Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • SELESAI TAK USAI: KETIKA GAGASAN TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SELESAI

    08 Aug 2026 | Dilihat: 20 kali

    oleh: Riri Satria

    Buku "Selesai Tak Usai" hadir dari ruang pemikiran yang berbeda, tetapi berangkat dari hasrat yang sama, yaitu keinginan untuk berbagi proses berpikir dan pengalaman menulis. Judul buku ini memang sedikit nyeleneh. Judul "Selesai Tak Usai" merupakan gagasan dari sahabat sekaligus editor saya, Sofyan RH Zaid.

    Pada awalnya, judul tersebut terasa seperti tidak memiliki hubungan langsung dengan isi buku. Kumpulan esai tentang berbagai persoalan, bentuk tulisan, gagasan, pengalaman, dan refleksi kehidupan seolah tidak memiliki kaitan dengan frasa “selesai tak usai”. Pembaca mungkin akan bertanya, mengapa buku ini diberi judul seperti itu?

    Jawabannya baru terasa ketika pembaca menelusuri tulisan demi tulisan di dalamnya. Sesuatu yang selesai ditulis belum tentu selesai dipikirkan. Sebuah gagasan yang telah dituangkan dalam buku masih dapat tumbuh, diperdebatkan, ditafsirkan, bahkan melahirkan gagasan-gagasan baru. "Selesai Tak Usai" akhirnya bukan sekadar judul, melainkan cara pandang terhadap proses berpikir dan menulis. Silakan baca bukunya, lalu temukan sendiri hubungan antara judul dan isinya.

    Buku ini lahir dari perjalanan panjang dalam membaca, mengamati, menulis, mengoreksi, serta merenungkan berbagai persoalan kehidupan. Saya mencoba mengajak pembaca memahami bahwa esai bukan sekadar tulisan bebas yang mengalir begitu saja. Esai memiliki karakter, tujuan, struktur, dan arah.

    Buku ini membahas berbagai ragam esai, mulai dari deskriptif, naratif, reflektif, kontemplatif, hingga argumentatif. Buku ini juga menyentuh bentuk-bentuk yang lebih spesifik, seperti advertorial dan tulisan dengan sentuhan postmodernis. Setiap bentuk memiliki karakter dan tujuan yang berbeda. Pemahaman terhadap karakter tersebut membantu penulis memilih cara yang paling tepat untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca.

    Menulis akhirnya bukan sekadar persoalan kemampuan merangkai kata, tetapi juga kemampuan mengenali bentuk yang sesuai dengan gagasan yang hendak disampaikan.

    Menulis bukan hanya kegiatan menuangkan ide ke dalam rangkaian kata. Menulis merupakan proses memilih bentuk yang paling jujur dan paling tepat bagi maksud yang ingin disampaikan. Penulis membutuhkan kesadaran terhadap tujuan, konteks, pembaca, serta karakter gagasan yang dibawanya.

    Pemilihan bentuk yang tepat membuat tulisan menjadi lebih fokus, lebih bernas, dan lebih setia kepada ruh gagasannya. Proses tersebut membuat kegiatan menulis menjadi perjalanan intelektual yang mempertemukan pengalaman, pengetahuan, imajinasi, kegelisahan, dan keyakinan.

    Sebuah tulisan mungkin selesai ketika titik terakhir telah diletakkan, tetapi pemikiran di balik tulisan itu dapat terus bergerak. Pembaca dapat memberikan tafsir baru, kritik baru, bahkan pertanyaan baru. Makna sebuah tulisan tidak selalu berhenti ketika penulis mengakhiri kalimat terakhirnya.

    "Selesai Tak Usai" pada akhirnya merupakan salah satu fragmen dari diri saya. Buku ini menyimpan jejak waktu, kecemasan, cinta, pengalaman, serta keyakinan yang pernah tumbuh dalam perjalanan kehidupan. Sebuah buku memang selesai ketika seluruh naskah telah ditulis, diedit, dicetak, dan diterbitkan.

    Gagasan di dalamnya tidak pernah benar-benar selesai ketika buku tersebut berada di tangan pembaca. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan budi baik, gagasan, pemikiran, serta ilmu yang bermanfaat. Saya berharap buku ini dapat meninggalkan sesuatu yang sederhana, tetapi berarti, bagi siapa pun yang membacanya.

    Saya juga berharap pembaca tidak hanya menemukan jawaban dalam buku ini, tetapi menemukan pertanyaan-pertanyaan baru yang membuat proses berpikir terus berjalan. Pada titik itulah sesuatu yang selesai sesungguhnya menjadi tidak usai.

    Proses panjang penerbitan buku ini melibatkan banyak tangan, pikiran, dan hati. Saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah mendukung proses pengumpulan naskah, evaluasi, editing, hingga penerbitan. JSM Press bersama Taresi telah memberikan ruang dan dukungan yang sangat berarti bagi lahirnya buku ini.

    Saya secara khusus menyampaikan terima kasih kepada sahabat sekaligus editor saya, Sofian R. H. Zaid, yang memberikan gagasan judul Selesai Tak Usai dan membantu naskah ini menemukan bentuk akhirnya. Ketelitian dan kesabaran Sofian R. H. Zaid bersama Tim Taresi telah memberikan sentuhan penting dalam perjalanan buku ini.

    Para sahabat yang memberikan masukan, kritik, dan saran juga memiliki tempat yang istimewa dalam proses tersebut. Buku yang akhirnya selesai dicetak tidak lagi menjadi milik saya semata. Buku ini menjadi hasil dari banyak tangan, banyak pikiran, dan banyak hati yang ikut menyentuh serta membentuknya.

    Buku ini mungkin telah selesai, tetapi perjalanan gagasan di dalamnya baru saja dimulai.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture