Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Oleh Riri Satria
Kita sedang memasuki sebuah zaman ketika batas antara teknologi dan kebudayaan semakin kabur. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak lagi hanya hadir sebagai mesin yang membantu manusia menghitung, mencari informasi, atau mengolah data. AI kini mampu menulis puisi, membuat lukisan, menggubah musik, menghasilkan film, menerjemahkan bahasa, menciptakan suara dan wajah manusia, bahkan menyusun narasi tentang sejarah dan kehidupan sebuah bangsa.
Di satu sisi, perkembangan ini membuka ruang kreativitas dan inovasi yang luar biasa. Namun di sisi lain, ia menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: ketika mesin mulai ikut memproduksi pengetahuan dan kebudayaan, apakah sebuah bangsa masih memiliki kemampuan untuk menjaga identitas budayanya? Pertanyaan inilah yang membawa kita pada gagasan ketahanan budaya nasional atau national cultural resilience.
Ketahanan budaya tidak semestinya dipahami sebagai kemampuan suatu bangsa untuk mempertahankan budaya dalam bentuknya yang lama dan menolak perubahan. Kebudayaan pada hakikatnya selalu bergerak, beradaptasi, dan mengalami transformasi. Ketahanan justru terletak pada kemampuan sebuah bangsa untuk berubah tanpa kehilangan jati dirinya; menerima sesuatu yang baru tanpa kehilangan akar serta memanfaatkan teknologi tanpa menyerahkan sepenuhnya kemampuan menentukan masa depan kebudayaannya kepada teknologi.
Jika dahulu perubahan kebudayaan berlangsung terutama melalui keluarga, sekolah, komunitas, agama, media, perdagangan, migrasi, dan interaksi antarmanusia, kini kita berhadapan dengan sebuah kekuatan baru bernama algoritma. Algoritma tidak hanya memilih apa yang kita lihat, tetapi perlahan ikut menentukan apa yang kita baca, dengarkan, tonton, dan bahkan apa yang kita anggap penting. Generative AI membawa persoalan tersebut ke tingkat yang lebih jauh karena mesin kini mampu memproduksi kebudayaan. Ia dapat menulis cerita tentang Indonesia, menggambarkan rumah adat, menciptakan lagu bernuansa tradisional, menerjemahkan karya sastra, atau menjelaskan sejarah bangsa.
Persoalannya, dari mana pengetahuan yang digunakan AI itu berasal, siapa yang menentukan representasinya, dan seberapa akurat gambaran tersebut? Di sinilah persoalan ketahanan budaya menjadi persoalan kedaulatan. Apabila sebagian besar representasi tentang Indonesia dibentuk oleh sistem yang dikembangkan berdasarkan data, nilai, perspektif, dan dominasi kebudayaan tertentu, ada kemungkinan Indonesia bukan hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi konsumen narasi tentang dirinya sendiri.
Kita mungkin masih memiliki ribuan bahasa daerah, kesenian, tradisi, manuskrip, cerita rakyat, dan pengetahuan lokal, tetapi apabila semua itu tidak terdokumentasikan dan tidak hadir dalam ekosistem digital, kebudayaan tersebut dapat semakin tidak terlihat dalam dunia AI. Karena itu, ketahanan budaya pada era kecerdasan buatan juga berarti kemampuan suatu bangsa untuk hadir dalam data, hadir dalam algoritma, dan hadir dalam narasi digital tentang dirinya sendiri.
Indonesia memiliki tantangan sekaligus peluang yang sangat besar dalam konteks ini. Sebagai negara kepulauan dengan keragaman etnis, bahasa, tradisi, seni, sastra, kuliner, arsitektur, musik, serta berbagai bentuk pengetahuan lokal, Indonesia sesungguhnya memiliki modal budaya yang luar biasa. Namun, keragaman tersebut juga membuat pekerjaan membangun ketahanan budaya menjadi jauh lebih kompleks. Kita tidak cukup hanya mendigitalisasi koleksi museum atau mengunggah dokumentasi kesenian ke internet. Kita perlu membangun ekosistem pengetahuan budaya yang dapat dipahami oleh manusia sekaligus dapat dibaca oleh mesin.
Bahasa Indonesia harus semakin kuat dalam ekosistem AI, sementara bahasa-bahasa daerah perlu mendapatkan perhatian agar tidak menjadi low-resource languages yang semakin tertinggal dalam perkembangan teknologi. Manuskrip lama perlu didigitalisasi, cerita rakyat perlu didokumentasikan, pengetahuan masyarakat adat perlu dicatat dengan tetap menghormati hak komunitas pemiliknya, dan karya seni serta sastra perlu memiliki jejak digital yang memadai.
Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi ancaman bagi kebudayaan, tetapi dapat menjadi instrumen untuk menghidupkan kembali sesuatu yang hampir terlupakan. Bayangkan apabila seorang anak muda di masa depan dapat bertanya kepada AI mengenai cerita rakyat dari daerah tertentu dan memperoleh jawaban yang bersumber dari pengetahuan masyarakat setempat, menggunakan bahasa yang tepat, memahami konteks sejarahnya, serta mampu menjelaskan nilai yang terkandung di dalamnya.
Maka AI tidak sedang menggantikan kebudayaan. AI justru menjadi salah satu medium untuk mewariskan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Namun, ketahanan budaya tidak akan pernah cukup jika hanya dibangun melalui teknologi. Pada akhirnya, kebudayaan adalah persoalan manusia. AI dapat menghasilkan puisi, tetapi pengalaman manusia yang melahirkan kegelisahan, cinta, kehilangan, kemarahan, harapan, dan kerinduan tidak dapat begitu saja digantikan oleh algoritma. AI dapat menggambarkan sebuah upacara adat, tetapi makna yang hidup di balik upacara tersebut berada dalam pengalaman komunitas yang menjalaninya. AI dapat menyusun narasi sejarah, tetapi hubungan emosional manusia dengan masa lalu merupakan sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada kumpulan data.
Karena itu, masyarakat membutuhkan literasi budaya sekaligus literasi AI. Kita harus mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mempertanyakan teknologi. Kita harus mampu menikmati hasil generative AI, tetapi sekaligus mengetahui kapan sebuah karya merupakan ekspresi manusia dan kapan ia merupakan hasil mesin. Kita perlu memahami bahwa kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berarti memperoleh kebenaran. Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting.
Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana menggunakan AI. Pendidikan harus mengajarkan bagaimana manusia mempertahankan kemampuan berpikir kritis, memahami sejarah, menghargai keberagaman, mengenali nilai-nilai budayanya, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab. Dengan kata lain, semakin cerdas mesin, semakin penting manusia memahami siapa dirinya sendiri.
Pada akhirnya, membangun national cultural resilience di era kecerdasan buatan bukanlah sebuah proyek untuk menghentikan perubahan, melainkan sebuah usaha untuk memastikan bahwa perubahan tetap memiliki arah. Kita tidak mungkin menutup pintu dari arus teknologi global, dan memang tidak perlu melakukannya. Hal yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa ketika teknologi tersebut masuk, ia menemukan sebuah masyarakat yang memiliki akar budaya yang kuat, kemampuan berpikir yang kritis, pengetahuan yang terdokumentasi, bahasa yang hidup, kreativitas yang berkembang, serta kesadaran tentang siapa dirinya. Ketahanan budaya nasional dengan demikian bukan sekadar persoalan menjaga masa lalu, melainkan kemampuan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Budaya yang resilien bukan budaya yang membeku, tetapi budaya yang mampu bertransformasi tanpa kehilangan makna. Indonesia harus mampu memasuki era AI bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai bangsa yang memiliki kemampuan untuk memberikan warna, nilai, pengetahuan, dan perspektifnya sendiri kepada teknologi tersebut. Sebab, tantangan terbesar di era kecerdasan buatan mungkin bukan apakah mesin akan menjadi semakin cerdas, melainkan apakah manusia masih mampu mempertahankan kebijaksanaan untuk menentukan untuk apa kecerdasan itu digunakan dan kebudayaan seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi yang akan datang.
Sesungguhnya makna national cultural resilience: bukan sekadar bertahan menghadapi masa depan, tetapi memiliki kekuatan untuk membentuk masa depan tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]