Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENUNGGU AI MASUK KE SENI PATUNG DAN INSTALASI

    12 May 2026 | Dilihat: 43 kali

    oleh Riri Satria

    Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan sejumlah sahabat seniman yang selama ini akrab dengan dunia patung dan seni instalasi. Raut wajah mereka berubah ketika saya mulai bercerita tentang perkembangan teknologi 3D printing. Sebagian tampak penasaran, sebagian lagi tampak cemas. Saya menjelaskan bahwa hari ini sudah ada mesin bernama 3D printer yang mampu membentuk objek tiga dimensi dengan tingkat presisi yang luar biasa.

    Teknologi tersebut bahkan mulai diperkuat oleh kecerdasan buatan atau AI, sehingga rancangan bentuk, tekstur, hingga simulasi ruang dapat dibantu oleh sistem digital yang terus belajar dari data dan perintah manusia. Saya melihat ada persoalan di antara percakapan itu, seolah kami semua sedang berdiri di depan pintu masa depan yang perlahan terbuka.

    Dunia seni memang selalu memiliki hubungan yang rumit dengan teknologi. Kamera pernah dianggap akan mematikan seni lukis, tetapi kenyataannya tidak demikian. Musik digital pernah dituduh menghilangkan rasa manusia dalam musik, tetapi para musisi tetap hadir dengan jiwa dan kegelisahannya sendiri.

    Kini pertanyaan serupa mulai mengarah pada seni patung dan seni instalasi. Saya dapat memahami kegelisahan itu. Patung bukan sekadar benda tiga dimensi. Ia lahir dari sentuhan tangan, dari kesabaran memahat, dari kesalahan-kesalahan kecil yang justru membentuk karakter sebuah karya. Instalasi seni pun bukan hanya susunan objek dalam ruang, melainkan pengalaman batin yang dihadirkan kepada penonton.

    Bayangan tentang mesin yang mampu mencetak bentuk patung dalam hitungan jam memang terdengar menggetarkan. Saya membayangkan seorang seniman memasukkan desain ke dalam komputer, lalu mesin bekerja sendiri membentuk karya secara perlahan, lapis demi lapis, hingga akhirnya berdiri sebuah objek yang tampak begitu sempurna. Ada sesuatu yang terasa ajaib sekaligus asing dalam proses itu.

    Perasaan saya bercampur antara kagum dan waswas. Kagum karena manusia mampu menciptakan teknologi sehebat ini. Waswas karena saya tahu setiap perkembangan teknologi sering kali memunculkan pertanyaan lama, apakah manusia perlahan akan digantikan oleh ciptaannya sendiri?

    Keyakinan saya tetap sederhana. Seniman patung dan seniman instalasi tidak akan tergantikan oleh AI maupun 3D printing. Teknologi hanya akan menjadi alat bantu, bukan pusat jiwa dari sebuah karya seni. AI mungkin dapat membantu membuat rancangan visual, menghitung struktur, atau menawarkan kemungkinan bentuk yang sebelumnya sulit dibayangkan.

    Mesin juga dapat mempercepat proses produksi dan eksperimen artistik. Namun teknologi tidak memiliki pengalaman hidup, tidak pernah merasa kehilangan, tidak pernah menanggung sunyi, dan tidak pernah benar-benar memahami luka yang menjadi sumber lahirnya banyak karya seni. Nilai paling dalam dari sebuah karya tetap berada pada manusia yang menciptakannya.

    Saya justru melihat kemungkinan baru yang menarik di masa depan. Para seniman mungkin akan bekerja berdampingan dengan AI sebagaimana seorang pemahat bekerja dengan pahat dan palu. Perpaduan antara intuisi manusia dan kecanggihan teknologi dapat melahirkan bentuk-bentuk artistik yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

    Seni akan terus berubah mengikuti zaman, tetapi kebutuhan manusia untuk menghadirkan emosi, makna, dan pengalaman batin tidak akan pernah hilang. Saya percaya seni patung dan seni instalasi akan tetap hidup. Mesin boleh membantu membentuk material, tetapi hanya manusia yang mampu meniupkan jiwa ke dalam sebuah karya.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture