Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • 100 TAHUN ALI SADIKIN DAN TAMAN ISMAIL MARZUKI

    19 Jul 2026 | Dilihat: 28 kali

    oleh Riri Satria

    Dalam sebulan terakhir, kita dengan mudah menemukan berbagai poster, spanduk, pameran, dan instalasi bertuliskan "100 Tahun Ali Sadikin" di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Kehadirannya tentu bukan sekadar penanda sebuah peringatan seremonial. Di balik tulisan-tulisan itu tersimpan makna yang jauh lebih besar, terutama jika dikaitkan dengan sejarah lahirnya Taman Ismail Marzuki (TIM) sendiri.

    Peringatan ini sesungguhnya mengajak kita kembali memahami gagasan besar seorang pemimpin yang memandang kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan kota.

    Tahun 2026 menandai 100 tahun kelahiran Ali Sadikin atau Bang Ali, Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, sosok yang meletakkan fondasi penting bagi perkembangan seni dan kebudayaan di Jakarta. Berbagai pameran, diskusi, pertunjukan seni, hingga kuliah umum yang digelar di TIM bukan sekadar mengenang seorang mantan gubernur, melainkan menghidupkan kembali visi besar yang pernah ia tanamkan, bahwa sebuah kota hanya akan benar-benar maju apabila pembangunan fisiknya berjalan seiring dengan pembangunan kebudayaannya.

    Ketika Bang Ali mendirikan TIM pada tahun 1968, yang ia bangun sesungguhnya bukan sekadar kompleks gedung pertunjukan. Bang Ali sedang membangun sebuah ekosistem kebudayaan. Pada masa itu ruang-ruang perjumpaan seniman di Jakarta mulai menghilang seiring perubahan kota.

    Bang Ali melihat bahwa para penyair, pelukis, musisi, aktor, sutradara, hingga intelektual membutuhkan sebuah rumah bersama untuk bertemu, berdialog, berdebat, saling menginspirasi, dan melahirkan karya-karya baru. Ia memahami bahwa kreativitas tumbuh bukan dalam kesendirian, melainkan dalam perjumpaan antarmanusia.

    Apa yang dibayangkan Bang Ali sebenarnya telah lama menjadi denyut kehidupan kota-kota budaya dunia. Di Paris, kawasan Rive Gauche atau Left Bank, lengkap dengan kafe-kafe legendaris seperti Les Deux Magots dan Café de Flore, selama puluhan tahun menjadi ruang bertemunya sastrawan, filsuf, pelukis, dan pemikir besar. Ernest Hemingway, Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, hingga Pablo Picasso pernah menjadikan kawasan itu sebagai tempat berdiskusi dan melahirkan gagasan-gagasan baru.

    Demikian pula di New York, kawasan Greenwich Village tumbuh sebagai pusat kehidupan seni, sastra, teater, musik, dan gerakan intelektual yang membentuk wajah budaya kota tersebut. Kedua kawasan itu hidup bukan hanya bangunan-bangunannya, melainkan percakapan, perdebatan, kolaborasi, dan semangat kreativitas yang terus mengalir setiap hari. Itulah yang sesungguhnya juga ingin dihadirkan Bang Ali melalui TIM.

    Ali Sadikin tidak ingin pemerintah mengendalikan kreativitas para seniman. Ia menyediakan ruang, fasilitas, dan dukungan, tetapi membiarkan kebebasan berkesenian tetap menjadi milik para pelaku seni. Sikap inilah yang membuat TIM tumbuh menjadi salah satu pusat kebudayaan paling berpengaruh di Indonesia.

    Banyak karya penting lahir bukan hanya dari panggung-panggung pertunjukan, tetapi juga dari ruang diskusi, kantin, plaza, lorong, dan sudut-sudut tempat orang bertemu secara spontan. Di sana tumbuh persahabatan, kolaborasi, dan pertukaran gagasan yang memperkaya kehidupan intelektual, kesenian, serta kebudayaan bangsa.

    Peringatan 100 tahun Ali Sadikin pada akhirnya mengajak kita merenungkan kembali makna sebuah pusat kebudayaan. Keberhasilan TIM tidak semata-mata diukur dari kemegahan bangunan atau kecanggihan fasilitasnya, melainkan dari seberapa hidup ruang itu sebagai tempat bertemunya manusia.

    Apakah para seniman atau budayawan masih merasa TIM adalah rumah mereka? Apakah mahasiswa, penulis, pembaca, pelukis, musisi, dan masyarakat masih datang untuk berdiskusi, berbagi inspirasi, dan melahirkan karya-karya baru? Di tengah perubahan zaman yang semakin digital, pertanyaan-pertanyaan itu justru semakin relevan.

    Sebuah kota tidak hanya dikenang oleh gedung-gedung pencakar langitnya serta geliat ekonomi dan bisnisnya., tetapi juga oleh ruang-ruang yang memelihara kreativitas, merawat kebudayaan, dan menjadikan seni sebagai denyut kehidupan warganya.

    Walaupun saya bukan seorang seniman ataupun budayawan dalam pengertian yang sesungguhnya, sebagai pencinta seni dan budaya saya merasakan betul bagaimana TIM telah mewarnai kehidupan Jakarta sebagai sebuah kota metropolitan yang hiruk-pikuk. Di tengah lalu lintas yang padat, gedung-gedung tinggi, dan ritme kehidupan yang serba cepat, TIM menghadirkan ruang yang berbeda.

    Di sana orang datang bukan semata untuk menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi juga untuk berdialog, membaca puisi, menikmati pameran, berdiskusi, atau sekadar bertemu dengan sesama pencinta seni. TIM memberi jeda bagi kehidupan kota yang nyaris tak pernah berhenti.

    Itulah letak warisan terbesar Ali Sadikin. Ia tidak hanya membangun sebuah kompleks kesenian, tetapi juga menghadirkan ruang yang membuat Jakarta terasa lebih manusiawi. Selama ruang-ruang perjumpaan itu tetap hidup, selama seniman, mahasiswa, intelektual, dan masyarakat masih menjadikan TIM sebagai tempat bertukar gagasan dan inspirasi, maka cita-cita Ali Sadikin akan terus bernapas.

    Kemajuan sebuah kota bukan hanya diukur dari tingginya gedung atau panjangnya jalan tol, melainkan juga dari seberapa kuat kota itu mampu merawat seni, budaya, dan kehidupan intelektual warganya.

    Bagi saya, Taman Ismail Marzuki adalah salah satu alasan mengapa Jakarta bukan sekadar metropolitan, melainkan juga sebuah kota yang memiliki jiwa dan kebudayaan.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture