berbagai sudut kota, dan banyak bercerita kepada saya tentang Paris, bukan hanya Paris sebagai kota wisata, tetapi Paris sebagai ruang kehidupan dengan sejarah, manusia, diaspora, dan berbagai kisah yang ada di baliknya.
Kami juga beberapa kali bertemu kembali di Indonesia. Salah satu pertemuan yang berkesan adalah ketika Pak Ali hadir dalam peluncuran buku puisi saya Winter in Paris di Ubud Writers and Readers Festival, 26 Oktober 2017.
Karena itu, ketika membaca tiga buku Alijullah, saya merasa seperti membaca kembali sebagian Paris yang pernah saya kenal melalui cerita dan persahabatan kami. Dari “Penumpang Gelap” menuju “Lurah Paris”, perjalanan Pak Ali pada akhirnya bukan sekadar perjalanan geografis dari Aceh menuju Paris, melainkan perjalanan manusia, dari mimpi, kenekatan, kegagalan, ketekunan, hingga akhirnya menjadi seseorang yang kehadirannya berarti bagi banyak orang.
Pada sebuah acara diskusi tentang buku ini yang diselenggarakan IHHCH (sekarang Musee ID) pada tahun 2022 oleh Nofa Farida Lestari serta Wulan Suheri di Museum Bahari Jakarta pimpinan Ibu Mis Ari, cuplikan buku ini dibaca bergantian oleh Mbak Nunung Noor El Niel, Rissa Churria, serta Emi Suy yang juga dihadiri Pak Ali dan isteri, Ibu Suryati Harefa, dan saat itu saya sebagai pembahas buku ..
Saat ini Pak Ali sedang menyiapkan buku keempat yang katanya tak kalah serunya. Tunggu tanggal mainnya ![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]