Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DEEP LEARNING: MANUSIA MEMAHAMI MAKNA, AI MENGENALI POLA

    08 Jul 2026 | Dilihat: 21 kali

    oleh: Riri Satria

    Banyak orang masih salah kaprah memahami istilah deep learning. Perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) membuat sebagian besar orang menganggap bahwa deep learning hanyalah istilah yang berasal dari dunia AI. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

    Istilah deep learning sesungguhnya hidup dalam dua dunia yang berbeda. Dunia pertama adalah human learning process atau proses belajar manusia yang berkembang dalam ilmu pendidikan. Dunia kedua adalah dunia kecerdasan buatan yang menggunakan deep learning sebagai metode komputasi untuk melatih mesin agar mampu mengenali pola dan membuat prediksi.

    Kedua ranah tersebut menggunakan istilah yang sama, tetapi memiliki tujuan, mekanisme, dan hakikat yang berbeda. Fenomena ini menjadi semakin menarik karena belakangan para guru di Indonesia juga diminta mengikuti berbagai pelatihan mengenai deep learning.

    Beberapa hari yang lalu saya diminta untuk membahas deep learning dalam sebuah forum diskusi. Pada awal pemaparan, saya sengaja mengawali penjelasan dengan meluruskan kesalahpahaman tersebut. Saya menyampaikan bahwa peserta perlu membedakan lebih dahulu dua makna deep learning sebelum memasuki pembahasan yang lebih jauh.

    Penjelasan itu penting karena diskusi tentang pendidikan sering kali bercampur dengan diskusi mengenai AI. Kesamaan istilah kerap membuat orang menyimpulkan bahwa keduanya merupakan konsep yang sama, padahal masing-masing berkembang dari disiplin ilmu yang berbeda dan menjawab persoalan yang berbeda pula.

    Deep learning pada manusia bertujuan membangun pemahaman yang utuh terhadap suatu persoalan. Proses belajar dimulai ketika seseorang menerima informasi melalui membaca, mendengar, mengamati, atau mengalami suatu peristiwa secara langsung. Informasi tersebut kemudian diolah melalui proses berpikir, dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, dipertanyakan, didiskusikan, lalu direfleksikan.

    Proses berikutnya menghasilkan pemahaman yang semakin matang karena seseorang mulai mampu melihat hubungan sebab-akibat, menemukan pola, membandingkan berbagai sudut pandang, hingga menyusun kesimpulan yang logis. Pengetahuan yang diperoleh akhirnya tidak sekadar tersimpan sebagai ingatan, tetapi berubah menjadi kemampuan mengambil keputusan, melahirkan kreativitas, bahkan membentuk karakter dan kebijaksanaan.

    Deep learning dalam dunia AI berlangsung melalui tahapan yang sama sekali berbeda. Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan data dalam jumlah yang sangat besar, kemudian data tersebut dibersihkan, diberi label apabila diperlukan, dan dipersiapkan agar dapat diproses oleh komputer. Data berikutnya dimasukkan ke dalam jaringan saraf tiruan (artificial neural networks) yang terdiri atas banyak lapisan.

    Setiap lapisan mengekstraksi karakteristik tertentu, mulai dari pola yang paling sederhana hingga pola yang semakin kompleks. Hasil prediksi model kemudian dibandingkan dengan jawaban yang benar untuk menghitung tingkat kesalahan (loss). Nilai kesalahan tersebut digunakan untuk memperbarui jutaan parameter atau weights melalui proses optimasi.

    Siklus tersebut berlangsung berulang kali sampai model mampu mengenali pola dengan tingkat akurasi yang tinggi. Seluruh proses tersebut berlangsung dalam bentuk operasi matematis tanpa melibatkan kesadaran, pengalaman hidup, ataupun pemahaman makna.

    Perbedaan kedua proses tersebut menjadi semakin jelas apabila diamati langkah demi langkah. Manusia menerima pengalaman, lalu memberi perhatian terhadap pengalaman itu, menghubungkannya dengan pengetahuan lama, melakukan refleksi, menguji gagasan melalui dialog atau praktik, kemudian menyimpan hasilnya sebagai pemahaman yang dapat digunakan dalam situasi baru.

    AI menerima data, mengubah data menjadi representasi numerik, menghitung hubungan antar variabel, menyesuaikan parameter model berdasarkan kesalahan prediksi, lalu menghasilkan model yang mampu memberikan prediksi pada data baru. Manusia bergerak dari pengalaman menuju makna, sedangkan AI bergerak dari data menuju probabilitas.

    Perbedaan berikutnya terletak pada kemampuan memberikan arti terhadap apa yang dipelajari. Seorang mahasiswa yang mempelajari transformasi digital pelabuhan tidak hanya memahami teknologi yang digunakan, tetapi juga mampu menilai dampaknya terhadap efisiensi logistik, kesejahteraan pekerja, daya saing nasional, hingga aspek etika dan kebijakan publik.  Pengetahuan tersebut lahir dari perpaduan antara pengalaman, nalar, empati, nilai, dan refleksi.

    Sebaliknya, AI dapat mengenali jutaan gambar kapal, membedakan kapal kontainer dari kapal tanker, bahkan memprediksi jenis kapal dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Kemampuan tersebut tidak muncul karena AI memahami arti penting sebuah pelabuhan atau peran kapal dalam kehidupan manusia, melainkan karena AI berhasil menemukan pola statistik yang konsisten di dalam data yang dipelajarinya.

    Kesamaan di antara keduanya tetap menarik untuk dicermati. Manusia maupun AI sama-sama membutuhkan proses belajar, latihan yang berulang, umpan balik, serta pengalaman yang terus bertambah agar kemampuannya meningkat. Kualitas hasil belajar keduanya juga sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi yang diterima.

    Persamaan tersebut sering membuat orang menyangka bahwa AI belajar seperti manusia, padahal yang serupa hanyalah kerangka besarnya, bukan hakikat prosesnya. Manusia membangun pengetahuan melalui pengalaman yang diberi makna, sedangkan AI membangun model melalui data yang diolah secara matematis.

    Perkembangan AI tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti kemampuan manusia, melainkan sebagai pelengkap yang memperkuat daya pikir manusia. Kedalaman belajar manusia pada akhirnya tidak hanya diukur dari banyaknya informasi yang dikuasai, tetapi juga dari kemampuannya memberi makna, melahirkan kebijaksanaan, serta menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab demi kemaslahatan bersama.

    AI dapat membantu manusia mengenali dunia dengan lebih cepat dan lebih akurat, tetapi manusialah yang tetap menentukan arah, tujuan, nilai, dan makna dari setiap pengetahuan yang dihasilkan. Itulah sebabnya istilah deep learning layak dipahami secara utuh, bukan hanya sebagai teknologi, melainkan juga sebagai filosofi tentang bagaimana manusia membangun pengetahuan yang mendalam.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture