Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • HATI-HATI DENGAN DOXING DI DUNIA INTERNET DAN DIGITAL

    14 Jul 2026 | Dilihat: 12 kali

    oleh Riri Satria

    Kita hidup pada sebuah zaman ketika hampir seluruh aktivitas meninggalkan jejak digital. Pagi hari kita membuka media sosial, siang berbelanja melalui aplikasi, sore menghadiri rapat daring, malam mengunggah foto bersama keluarga. Tanpa disadari, sedikit demi sedikit kita sedang membangun sebuah mozaik tentang diri kita sendiri.

    Nama, pekerjaan, lokasi, teman, kebiasaan, hingga tempat yang sering kita kunjungi, semuanya dapat menjadi kepingan informasi yang suatu saat disusun menjadi sebuah profil yang sangat lengkap.

    Di balik kemudahan itulah tersembunyi sebuah ancaman yang semakin sering terjadi, yaitu doxing.

    Doxing adalah tindakan mencari, mengumpulkan, lalu menyebarluaskan informasi pribadi seseorang tanpa persetujuannya.

    Tujuannya beragam, mulai dari mengintimidasi, mempermalukan, membalas dendam, memeras, hingga menghasut orang lain agar ikut menyerang korban. Informasi yang disebarkan bisa berupa alamat rumah, nomor telepon, alamat surat elektronik, tempat bekerja, data keluarga, bahkan rutinitas sehari-hari.

    Satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa doxing hanya dilakukan oleh peretas atau hacker hebat yang mampu membobol sistem keamanan.

    Faktanya, dalam banyak kasus, pelaku tidak perlu memiliki kemampuan teknis yang tinggi. Mereka hanya mengumpulkan potongan-potongan informasi yang tersebar di berbagai tempat. Sebuah foto yang memperlihatkan nomor rumah, unggahan yang menampilkan lokasi secara langsung, kartu identitas yang tanpa sengaja terekam kamera, atau komentar sederhana yang menyebut nama sekolah anak, semuanya dapat dirangkai menjadi informasi yang sangat berharga bagi pelaku.

    Ironisnya, ancaman tidak selalu datang dari orang asing.

    Pada banyak kasus yang terungkap, pelaku doxing justru merupakan orang yang memiliki hubungan atau pernah memiliki kedekatan dengan korbannya. Mereka bisa saja mantan pasangan, bekas rekan kerja, teman dalam satu komunitas, tetangga, kenalan di media sosial, bahkan seseorang yang pernah dipercaya.

    Kedekatan tersebut membuat mereka memiliki akses terhadap informasi yang tidak diketahui publik. Mereka mengetahui nomor telepon pribadi, alamat rumah, tempat bekerja, kebiasaan sehari-hari, bahkan informasi tentang anggota keluarga. Ketika hubungan berubah menjadi konflik, informasi yang dahulu diperoleh karena kepercayaan dapat berubah menjadi alat untuk mengintimidasi.

    Motifnya pun bermacam-macam. Ada yang ingin membalas dendam setelah terjadi perselisihan. Ada yang berniat melakukan pemerasan atau tekanan psikologis. Ada yang ingin merusak nama baik korban di lingkungan kerja maupun media sosial. Ada pula yang sekadar ingin mempermalukan, mengganggu ketenangan hidup orang lain, atau bahkan melakukannya sebagai sebuah keisengan tanpa pernah memikirkan dampak yang ditimbulkan.

    Apa pun alasannya, penyalahgunaan informasi pribadi tetap merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

    Fenomena ini mengajarkan satu hal penting yaitu menjaga keamanan digital bukan hanya berarti melindungi diri dari orang yang tidak kita kenal, tetapi juga mengelola dengan bijaksana informasi yang kita bagikan kepada siapa pun. Bukan berarti kita harus hidup dengan rasa curiga terhadap keluarga, teman, atau rekan kerja. Namun kita perlu menyadari bahwa setiap informasi pribadi yang berpindah ke tangan orang lain akan berada di luar kendali kita.

    Hubungan yang hari ini baik belum tentu akan selalu demikian. Karena itu, membangun batasan dalam membagikan data pribadi merupakan bentuk kehati-hatian, bukan tanda ketidakpercayaan.

    Doxing sering kali bermula dari hal-hal yang tampak sepele. Sebuah perdebatan di media sosial, misalnya. Seseorang mengemukakan pendapat yang berbeda. Alih-alih membalas dengan argumen yang sehat, lawannya justru mencari identitas pribadi, kemudian menyebarkan alamat rumah, nomor telepon, atau tempat bekerja. Informasi tersebut lalu dibagikan kepada publik dengan tujuan memancing orang lain untuk ikut menyerang.

    Dalam waktu singkat, korban dapat menerima ratusan pesan kebencian, telepon tanpa henti, ancaman, bahkan intimidasi yang meluas hingga kepada keluarga dan lingkungan kerjanya.

    Inilah sebabnya doxing tidak dapat dianggap sekadar persoalan membocorkan data. Ia merupakan bentuk kekerasan digital yang dapat berkembang menjadi perundungan massal, pencurian identitas, pemerasan, penguntitan, bahkan ancaman terhadap keselamatan fisik. Batas antara dunia maya dan dunia nyata menjadi semakin kabur ketika informasi yang beredar di internet memicu tindakan nyata terhadap seseorang.

    Lalu yang lebih mengkhawatirkan, pelaku sering merasa sedang membela kebenaran. Atas nama kemarahan, fanatisme kelompok, persaingan, atau rasa keadilan versi sendiri, mereka menganggap penyebaran identitas pribadi sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, perbedaan pendapat tidak pernah menjadi alasan untuk mencabut hak seseorang atas privasi dan rasa aman.

    Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Jauh lebih penting adalah membangun etika dalam menggunakannya. Kita perlu membiasakan diri untuk berpikir sebelum mengunggah sesuatu.

    Apakah informasi ini memang perlu dipublikasikan? Apakah unggahan ini membuka terlalu banyak informasi tentang kehidupan pribadi saya? Apakah foto yang saya bagikan tanpa sengaja memperlihatkan data yang seharusnya tetap bersifat pribadi?

    Kehati-hatian yang sama juga perlu diterapkan ketika menerima informasi tentang orang lain. Jangan mudah meneruskan tangkapan layar yang memuat nomor telepon, alamat rumah, atau identitas pribadi seseorang.

    Jangan ikut menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang dapat membahayakan orang lain. Dalam banyak kasus, kerugian terbesar bukan hanya disebabkan oleh satu pelaku, tetapi oleh begitu banyak orang yang tanpa berpikir panjang ikut menyebarkan ulang informasi tersebut.

    Teknologi pada dasarnya tidak pernah menjadi musuh. Ia diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia, mempercepat komunikasi, memperluas pengetahuan, dan memperkuat kolaborasi. Namun, teknologi dapat berubah menjadi alat yang melukai ketika digunakan tanpa tanggung jawab.

    Doxing menjadi pengingat bahwa ancaman terbesar di dunia digital sering kali bukan berasal dari kecanggihan teknologinya, melainkan dari cara manusia memanfaatkan teknologi itu sendiri.

    Pada akhirnya, menjaga keamanan digital bukan hanya soal memiliki kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, atau memperbarui perangkat lunak secara berkala. Ingat bahwa yang sangat  mendasar adalah menjaga kebijaksanaan dalam membagikan informasi dan menghormati privasi sesama.

    Dunia digital akan menjadi ruang yang lebih aman apabila kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cerdas, tetapi juga warga digital yang beretika.

    Sebab di balik setiap akun media sosial, setiap alamat surat elektronik, setiap nomor telepon, dan setiap jejak data yang tersimpan di internet, selalu ada seorang manusia yang memiliki hak untuk hidup dengan rasa aman, dihormati martabatnya, dan terlindungi privasinya.

    Di tengah derasnya arus informasi, menjaga privasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan. Sering kali, perlindungan terbaik terhadap diri kita dimulai dari kesadaran sederhana bahwa tidak semua informasi tentang diri kita harus diketahui oleh semua orang.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture