Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • BUKU FAVORIT: DI BAWAH BENDERA REVOLUSI

    06 Aug 2026 | Dilihat: 27 kali

    oleh: Riri Satria

    Ketika Mas Bro Sunil Tolani bertanya, "Apa buku favorit Riri Satria  yang ditulis oleh seorang tokoh terkenal?", saya tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. Jawaban itu muncul begitu saja, spontan, tanpa harus berpikir panjang.

    "Di Bawah Bendera Revolusi", karya Bung Karno.

    Bagi saya, "Di Bawah Bendera Revolusi" bukan sekadar kumpulan pidato dan tulisan seorang proklamator. Buku itu adalah rekaman tentang bagaimana sebuah bangsa membangun kesadaran untuk menjadi bangsa yang merdeka. Hal yang menarik perhatian saya bukan hanya perjuangan fisiknya, melainkan juga perjuangan membangun cara berpikir.

    Bung Karno berkali-kali mengingatkan bahwa bangsa yang merdeka tidak boleh memiliki mental yang terjajah. Sebuah bangsa harus percaya kepada dirinya sendiri, berani menentukan nasibnya sendiri, dan tidak selalu hidup di bawah bayang-bayang bangsa lain.

    Mungkin itulah sebabnya buku ini selalu membekas dalam ingatan saya. Semakin bertambah usia, saya justru semakin memahami bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa politik yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan adalah keberanian sebuah bangsa untuk menentukan arah masa depannya sendiri, sekaligus keberanian setiap warga negara untuk berpikir mandiri, bekerja keras, berkarya, dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang membawa manfaat bagi bangsa.

    Buku "Di Bawah Bendera Revolusi" bukanlah sebuah buku yang ditulis sebagai satu naskah utuh dari awal hingga akhir. Buku ini merupakan kumpulan pidato, artikel, esai, dan tulisan-tulisan Bung Karno. Edisi yang paling dikenal diterbitkan sekitar tahun 1959–1960 dalam dua jilid, meskipun sebagian besar isinya berasal dari tulisan Bung Karno sejak dekade 1920-an hingga menjelang dan sesudah kemerdekaan.

    Secara umum, buku ini membahas beberapa gagasan besar.

    Pertama, nasionalisme Indonesia. Bung Karno berusaha menjelaskan mengapa bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Nasionalisme yang ia maksud bukanlah nasionalisme yang sempit atau chauvinistik, melainkan nasionalisme yang bertujuan membebaskan rakyat dari penjajahan dan bermuara pada kemanusiaan.

    Kedua, anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Hampir seluruh bagian buku dipenuhi kritik terhadap kolonialisme Belanda dan imperialisme Barat. Bung Karno berpendapat bahwa penjajahan bukan hanya menguasai wilayah, tetapi juga menguasai ekonomi, politik, bahkan cara berpikir bangsa yang dijajah. Kemerdekaan karena itu dipandang sebagai syarat mutlak untuk membangun martabat bangsa.

    Ketiga, persatuan nasional. Bung Karno berulang kali menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, dan golongan. Ia melihat bahwa perpecahan merupakan kelemahan terbesar yang dapat dimanfaatkan oleh penjajah.

    Keempat, pembentukan karakter bangsa. Salah satu tema yang sering muncul adalah perlunya membangun manusia Indonesia yang percaya diri, berani, dan memiliki semangat berdikari. Bung Karno sering mengkritik mentalitas bangsa yang merasa rendah diri terhadap bangsa asing. Dalam banyak tulisannya, ia mengajak rakyat Indonesia untuk memiliki keberanian berpikir dan bertindak sebagai bangsa yang merdeka.

    Kelima, demokrasi dan keadilan sosial. Bung Karno tidak memandang kemerdekaan hanya sebagai pergantian penguasa. Menurutnya, kemerdekaan harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan rakyat, terutama dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan. Kemerdekaan politik harus diikuti oleh kemerdekaan ekonomi.

    Keenam, Marhaenisme. Inilah salah satu gagasan khas Bung Karno. Marhaenisme merupakan konsep politik dan ekonomi yang berpihak kepada rakyat kecil, kaum tani, buruh, dan kelompok yang tertindas. Nama "Marhaen" sendiri berasal dari seorang petani yang pernah ditemui Bung Karno di Bandung. Gagasan ini kemudian berkembang menjadi dasar perjuangan politiknya.

    Ketujuh, revolusi sebagai proses yang berkelanjutan. Bung Karno memandang revolusi Indonesia bukan sekadar perang melawan Belanda, melainkan proses panjang membangun bangsa. Setelah kemerdekaan diproklamasikan, perjuangan menurutnya belum selesai karena masih ada tugas membangun negara yang adil, makmur, dan berkepribadian.

    Bung Karno berkali-kali menekankan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan. Kemerdekaan harus diisi dengan pembangunan bangsa. Pandangan ini sejalan dengan gagasan Anda bahwa kemerdekaan bukan berarti rakyat boleh bermalas-malasan atau hanya menunggu bantuan pemerintah, melainkan harus diisi dengan kerja keras, inovasi, pendidikan, pembangunan ekonomi, dan pengabdian kepada bangsa.

    Bung Karno mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak memiliki mental inlander, yaitu sikap rendah diri yang menganggap bangsa penjajah selalu lebih unggul. Kemerdekaan politik akan sulit menghasilkan kemajuan apabila cara berpikir masyarakat masih terjajah oleh rasa minder, ketergantungan, atau keyakinan bahwa masa depan bangsa harus selalu ditentukan oleh pihak lain.

    Secara keseluruhan, buku "Di Bawah Bendera Revolusi" bukan sekadar buku sejarah, melainkan sebuah kumpulan pemikiran tentang bagaimana membangun bangsa yang benar-benar merdeka. Pesan yang paling kuat dari buku tersebut bukan hanya "merebut kemerdekaan", tetapi juga menjaga, mengisi, dan memaknai kemerdekaan melalui persatuan, kemandirian, keberanian berpikir, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture