Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Jakarta, Veritika.id – Puisi “Jerusalem” (2014) karya Riri Satria menampilkan suasana religius melalui penggambaran sebagai ruang spiritual lintas iman.
Di balik ketenangan yang dibangun, puisi ini menyisakan sejumlah catatan terkait eksplorasi tema dan keberanian artistik.
Berikut puisi JERUSALEM karya Riri Satria ;
JERUSALEM
I arrived at the city of stones and prayers
the place where You once called the Great Prophet
through the silence of the night
a summons carried by heaven
I came here
to search for Your presence,=
to walk the dust of prophets
to listen for Your whisper
between the ancient walls
At dawn
I bow my head in prayer to You
within the quiet breath of
Al-Aqsa Mosque
The morning is still
silence gathers like light
inside the chambers of the heart
every step becomes contemplation
This is the city of the sacred journey
the night of Isra and Mi’raj
when earth opened its path to heaven
Here, the children of Abraham
raise their prayers to You
each in their own language of longing
each with a different name for the same sky
I read this city
as if it were an ancient manuscript
its stones are verses
its alleys are unfinished poems
written by centuries of faith
History breathes here
like a long epic of humanity
beauty and sorrow braided together
For here also stand the walls of tragedy
where grief has learned
to speak many tongues
And so I pray for peace
for every child of Abraham
from the ancient resting place in Hebron
to every hill and valley of Jerusalem
Let mercy descend upon this city of prophets
Let the wind carry only prayers
And with all the quiet hope of the heart
I return my words to You
Give peace to Jerusalem
with every prayer
that rises toward the sky
(Jerusalem, 2014) – Riri Satria.
Sejak awal, penyair menggunakan metafora seperti “kota batu dan doa” untuk membangun suasana sakral. Pilihan diksi ini cukup efektif, tetapi terasa umum dan kurang menghadirkan sudut pandang baru dalam puisi bertema religius. Imaji yang muncul mudah dikenali dan tidak banyak memberi kejutan.
Struktur puisi bergerak dari kedatangan, pencarian spiritual, hingga doa penutup. Susunan ini rapi, tetapi menghasilkan alur yang terlalu lurus dan minim ketegangan. Tidak terlihat perubahan sikap penutur yang jelas, sehingga perjalanan yang digambarkan terasa datar.
Penggambaran ibadah di menjadi bagian yang paling konsisten. Suasana tenang tersaji dengan baik. Namun, fokus pada ketenangan membuat sisi lain kota tidak tergarap. Yerusalem yang dikenal memiliki sejarah konflik hanya disebut sekilas melalui ungkapan “walls of tragedy” tanpa penjelasan lanjut.
Kelemahan utama terletak pada pilihan untuk tidak masuk ke persoalan konflik yang menjadi bagian penting dari kota tersebut. Penyair cenderung memilih jalur aman dengan menekankan persatuan, sementara ketegangan sosial dan sejarah tidak dibahas secara jelas. Akibatnya, puisi ini lebih menyerupai doa daripada tanggapan terhadap kenyataan.
Gagasan “anak-anak Abraham” disampaikan sebagai simbol persatuan. Ide ini mudah dipahami, tetapi disajikan secara sederhana dan tanpa kompleksitas. Hal tersebut membuat pesan yang ingin disampaikan terasa normatif.
Dari segi bahasa, puisi ini komunikatif dan mudah diikuti. Namun, sejumlah ungkapan terasa umum dan kurang memberi kesan kuat. Simbol seperti “batu sebagai ayat” atau “gang sebagai puisi” bekerja secara tematik, tetapi belum memberi daya tarik baru.
Secara umum, puisi “Jerusalem” menunjukkan kecenderungan pada tema spiritual. Karya ini tersusun rapi dan mudah dipahami, tetapi belum memberi tekanan kuat pada persoalan yang lebih kompleks.
**
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 14 Mei 1970. Ia dikenal sebagai penyair yang aktif di bidang sastra dan kegiatan profesional.
Di bidang kesusastraan, ia merupakan pendiri sekaligus Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) Jakarta. Namanya tercatat dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2018).
Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi tunggal, antara lain Jendela (2016), Winter in Paris (2017), Siluet, Senja, dan Jingga (2019), Metaverse (2022), dan Login Haramain (2025). Selain itu, ia terlibat dalam lebih dari 60 antologi puisi bersama, termasuk Algoritma Kesunyian (2023) yang ditulis bersama Emi Suy.
Selain puisi, ia juga menulis esai dengan tema bisnis, teknologi, dan kebudayaan. Karyanya antara lain Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis (2003), trilogi Proposisi Teman Ngopi (2021), dan Jelajah (2022). Ia juga menyiapkan buku esai baru yang membahas sastra, seni, dan isu kemanusiaan.
Sejak 2018, ia mengkaji pengaruh kecerdasan buatan terhadap sastra dan sering menjadi narasumber di berbagai forum.
Di luar sastra, ia menjabat sebagai Komisaris Utama PT ILCS Pelindo Solusi Digital sejak April 2024. Sebelumnya, ia menjadi Komisaris Independen PT Jakarta International Container Terminal pada 2019–2024. Ia juga pernah menjadi Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan bidang Digital, Siber, dan Ekonomi pada Oktober 2024 hingga September 2025.
Ia turut terlibat sebagai anggota dewan juri pada Indonesia Digital Culture Excellence Award dan Indonesia Human Capital Excellence Award sejak 2021. Di bidang akademik, ia mengajar di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia pada program Magister Teknologi Informasi dengan mata kuliah Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, dan Metodologi Penelitian.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]