Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • AGILE STRATEGY, AGILE STRATEGIC MANAGEMENT, DAN CORE COMPETENCE OF THE CORPORATION

    03 Jul 2026 | Dilihat: 9 kali

    oleh: Riri Satria

    Tulisan singkat ini merupakan pengantar yang saya siapkan untuk sebuah focus group discussion (FGD) mengenai strategic management di lingkungan sebuah korporat. Dunia bisnis saat ini berada dalam fase yang ditandai oleh disrupsi teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence), ketidakpastian geopolitik, perubahan rantai pasok global, serta pergeseran perilaku konsumen yang berlangsung sangat cepat.

    Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan mendasar, apakah konsep-konsep manajemen strategis yang selama ini kita gunakan masih memadai, atau justru memerlukan cara pandang baru yang lebih adaptif? Pertanyaan inilah yang akan menjadi titik tolak diskusi kita.

    Perubahan dunia saat ini berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan beberapa dekade lalu. Kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan, dinamika geopolitik, disrupsi ekonomi, hingga perubahan perilaku masyarakat membuat organisasi tidak lagi dapat mengandalkan strategi yang disusun secara kaku untuk jangka waktu lima atau sepuluh tahun.

    Dalam konteks inilah berkembang konsep Agile Strategy, yaitu pendekatan penyusunan strategi yang adaptif, fleksibel, dan terus diperbarui sesuai perubahan lingkungan. Gagasan ini tidak lahir dari satu tokoh tunggal, melainkan berkembang dari perpaduan pemikiran Agile Management yang dipelopori oleh Jeff Sutherland dan Ken Schwaber melalui kerangka Scrum, kemudian diadaptasi ke dalam bidang manajemen strategis oleh para pakar seperti Yves Doz dan Mikko Kosonen melalui gagasan Strategic Agility.

    Strategi tidak lagi dipandang sebagai dokumen yang selesai disusun, melainkan sebagai proses pembelajaran yang berlangsung secara terus-menerus.

    Perkembangan pemikiran tersebut kemudian melahirkan konsep yang lebih luas, yaitu Agile Strategic Management. Jika Agile Strategy berfokus pada bagaimana strategi dirumuskan, diuji, dan disesuaikan, maka Agile Strategic Management mencakup keseluruhan proses manajemen strategis, mulai dari pemantauan lingkungan strategis, penyusunan strategi, implementasi, pengukuran kinerja, pengambilan keputusan, hingga evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

    Konsep ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran tentang organisasi adaptif (adaptive organization), dynamic capabilities yang dikembangkan oleh David J. Teece, serta learning organization yang dipopulerkan oleh Peter M. Senge. Dengan kata lain, Agile Strategy merupakan bagian dari Agile Strategic Management, sedangkan Agile Strategic Management adalah sistem yang memastikan seluruh organisasi mampu bergerak secara adaptif dalam menjalankan strateginya.

    Keduanya memiliki persamaan yang sangat mendasar. Baik Agile Strategy maupun Agile Strategic Management sama-sama menganggap perubahan sebagai sesuatu yang harus direspons dengan cepat, bukan dihindari. Keduanya menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan, penggunaan data terkini dalam pengambilan keputusan, kolaborasi lintas fungsi, serta kemampuan organisasi untuk segera menyesuaikan diri terhadap perubahan.

    Perbedaannya terletak pada ruang lingkupnya. Agile Strategy berorientasi pada isi dan arah strategi, sedangkan Agile Strategic Management berorientasi pada bagaimana seluruh sistem organisasi bekerja secara lincah agar strategi tersebut benar-benar terlaksana.

    Namun konsep-konsep tersebut sesungguhnya tidak menggantikan teori klasik yang hingga kini masih sangat relevan, yaitu The Core Competence of the Corporation yang diperkenalkan oleh C. K. Prahalad dan Gary Hamel pada tahun 1990. Jika Agile Strategy menjawab pertanyaan "Bagaimana organisasi harus terus menyesuaikan strateginya?", maka Core Competence menjawab pertanyaan "Apa kemampuan inti yang membuat organisasi unggul dibandingkan para pesaingnya?".

    Kompetensi inti merupakan fondasi yang relatif stabil, sedangkan strategi merupakan cara memanfaatkan kompetensi tersebut dalam menghadapi perubahan lingkungan. Dengan demikian, kedua konsep ini saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

    Pendekatan tersebut dapat dilihat pada berbagai perusahaan kelas dunia. Google secara rutin memperbarui prioritas strateginya sesuai perkembangan teknologi, tetapi kompetensi intinya tetap berada pada kemampuan mengelola data, algoritma, dan inovasi digital. Amazon terus bereksperimen dengan model bisnis baru melalui prinsip test, learn, and improve, namun kekuatan utamanya tetap pada kemampuan membangun sistem logistik, teknologi, dan pengalaman pelanggan.

    Microsoft berhasil mentransformasikan diri dari perusahaan perangkat lunak menjadi pemimpin layanan cloud dan kecerdasan buatan tanpa kehilangan kompetensi intinya di bidang pengembangan platform teknologi.

    Demikian pula Netflix, yang mampu bertransformasi dari penyewaan DVD menjadi layanan streaming dan produsen konten global karena memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan kompetensi dalam memahami perilaku konsumennya.

    Pada akhirnya, organisasi yang unggul pada era modern bukanlah organisasi yang hanya memiliki strategi terbaik ataupun kompetensi inti yang paling kuat. Keunggulan justru lahir dari kemampuan mengintegrasikan ketiganya. Core Competence menjadi fondasi yang membedakan organisasi dari para pesaingnya. Agile Strategy memastikan arah organisasi selalu relevan dengan perubahan lingkungan. Sementara itu, Agile Strategic Management memastikan seluruh sistem organisasi—mulai dari perencanaan, penganggaran, pengelolaan sumber daya manusia, pengukuran kinerja, hingga evaluasi, sehingga mampu bergerak secara adaptif dan terpadu.

    Saya berharap tulisan pengantar ini dapat menjadi pemantik diskusi dalam FGD nanti, sehingga kita tidak hanya membahas teori-teori manajemen strategis, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana konsep-konsep tersebut dapat diterapkan secara nyata dalam mengelola perusahaan multinasional yang beroperasi di tengah perubahan global yang semakin cepat dan kompleks.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture