Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • AYO BAYAR UTANG

    04 Jul 2026 | Dilihat: 12 kali

    oleh Riri Satria

    Tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa salah satu tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memenuhi kewajiban utang yang jatuh tempo.

    Berdasarkan data Kementerian Keuangan, pembayaran pokok utang pemerintah yang jatuh tempo diperkirakan mencapai sekitar Rp800 triliun pada 2025 dan meningkat menjadi sekitar Rp833–834 triliun pada 2026, sehingga tahun 2026 menjadi salah satu periode dengan beban jatuh tempo utang terbesar dalam sejarah Indonesia.

    Sebagai gambaran, dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2026, belanja negara diproyeksikan berada pada kisaran Rp3.900 triliun. Artinya, pembayaran pokok utang yang jatuh tempo saja sudah setara dengan sekitar 21 persen dari total belanja negara.

    Jika ditambah dengan pembayaran bunga utang yang diperkirakan mencapai sekitar Rp550–600 triliun, maka total kewajiban yang berkaitan dengan utang dapat mendekati Rp1.400 triliun, atau sekitar sepertiga dari APBN.

    Sebagian kewajiban tersebut memang akan dikelola melalui mekanisme refinancing, yaitu menerbitkan surat utang baru untuk menggantikan utang yang telah jatuh tempo.

    Tentu saja kita bisa berdebat panjang mengenai utang negara. Kita dapat mendiskusikan apakah utang tersebut terlalu besar atau masih aman, apakah penggunaannya sudah tepat, bagaimana kalkulasi ekonominya, hingga apakah manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Semua itu merupakan diskusi yang sah dan penting dalam negara demokrasi.

    Namun di luar semua perdebatan tersebut, ada satu kenyataan yang tidak dapat dihindari, yaitu pemerintah harus membayar utang yang jatuh tempo sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

    Kondisi itulah yang membantu menjelaskan mengapa pemerintah saat ini sangat berhati-hati dalam mengelola anggaran. Berbagai kementerian, lembaga, dan BUMN melakukan efisiensi pada sejumlah pos belanja, terutama yang dinilai belum menjadi prioritas utama. Belanja jasa profesional, konsultansi, pelatihan, seminar, perjalanan dinas, hingga berbagai kegiatan pendukung mengalami penyesuaian.

    Kebijakan ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi belanja pemerintah, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

    Dampak efisiensi tersebut kemudian dirasakan oleh banyak kalangan. Perusahaan konsultan, penyedia jasa profesional, kontraktor, pelaku UMKM, hingga berbagai sektor usaha yang selama ini menjadi mitra pemerintah ikut mengalami perlambatan.

    Dunia usaha swasta pun menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan investasi dan ekspansi karena kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Sangat mungkin kebijakan efisiensi ini masih akan terus berlangsung dalam satu hingga beberapa tahun ke depan, setidaknya sampai ruang fiskal pemerintah menjadi lebih longgar dan tekanan pembayaran utang mulai berkurang.

    Tantangan terbesar bukan sekadar besarnya angka utang, melainkan bagaimana pemerintah mampu mengelolanya secara disiplin, menjaga kepercayaan investor, meningkatkan penerimaan negara, serta memastikan bahwa setiap rupiah utang memberikan manfaat bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

    Suka atau tidak suka, utang yang telah jatuh tempo memang harus dibayar. Itulah realitas fiskal yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.

    Pada akhirnya, dalam situasi seperti sekarang, pemerintah memang dituntut untuk lebih berhati-hati, lebih arif, dan lebih bijaksana dalam mengelola keuangan negara. Setiap rupiah yang dibelanjakan harus benar-benar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.

    Di sisi lain, kewajiban membayar utang yang jatuh tempo tidak dapat ditunda karena menyangkut kredibilitas negara dan kepercayaan investor terhadap Indonesia.

    Persoalan utang memang menjadi isu yang sangat sensitif di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang khawatir bahwa utang negara yang terus bertambah akan menjadi beban bagi generasi berikutnya. Kekhawatiran tersebut wajar dan patut menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa pengelolaan utang harus dilakukan secara disiplin, transparan, dan bertanggung jawab.

    Pada saat yang sama, penting juga dipahami bahwa kewajiban yang sudah ada harus diselesaikan dengan baik agar tidak menimbulkan persoalan yang lebih besar di kemudian hari.

    Karena itu, apabila saat ini kita melihat pemerintah melakukan berbagai langkah efisiensi, besar kemungkinan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kondisi fiskal di tengah besarnya kewajiban yang harus dipenuhi. Mudah-mudahan masa yang penuh tantangan ini tidak berlangsung lama.

    Semoga perekonomian semakin membaik, ruang fiskal pemerintah kembali longgar, dunia usaha kembali bergairah, kesempatan kerja semakin terbuka, dan Indonesia mampu melangkah menuju masa depan yang lebih kuat. Semoga demikian.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture