Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • BELAJAR DARI WHY NATIONS FAIL DAN COLLAPSE

    11 Jul 2026 | Dilihat: 44 kali

    oleh Riri Satria

    Ada kalanya sebuah bangsa perlu berhenti sejenak, bukan untuk melihat seberapa jauh ia telah melangkah, tetapi untuk memastikan apakah arah yang ditempuh sudah benar. Dalam konteks Indonesia saat ini, ketika dinamika ekonomi dan berbagai indikator makro menjadi perhatian publik, saya justru teringat pada dua buku yang hingga hari ini masih temasuk dua buku favorit saya, yaitu "Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty" yang diterbitkan pada tahun 2012 oleh ekonom Daron Acemoglu dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) bersama ilmuwan politik James A. Robinson, serta buku "Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed" yang diterbitkan pada tahun 2005 oleh Jared Diamond, seorang profesor geografi UCLA yang juga dikenal sebagai ahli biologi evolusi dan sejarah peradaban.

    Saya membacanya beberapa tahun yang lalu, tetapi setiap kali situasi ekonomi, sosial, dan politik mengalami perubahan, saya merasa kedua buku tersebut tetap relevan untuk dibuka kembali. Bahkan, dalam konteks Indonesia hari ini, berbagai gagasan di dalamnya terasa semakin menarik untuk direnungkan.

    Pelajaran terbesar dari buku "Why Nations Fail" sesungguhnya dapat diringkas dalam satu kata yang sangat sederhana, tetapi sangat menentukan, yaitu tata kelola (governance). Acemoglu dan Robinson berpendapat bahwa kemakmuran sebuah negara bukan terutama ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, luas wilayah, jumlah penduduk, ataupun letak geografisnya. Semua itu hanyalah modal awal.

    Faktor yang benar-benar menentukan adalah bagaimana negara mengelola modal tersebut melalui institusi politik dan ekonomi yang sehat. Tata kelola yang baik akan menciptakan kepastian hukum, birokrasi yang profesional, kebijakan ekonomi yang konsisten, iklim investasi yang sehat, persaingan usaha yang adil, serta kesempatan yang terbuka bagi masyarakat untuk berinovasi dan meningkatkan kesejahteraannya.

    Sebaliknya, tata kelola yang lemah akan melahirkan korupsi, inefisiensi, ketidakpastian, rendahnya produktivitas, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, persoalan utama bukanlah seberapa besar kekayaan yang dimiliki sebuah bangsa, melainkan seberapa baik bangsa tersebut mengelola kekayaan itu.

    Jared Diamond menawarkan sudut pandang yang berbeda melalui buku "Collapse". Ia menunjukkan bahwa keruntuhan sebuah peradaban hampir tidak pernah terjadi akibat satu peristiwa besar. Keruntuhan biasanya merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang dibiarkan berlangsung terlalu lama tanpa penyelesaian yang memadai. Kerusakan lingkungan, salah kelola sumber daya, keputusan politik yang keliru, ketidakmampuan membaca perubahan, hingga sikap para pengambil keputusan yang enggan melakukan koreksi menjadi penyebab yang perlahan menggerogoti fondasi sebuah bangsa.

    Diamond mengingatkan bahwa banyak peradaban besar pada masanya justru runtuh ketika mereka merasa terlalu kuat untuk berubah. Oleh karena itu, kemampuan mengevaluasi diri, mendengar kritik, dan menyesuaikan kebijakan terhadap perubahan merupakan salah satu bentuk kecerdasan sebuah bangsa dalam menjaga keberlanjutan pembangunannya.

    Jika kedua buku tersebut dibaca secara bersamaan, maka kita memperoleh satu kerangka berpikir yang sangat relevan bagi Indonesia. Buku "Why Nations Fail" menjelaskan mengapa suatu bangsa gagal menciptakan kemakmuran, sedangkan buku "Collapse" menjelaskan mengapa bangsa yang telah mencapai kemajuan dapat kehilangan kejayaannya.

    Keduanya bertemu pada satu titik yang sama, yaitu bahwa kualitas tata kelola dan kualitas pengambilan keputusan jauh lebih menentukan daripada besarnya sumber daya yang dimiliki.

    Dalam perspektif ekonomi, pertumbuhan tidak boleh hanya dipahami sebagai kenaikan angka produk domestik bruto atau peningkatan investasi. Pertumbuhan ekonomi yang sehat harus mampu meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan kerja yang berkualitas, memperkuat daya beli masyarakat, membangun kelas menengah yang kokoh, serta menghadirkan pemerataan manfaat pembangunan. Semua itu tidak mungkin terwujud tanpa tata kelola yang baik.

    Dalam konteks Indonesia saat ini, pelajaran tersebut terasa semakin relevan. Berbagai indikator makro memang menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Namun, pada saat yang sama, masyarakat juga merasakan dinamika yang tidak ringan. Daya beli menjadi perhatian, penciptaan lapangan kerja berkualitas masih menjadi tantangan, dunia usaha menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati dalam berekspansi, sementara ketidakpastian ekonomi global terus memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional.

    Situasi seperti ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai persoalan angka-angka ekonomi, melainkan juga sebagai momentum untuk mengevaluasi kualitas tata kelola. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan semata-mata apakah ekonomi masih bertumbuh, tetapi apakah tata kelola yang kita bangun sudah cukup efektif untuk mengubah seluruh potensi Indonesia menjadi kesejahteraan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

    Di sinilah buku "Why Nations Fail" memberikan refleksi yang sangat kuat. Pada saat yang sama, buku "Collapse" mengingatkan agar kita tidak mengabaikan berbagai sinyal perubahan, sekecil apa pun, karena sejarah menunjukkan bahwa kemunduran sebuah bangsa sering kali dimulai dari persoalan-persoalan kecil yang dibiarkan menumpuk tanpa penyelesaian.

    Kedua buku tersebut memberikan pelajaran yang melampaui teori ekonomi maupun sejarah. Keduanya mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah bangsa bukanlah hasil dari keberuntungan, melainkan buah dari tata kelola yang baik, kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan, serta keberanian untuk terus melakukan koreksi ketika keadaan berubah.

    Indonesia memiliki hampir seluruh modal dasar untuk menjadi negara maju, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, posisi geografis yang strategis, hingga kapasitas ekonomi yang besar. Namun, semua potensi tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila dikelola dengan bijaksana.

    Oleh karena itu, saya merasa tidak ada salahnya jika kita kembali membuka "Why Nations Fail" dan "Collapse". Meskipun kedua buku tersebut saya baca beberapa tahun yang lalu, gagasan-gagasan di dalamnya tetap terasa hidup dan relevan hingga hari ini.

    Keduanya bukan sekadar buku tentang bangsa-bangsa yang gagal atau peradaban yang runtuh, melainkan cermin yang mengingatkan kita bahwa masa depan sebuah bangsa selalu ditentukan oleh kualitas tata kelolanya, kebijaksanaan para pemimpinnya, dan kemauan seluruh elemen bangsa untuk terus belajar sebelum terlambat.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture