Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
12 hingga 15 tahun yang lalu, media sosial adalah panggung yang nyaris tidak pernah sepi. Orang mengunggah foto makanan, perjalanan, keluarga, pekerjaan, bahkan hal-hal sederhana yang terjadi dalam kesehariannya. Semakin sering membagikan kehidupan pribadi, semakin tinggi pula rasa keterhubungan dengan dunia digital.
Namun lanskap itu perlahan berubah. Kini, banyak orang masih membuka media sosial setiap hari, tetapi jauh lebih jarang mengunggah sesuatu tentang dirinya. Mereka lebih banyak menonton video, membaca informasi, menyimpan konten, atau membagikannya melalui percakapan pribadi. Dunia digital tetap ramai, tetapi panggung utamanya tidak lagi dipenuhi oleh unggahan kehidupan personal.
Perubahan perilaku ini bukan sekadar kesan sesaat. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti mulai menyebutnya sebagai social media fatigue, yaitu kondisi ketika pengguna mengalami kejenuhan, kelelahan emosional, dan menurunnya motivasi untuk berinteraksi secara aktif di media sosial.
Sebuah systematic review yang diterbitkan di jurnal Telematics and Informatics pada tahun 2021 menelaah 40 penelitian dari berbagai negara dan menyimpulkan bahwa penyebab utamanya berada pada tiga tingkat sekaligus yaitu faktor individu, seperti kelelahan psikologis; faktor relasional, seperti tekanan sosial untuk selalu tampil baik, dan faktor lingkungan, terutama banjir informasi yang tidak pernah berhenti.
Penelitian lain berupa meta-analysis yang menggabungkan puluhan studi dengan puluhan ribu responden juga menunjukkan bahwa kelelahan media sosial berhubungan kuat dengan keinginan untuk mengurangi penggunaan atau menghentikan aktivitas aktif di media sosial.
Menariknya, yang mengalami perubahan bukanlah tingkat penggunaan media sosial, melainkan pola penggunaannya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak pengguna kini berubah menjadi silent users atau lurkers, di mana mereka aktif mengamati, tetapi pasif mengunggah. Mereka tetap mengetahui berita terbaru, menikmati video pendek, mengikuti berbagai komunitas, bahkan menghabiskan waktu berjam-jam di platform digital.
Namun, mereka tidak lagi merasa perlu menceritakan setiap pengalaman hidup kepada publik. Dengan kata lain, media sosial bergeser dari budaya sharing menuju budaya viewing. Orang tetap hadir, tetapi tidak selalu ingin terlihat.
Perubahan ini juga terlihat jika ditinjau dari sisi demografi.
Generasi Z, yang sejak kecil telah hidup berdampingan dengan internet dan telepon pintar, justru menjadi kelompok yang paling selektif dalam mengunggah kehidupan pribadinya. Mereka lebih menyukai komunikasi melalui grup kecil, pesan langsung, atau akun privat. Mereka tetap sangat aktif secara digital, tetapi lebih banyak mengonsumsi konten daripada memproduksinya.
Berbagai kajian mengenai perilaku Gen Z menunjukkan bahwa meningkatnya kesadaran terhadap privasi, kecenderungan melakukan perbandingan sosial, serta kekhawatiran terhadap jejak digital ikut membentuk pola tersebut.
Sementara itu, Gen Y mengalami perubahan yang cukup menarik. Merekalah generasi yang membesarkan Facebook, Instagram, dan Twitter pada dekade 2010-an. Akan tetapi, memasuki usia yang lebih matang, banyak di antara mereka mulai mengurangi unggahan pribadi. Prioritas pekerjaan, keluarga, dan kebutuhan akan privasi membuat aktivitas berbagi menjadi lebih selektif.
Di sisi lain, Generasi X masih relatif aktif menggunakan media sosial untuk membagikan informasi, aktivitas keluarga, maupun opini, sedangkan kelompok usia yang lebih tua umumnya memanfaatkan media sosial untuk menjaga hubungan dengan keluarga dan mengikuti perkembangan berita.
Dengan demikian, penurunan antusiasme mengunggah memang terjadi di hampir semua kelompok usia, tetapi alasan dan bentuknya berbeda-beda.
Di balik semua itu, mungkin ada pelajaran sosial yang lebih besar. Selama bertahun-tahun kita hidup dalam budaya digital yang mendorong setiap orang untuk selalu terlihat, selalu hadir, dan selalu membagikan sesuatu. Kini, semakin banyak orang mulai menyadari bahwa tidak semua pengalaman harus dipublikasikan agar memiliki makna.
Ada kebahagiaan yang cukup dinikmati bersama keluarga. Ada pencapaian yang tidak harus diumumkan kepada dunia. Ada percakapan yang lebih hangat ketika berlangsung dalam ruang yang kecil dan privat daripada di hadapan ribuan pengikut.
Jika dilihat dari sisi demografi, setiap generasi memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menggunakan media sosial. Generasi Z lebih banyak menghabiskan waktu di TikTok, Instagram, YouTube, dan Discord dengan pola penggunaan yang didominasi konsumsi konten, hiburan, dan komunitas.
Gen Y masih aktif menggunakan Instagram, YouTube, WhatsApp, serta LinkedIn untuk kebutuhan profesional, sementara Facebook mulai berkurang meskipun belum ditinggalkan sepenuhnya.
Generasi X relatif lebih banyak memanfaatkan Facebook, WhatsApp, dan YouTube untuk berbagi informasi, mengikuti berita, serta menjaga hubungan sosial. Adapun Baby Boomers umumnya menggunakan WhatsApp, Facebook, dan YouTube untuk berkomunikasi dengan keluarga dan memperoleh informasi.
Menariknya, meskipun platform yang digunakan berbeda, hampir semua generasi menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu semakin selektif mengunggah kehidupan pribadi dan semakin sering berkomunikasi melalui ruang-ruang yang lebih privat.
Barangkali, social media fatigue bukan sekadar gejala kelelahan menggunakan teknologi. Ia juga merupakan tanda bahwa masyarakat digital sedang mengalami proses pendewasaan.
Setelah bertahun-tahun menikmati euforia menjadi pusat perhatian, kini semakin banyak orang memilih menjadi pengguna yang lebih tenang, lebih selektif, dan lebih sadar akan batas antara ruang publik dan ruang pribadi.
Mungkin inilah ironi zaman digital: ketika teknologi semakin memudahkan kita untuk berbicara kepada semua orang, semakin banyak pula yang memilih untuk berbicara hanya kepada mereka yang benar-benar berarti. ![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]