Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • JEBAKAN STANDAR HIDUP GAYA TIKTOK

    10 Jul 2026 | Dilihat: 42 kali

    oleh: Riri Satria

    Belakangan ini muncul sebuah istilah yang semakin sering diperbincangkan, yaitu standar hidup gaya TikTok. Meskipun menggunakan nama TikTok, istilah ini sesungguhnya tidak hanya merujuk pada satu platform.

    Fenomena yang dimaksud juga terjadi di berbagai media sosial lain, seperti Instagram, Facebook, YouTube, X, dan platform digital lainnya. Penyebutan "standar hidup gaya TikTok" lebih merupakan simbol dari budaya media sosial yang membentuk cara pandang manusia terhadap keberhasilan, kebahagiaan, dan makna kehidupan.

    Sedikit demi sedikit, tanpa disadari, cara berpikir kita dibentuk oleh video-video pendek, foto-foto yang telah dikurasi, dan narasi yang dirancang untuk menarik perhatian. Potongan-potongan kehidupan itu kemudian dianggap sebagai gambaran tentang kehidupan yang normal dan ideal, padahal yang terlihat sering kali hanyalah cuplikan yang telah dipilih, disunting, dan dipoles sedemikian rupa.

    Fenomena ini merupakan salah satu gejala khas masyarakat digital (digital society), bahkan dapat dipandang sebagai konsekuensi dari lahirnya smart society. Teknologi membuat informasi mengalir tanpa batas, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan tantangan baru.

    Masyarakat perlahan memasuki apa yang oleh banyak pemikir disebut sebagai post-truth society, ketika persepsi, emosi, dan narasi yang terus diulang lebih mudah dipercaya daripada fakta dan penalaran yang sehat. Apa yang viral dianggap benar, apa yang populer dianggap layak ditiru, dan apa yang sering muncul di layar perlahan berubah menjadi standar kehidupan.

    Algoritma bukan hanya mengatur apa yang kita lihat, tetapi juga memengaruhi cara kita berpikir, menilai, bahkan menentukan cita-cita hidup. Gawat kan?

    Fenomena ini banyak terlihat di kalangan generasi muda dan pasangan yang baru membangun rumah tangga. Perasaan tertinggal mulai muncul ketika belum memiliki rumah pada usia tertentu, belum mampu membeli kendaraan impian, atau belum dapat menikmati gaya hidup seperti yang memenuhi beranda media sosial.

    Kualitas hubungan pun kerap diukur dari frekuensi pemberian hadiah, makan malam mewah, atau liburan yang menarik untuk dipamerkan.

    Pengaruh serupa juga menjangkiti mereka yang telah berusia setengah baya, bahkan lanjut usia. Kehidupan orang lain yang tampak selalu sehat, produktif, mapan, dan bahagia perlahan menjadi cermin untuk menghakimi kehidupan sendiri. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan, tantangan, kesempatan, dan titik awal yang berbeda.

    Logika sederhana sebenarnya sudah cukup untuk mempertanyakan semua itu. Bagaimana mungkin pasangan yang baru beberapa bulan atau beberapa tahun menikah, yang baru memulai karier dan masih berada pada tahap membangun kehidupan, tiba-tiba memiliki rumah mewah, mobil mewah, lalu berlibur ke Eropa berkali-kali dalam setahun sambil mempertahankan gaya hidup yang serba berlimpah?

    Tentu ada keadaan tertentu yang membuat hal itu mungkin terjadi, misalnya berasal dari keluarga yang sangat mampu, mewarisi kekayaan, atau memperoleh dukungan finansial yang luar biasa dari orang tua. Keadaan seperti itu merupakan pengecualian, bukan kenyataan yang dialami oleh sebagian besar masyarakat.

    Namun, media sosial sering kali menampilkan pengecualian seolah-olah merupakan kenyataan yang umum. Ketika pengecualian dipersepsikan sebagai standar, lahirlah ekspektasi yang tidak realistis dan rasa gagal yang sebenarnya tidak perlu.

    Sungguh ironis apabila arah kehidupan kita justru ditentukan oleh potongan-potongan video berdurasi beberapa detik yang entah dibuat oleh siapa, dengan pengalaman hidup seperti apa, dan untuk tujuan apa. Kutipan-kutipan pendek yang tampak bijaksana pun sering kali diterima begitu saja, meskipun belum tentu lahir dari pemikiran yang mendalam, tidak memiliki landasan yang kuat, bahkan dapat menyesatkan. Kalimat yang terdengar indah belum tentu benar. Video yang tampak meyakinkan belum tentu menggambarkan kenyataan.

    Proses berpikir kritis, kebiasaan memverifikasi, dan kemampuan merenungkan sebuah gagasan perlahan tergeser oleh kebiasaan menggulir layar tanpa henti. Tanpa disadari, algoritma mulai mengambil alih peran dalam membentuk cara kita berpikir dan menentukan apa yang dianggap penting dalam kehidupan.

    Tidak sedikit pula konten yang membangun ilusi tentang kehidupan yang nyaris sempurna. Sudut pengambilan gambar yang tepat, penyuntingan yang rapi, narasi yang menarik, serta kemampuan memilih hanya momen-momen terbaik mampu menciptakan kesan seolah-olah kehidupan itu benar-benar demikian adanya. Dalam banyak kasus, yang tersaji bukanlah realitas, melainkan fatamorgana digital.

    Sebagian bahkan sengaja membangun citra yang jauh berbeda dari kehidupan sebenarnya demi memperoleh perhatian, pengikut, popularitas, atau keuntungan ekonomi. Fatamorgana itulah yang kemudian dikonsumsi setiap hari oleh jutaan orang, hingga perlahan dianggap sebagai kenyataan. Persoalan menjadi jauh lebih serius ketika ilusi tersebut diadopsi oleh mereka yang belum memiliki kematangan berpikir dan kebijaksanaan yang memadai untuk menyaringnya.

    Keadaan seperti itulah yang melahirkan berbagai kebutuhan semu. Sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan tiba-tiba terasa mendesak hanya karena sedang menjadi tren. Barang-barang bermerek, gawai terbaru, dekorasi rumah, tempat makan yang estetik, hingga pola pengasuhan anak berubah menjadi bagian dari perlombaan yang tidak pernah selesai. Keputusan-keputusan penting tidak lagi lahir dari kebutuhan nyata, melainkan dari dorongan untuk mengikuti apa yang sedang viral.

    Kehidupan perlahan berubah menjadi panggung pertunjukan, sementara kepuasan batin justru semakin sulit ditemukan.

    Kondisi inilah yang mengingatkan kita bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja tidak lagi cukup.

    Masyarakat digital membutuhkan literasi digital yang tinggi, bukan hanya dalam arti mampu mengoperasikan perangkat atau aplikasi, tetapi juga mampu memahami cara kerja algoritma, memverifikasi informasi, membedakan fakta dari opini, mengenali manipulasi visual maupun narasi, serta menyadari bahwa tidak semua yang viral layak dijadikan rujukan hidup.

    Literasi digital harus berkembang menjadi kebijaksanaan digital (digital wisdom), yakni kemampuan menggunakan akal sehat, pengalaman, dan pertimbangan moral dalam menyikapi setiap informasi yang datang. Tanpa bekal itu, masyarakat akan mudah kehilangan arah, terjebak dalam persepsi yang keliru, dan mengadopsi standar hidup yang dibangun di atas ilusi.

    Kehidupan yang baik tidak diukur dari seberapa mirip kita dengan apa yang sedang viral. Kehidupan yang bermakna justru dibangun melalui kerja keras, kesabaran, kesederhanaan, rasa syukur, serta keberanian untuk berjalan sesuai nilai dan tujuan hidup sendiri. Media sosial dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi tidak boleh menjadi pengemudi kehidupan.

    Manusialah yang harus mengendalikan algoritma, bukan sebaliknya. Kemajuan teknologi seharusnya membuat manusia semakin cerdas, semakin kritis, dan semakin bijaksana, bukan semakin mudah diseret oleh arus persepsi yang diciptakan media sosial. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa sempurna kehidupan kita tampak di layar, melainkan seberapa arif kita menjalani kehidupan yang nyata.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture