Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Riri Satria dan Emi Suy
PUISI SEORANG PEREMPUAN DI JALAN SUNYI
Menjelang tengah malam sehabis gerimis
perempuan itu menyusuri lorong sunyi
jalan basah memantulkan wajah kota
yang pandai tersenyum
melihat luka orang lain.
Angin mengikuti dari belakang
mengacak rambut panjangnya
seperti tangan tak kasat mata
ingin memastikan
apakah kau masih berani berjalan
ketika dunia memilih menutup mata?
Di kejauhan
lampu-lampu jalan berpesta
musik berdentum dari kafe-kafe
gelak tawa pecah
seperti botol di trotoar
asap rokok menggantung di udara
seolah kota sedang membakar
surat-surat pengaduan
yang tak pernah dibaca.
Lalu sunyi datang
bukan sebagai ketiadaan suara
melainkan sebagai tangan
membekap mulut
ia memeluk perempuan itu erat-erat
bukan dengan kasih
melainkan dengan kekuasaan!
Perempuan itu meronta
tetapi siapa yang mendengar
ketika sebuah kota
lebih suka mendengar musik
daripada jeritan?
Ia menatap langit
tak ada bintang yang bersaksi
tak ada malaikat turun membawa palu
tak ada hakim membuka pintu pengadilan
hanya hujan yang tersisa
di ujung rambutnya
seperti air mata Tuhan
yang terlambat mengenali
siapa yang telah disakiti.
Di dadanya berdesak
segala yang tak pernah selesai
tentang hidup yang dibagi
kepada mereka yang sudah kenyang
tentang kebenaran yang dipasung
di ruang-ruang berpendingin
tentang kezaliman
tumbuh subur seperti lumut
di dinding kekuasaan
tentang manusia-manusia munafik
menyebut dirinya bermoral
sambil diam-diam
menghitung keuntungan
dari penderitaan.
Perempuan itu bertanya
Apakah Dewi Keadilan
telah berselingkuh dengan bandit jalanan?
Ataukah sejak awal
matanya memang sengaja ditutup
bukan agar ia adil
melainkan agar ia tak perlu melihat?
Ia bertanya lagi
Apakah Dewi Cinta
telah mendua dengan tikus-tikus malam?
Sebab mengapa cinta
begitu fasih mengucapkan kata kasih
tetapi begitu gagap
ketika berhadapan dengan ketidakadilan?
Perempuan itu terus berjalan
kini ia tahu
jalan sunyi bukanlah jalan tanpa manusia
jalan sunyi adalah jalan
ketika terlalu banyak manusia
namun memilih menjadi penonton.
Ia menutup mata
untuk pertama kalinya
ia tidak bertanya kepada Tuhan
Ia bertanya kepada dirinya sendiri
Benarkah cinta dan keadilan
selalu ditemukan di jalan sunyi?
Atau justru cinta dan keadilan
mati berkali-kali
setiap kali kita memilih diam
demi menyelamatkan kenyamanan
kita sendiri?
Malam semakin tua
perempuan itu tetap berjalan
sendiri
tetapi langkahnya kini
bukan lagi langkah
mencari jalan pulang.
Ia sedang mencari
siapa telah mencuri
keberanian manusia
dalam dada manusia.
Di ujung jalan
sebelum fajar datang
ia berbisik kepada malam
“Jika keadilan hanya berani muncul
ketika jalan telah ramai
biarlah aku menjadi suara
membangunkan sunyi.”
—- Dibacakan duet bersama penyair Emi Suy di pelataran Jam Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat, 4 tahun yang lalu, 2022
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]