Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • SEBUAH OBROLAN SORE TENTANG DEEPFAKE POETRY

    01 Apr 2026 | Dilihat: 14 kali

    Jadi begini Emi ... akhir-akhir ini saya sering memikirkan sesuatu yang ruwet bin mumet, namun dengan rasa ingn tahu, bagaimana jika puisi yang selama ini kita anggap sebagai suara paling intim dari jiwa manusia, ternyata bisa memiliki bayangan yang begitu mirip dengan dirinya sendiri?

    Bayangan itu bukan tubuh, bukan penyair, serta bukan pengalaman hidup yang sungguh-sungguh dijalani, melainkan sebuah tiruan yang nyaris sempurna. Di situlah saya mulai memahami apa yang disebut deepfake poetry. Nah, ruwet kan?

    Bayangkan kita sedang duduk pada sebuah sore yang agak muram, ditemani secangkir kopi yang mulai mendingin. Lalu saya membacakan sebuah puisi. Kata-katanya lembut, ritmenya mengalir, metaforanya terasa seperti luka yang pernah kita simpan diam-diam di dalam dada.

    Puisi itu begitu menyentuh, seolah lahir dari seseorang yang benar-benar pernah patah, pernah kehilangan, pernah mencintai dengan segenap sunyi.

    Namun kemudian saya berkata kepada Emi, “Puisi ini tidak ditulis manusia. Ini ditulis oleh mesin.” Mungkin kita akan sama-sama terdiam sesaat.

    Di situlah letak kegelisahan sekaligus daya tarik deepfake poetry. Ia bukan sekadar puisi yang ditulis oleh kecerdasan buatan. Ia lebih dari itu, sebuah puisi yang mampu meniru suara, emosi, gaya, bahkan aura seorang penyair tertentu, sampai-sampai kita merasa sedang mendengar seseorang yang kita kenal. Seolah-olah suara itu datang dari penyair yang sudah lama pergi, atau dari seorang sahabat yang tidak sedang ada di ruangan ini.

    Puisi itu hadir seperti gema, indah, akrab, tetapi juga sedikit menghantui. Deepfake!

    Saya sering membayangkannya seperti ini, ada sebuah mesin yang diberi ribuan puisi cinta, ribuan elegi, ribuan catatan tentang kehilangan dan kerinduan. Mesin itu lalu belajar bukan hanya kata, tetapi pola kesedihan, cara manusia mengubah luka menjadi metafora, cara rindu diselipkan ke dalam hujan, senja, atau nama yang tak lagi disebut.

    Ketika ia mulai menulis, hasilnya bisa begitu meyakinkan. Ia bisa menulis tentang kesepian dengan nada yang terasa manusiawi. Ia bisa berbicara tentang cinta seolah pernah terluka. Padahal ia tidak pernah memiliki jantung yang berdebar, tidak pernah menangis di tengah malam, tidak pernah menunggu pesan yang tak kunjung datang.

    Mungkin justru di sanalah letak paradoksnya. Puisi selama ini kita percaya sebagai ruang paling manusiawi, tempat emosi, ingatan, dan pengalaman personal berdiam. Tetapi deepfake poetry  menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam, apakah keindahan masih harus lahir dari pengalaman nyata? Apakah sebuah puisi kehilangan nilainya hanya karena ia tidak berasal dari penderitaan yang sungguh dialami?

    Saya sendiri tidak punya jawaban yang sederhana. Ada satu sisi dalam diri saya yang merasa takjub. Sebagai pembaca dan pencinta sastra, saya melihat kemampuan bahasa untuk terus berkembang, bahkan melampaui tubuh manusia itu sendiri.

    Tetapi ada sisi lain yang merasa sedikit sedih. Sebab ketika sebuah mesin mampu menulis puisi yang membuat kita menangis, kita mulai bertanya-tanya, apakah air mata kita sedang merespons keindahan, atau sekadar merespons ilusi tentang keindahan?

    Deepfake ini bisa bergerak lebih jauh lagi. Bukan hanya puisi, tetapi cerpen, novel, memoar, bahkan surat-surat yang seolah sangat personal dapat diciptakan dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar terjadi. Sebuah kisah kehilangan ibu, kisah masa kecil di desa, kisah cinta yang gagal, semuanya bisa ditulis dengan begitu meyakinkan.

    Kita membaca dan merasa dekat, padahal yang kita peluk hanyalah simulasi pengalaman. Ada sesuatu yang nyaris seperti kenangan, tetapi sebenarnya tidak pernah hidup. Kita hanya ditipu oleh algortma dan kecerdasan buatan. Deepfake!

    Kadang saya merasa fenomena ini seperti cermin besar yang memantulkan wajah sastra kita hari ini. Bukankah sejak lama sastra memang selalu bermain dengan kemungkinan?

    Penyair menciptakan suara lirik yang belum tentu identik dengan dirinya sendiri. Novelis menciptakan tokoh yang tidak pernah ada. Dalam arti tertentu, sastra memang sejak awal adalah seni dari kemungkinan dan simulasi.

    Namun deepfake membuat simulasi itu mencapai tingkat yang baru, lebih halus, lebih meyakinkan, lebih sulit dibedakan dari yang otentik.

    Nah, yang membuat saya paling reflektif adalah pertanyaan tentang jiwa. Apakah jiwa sebuah puisi berada pada penulisnya, atau pada pengalaman pembacanya? Jika sebuah puisi buatan AI mampu membuat seseorang merasa dipahami, merasa ditemani dalam kesedihan, apakah ia kurang “nyata” dibanding puisi yang ditulis manusia?

    Ataukah justru kita sedang memasuki zaman ketika keaslian tidak lagi terletak pada asal-usul teks, melainkan pada resonansi emosional yang ditimbulkannya?

    Saya membayangkan jika kita membicarakan ini bersama, kamu mungkin akan tersenyum tipis lalu berkata bahwa puisi selalu memiliki sisi hantu, sesuatu yang hadir namun tak bisa disentuh sepenuhnya.

    Mungkin benar, deepfake poetry adalah hantu baru dalam dunia sastra: ia hadir dengan suara yang akrab, dengan emosi yang nyaris manusia, tetapi tanpa tubuh, tanpa sejarah, tanpa luka yang benar-benar pernah berdarah.

    Barangkali yang paling penting bukan sekadar bertanya apakah puisi itu asli atau palsu, melainkan apa yang ia lakukan terhadap hati kita. Sebab pada akhirnya, puisi selalu hidup di wilayah yang paling dalam pada diri manusia, yaitu  ingatan, rasa, dan makna.

    Mungkin justru karena itu, deepfake poetry membuat kita kembali menengok pertanyaan paling lama dalam sastra: apa sebenarnya yang membuat sebuah puisi menjadi hidup?

    Emi, sebagai orang yang bergaul dengan teknologi digital sekaligus mencintai puisi, saya ingin mengatakan bahwa untuk deepfake poetry masa kini, teknologi Generative Adversarial Network, atau GAN bukan lagi satu-satunya atau bahkan model utama.

    Sekarang, teks dan puisi jauh lebih sering dihasilkan oleh model transformer seperti Large Language Model atau LLM. Namun secara gagasan, GAN membantu kita memahami bagaimana sebuah puisi “tiruan” alias puisi palsu bisa lahir.

    Bayangkan begini, dalam deepfake poetry, ada upaya untuk menghasilkan puisi yang terasa seolah ditulis oleh penyair tertentu, misalnya ritmenya mirip, metaforanya khas, bahkan nadanya terasa sangat manusiawi.

    Di sinilah logika GAN sangat relevan, satu jaringan berperan sebagai pencipta puisi, sementara jaringan lain berperan sebagai pengkritik atau penilai keaslian gaya. Nah yang satu terus menulis, yang satu terus bertanya, “apakah ini sudah terdengar seperti puisi yang otentik?”

    Melalui proses saling menguji itu, hasil teks menjadi semakin meyakinkan. Penelitian tentang GAN untuk generasi teks dan karya kreatif seperti puisi serta lirik memang pernah berkembang cukup luas.

    Kalau kita kaitkan dengan istilah deepfake, maka “fake”-nya bukan lagi wajah atau suara, melainkan suara estetik penyair, yang dipalsukan adalah aura kepenyairan, kesedihan yang terasa nyata, kerinduan yang tampak personal, atau gaya bahasa yang seolah milik seseorang.

    Jadi misalnya mesin menulis puisi yang sangat mirip gaya Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono, maka itu bisa disebut bentuk deepfake poetry. Dalam konteks ini, GAN adalah salah satu kerangka teknologi yang secara teoritis memungkinkan lahirnya “tiruan suara sastra” tersebut, meski kini model transformer LLM lebih dominan untuk teks.

    Menurut saya, yang paling reflektif justru ini, deepfake poetry membuat kita bertanya, apakah jiwa puisi terletak pada siapa yang menulisnya, atau pada apa yang kita rasakan ketika membacanya?

    Jika sebuah puisi buatan mesin mampu membuat kita terdiam, teringat masa lalu, bahkan meneteskan air mata, apakah ia kurang puitis hanya karena tidak lahir dari pengalaman manusia?

    Di sinilah GAN dan deepfake poetry bertemu, bukan hanya sebagai teknologi, tetapi sebagai pertanyaan filosofis tentang keaslian, emosi, dan makna dalam sastra.

    Saya rasa kegelisahan ini akan terus tinggal bersama kita. Mungkin di masa depan kita akan membaca puisi-puisi yang indah tanpa pernah tahu siapa yang benar-benar menulisnya.

    Namun justru dari kegelisahan itulah sastra terus bernapas. Sebab setiap zaman selalu melahirkan cara baru untuk bertanya tentang manusia, dan hari ini pertanyaan itu datang dari bayangan yang ditulis oleh mesin.

    Eh Emi ... by the way, tulisan ini deepfake atau bukan ya? Atau jangan-jangan foto-foto kita ini juga deepfake? Ah, jangan-jangan kita memang deepfake. Gimana dong?

    -- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture