Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • PUISI SEORANG PEREMPUAN DI JALAN SUNYI

    02 Sep 2026 | Dilihat: 17 kali

    Riri Satria dan Emi Suy

    PUISI SEORANG PEREMPUAN DI JALAN SUNYI

    Menjelang tengah malam sehabis gerimis

    perempuan itu menyusuri lorong sunyi

    jalan basah memantulkan wajah kota

    yang pandai tersenyum

    melihat luka orang lain.

     

    Angin mengikuti dari belakang

    mengacak rambut panjangnya

    seperti tangan tak kasat mata

    ingin memastikan

    apakah kau masih berani berjalan

    ketika dunia memilih menutup mata?

     

    Di kejauhan

    lampu-lampu jalan berpesta

    musik berdentum dari kafe-kafe

    gelak tawa pecah

    seperti botol di trotoar

    asap rokok menggantung di udara

    seolah kota sedang membakar

    surat-surat pengaduan

    yang tak pernah dibaca.

     

    Lalu sunyi datang

    bukan sebagai ketiadaan suara

    melainkan sebagai tangan

    membekap mulut

    ia memeluk perempuan itu erat-erat

    bukan dengan kasih

    melainkan dengan kekuasaan!

     

    Perempuan itu meronta

    tetapi siapa yang mendengar

    ketika sebuah kota

    lebih suka mendengar musik

    daripada jeritan?

     

    Ia menatap langit

    tak ada bintang yang bersaksi

    tak ada malaikat turun membawa palu

    tak ada hakim membuka pintu pengadilan

    hanya hujan yang tersisa

    di ujung rambutnya

    seperti air mata Tuhan

    yang terlambat mengenali

    siapa yang telah disakiti.

     

    Di dadanya berdesak

    segala yang tak pernah selesai

    tentang hidup yang dibagi

    kepada mereka yang sudah kenyang

    tentang kebenaran yang dipasung

    di ruang-ruang berpendingin

    tentang kezaliman

    tumbuh subur seperti lumut

    di dinding kekuasaan

    tentang manusia-manusia munafik

    menyebut dirinya bermoral

    sambil diam-diam

    menghitung keuntungan

    dari penderitaan.

     

    Perempuan itu bertanya

    Apakah Dewi Keadilan

    telah berselingkuh dengan bandit jalanan?

     

    Ataukah sejak awal

    matanya memang sengaja ditutup

    bukan agar ia adil

    melainkan agar ia tak perlu melihat?

     

    Ia bertanya lagi

    Apakah Dewi Cinta

    telah mendua dengan tikus-tikus malam?

     

    Sebab mengapa cinta

    begitu fasih mengucapkan kata kasih

    tetapi begitu gagap

    ketika berhadapan dengan ketidakadilan?

     

    Perempuan itu terus berjalan

    kini ia tahu

    jalan sunyi bukanlah jalan tanpa manusia

    jalan sunyi adalah jalan

    ketika terlalu banyak manusia

    namun memilih menjadi penonton.

     

    Ia menutup mata

    untuk pertama kalinya

    ia tidak bertanya kepada Tuhan

    Ia bertanya kepada dirinya sendiri

     

    Benarkah cinta dan keadilan

    selalu ditemukan di jalan sunyi?

     

    Atau justru cinta dan keadilan

    mati berkali-kali

    setiap kali kita memilih diam

    demi menyelamatkan kenyamanan

    kita sendiri?

     

    Malam semakin tua

    perempuan itu tetap berjalan

    sendiri

    tetapi langkahnya kini

    bukan lagi langkah

    mencari jalan pulang.

     

    Ia sedang mencari

    siapa telah mencuri

    keberanian manusia

    dalam dada manusia.

     

    Di ujung jalan

    sebelum fajar datang

    ia berbisik kepada malam

     

    “Jika keadilan hanya berani muncul

    ketika jalan telah ramai

    biarlah aku menjadi suara

    membangunkan sunyi.”

    —- Dibacakan duet bersama penyair Emi Suy di pelataran Jam Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat, 4 tahun yang lalu, 2022

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Recent Event: Medan, 28 Agustus 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture