Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • PARADOKS DI TENGAH MASYARAKAT

    11 May 2026 | Dilihat: 53 kali

    oleh Riri Satria

    Di tengah hiruk-pikuk masyarakat modern hari ini, saya sering merasa sedang berdiri di antara dua kutub yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ada orang-orang yang dengan tulus berusaha mencerdaskan bangsa, mengajar di ruang kelas sederhana, menulis buku, berbagi ilmu, membangun diskusi, bahkan mengorbankan waktu dan tenaga agar orang lain dapat berpikir lebih jernih.

    Namun di sisi lain, ada pula sebagian orang yang justru menjadikan kebodohan sebagai ladang keuntungan. Mereka memelihara kepanikan, menyebarkan disinformasi, mengaduk emosi publik, dan membuat masyarakat lebih mudah diarahkan demi kepentingan tertentu. Semakin banyak orang kehilangan daya pikir kritis, semakin besar pula keuntungan yang bisa mereka panen.

    Paradoks ini terasa begitu nyata, seolah kecerdasan dan kebodohan kini sama-sama diperdagangkan di pasar kehidupan.

    Ironisnya lagi, kita hidup di zaman saat ini ketika sumber informasi, bacaan, dan referensi tersedia dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Buku digital, jurnal, media sosial, video edukasi, hingga kecerdasan buatan membuat manusia dapat mengakses pengetahuan hanya dalam hitungan detik.

    Namun gejala yang tampak justru sering berlawanan, di mana informasi semakin melimpah, tetapi pemahaman terhadap sebuah fenomena terasa semakin dangkal. Banyak orang terburu-buru mengambil kesimpulan hanya dari potongan video singkat, kutipan pendek, atau judul sensasional tanpa benar-benar mendalami konteksnya.

    Saya sering merasa bahwa masyarakat hari ini tidak kekurangan informasi, melainkan kekurangan perenungan. Kita terlalu cepat bereaksi, tetapi terlalu jarang benar-benar memahami.

    Paradoks lain yang terasa semakin menyedihkan adalah bagaimana agama, yang pada hakikatnya hadir sebagai sumber kedamaian, ketenangan batin, inspirasi moral, dan penuntun manusia menuju kasih sayang, justru dalam banyak keadaan berubah menjadi sumber konflik. Sesuatu yang seharusnya mendekatkan manusia dengan nilai kemanusiaan kadang malah dipakai untuk membenarkan kebencian, permusuhan, bahkan peperangan.

    Saya sering merasa miris melihat bagaimana ayat-ayat suci yang semestinya mengajarkan welas asih justru dipelintir demi kepentingan kekuasaan, fanatisme, atau identitas kelompok. Agama yang seharusnya menenangkan hati kadang malah dijadikan alat untuk menakut-nakuti, menghakimi, dan memecah manusia satu sama lain.

    Saya merasa bahwa yang hilang bukan hanya toleransi, tetapi juga kemampuan manusia untuk memahami makna spiritualitas secara lebih dalam dan bijaksana.

    Hal yang tidak kalah paradoksal juga tampak dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi dasar terbentuknya kebijaksanaan, kedewasaan berpikir, dan wisdom dalam diri manusia, dalam banyak keadaan justru dipakai sebagai senjata untuk menindas orang lain secara tidak kasat mata. Gelar, status akademik, kemampuan retorika, hingga penguasaan teori kadang digunakan untuk merendahkan, membungkam, atau membuat orang lain merasa kecil.

    Pengetahuan yang semestinya memerdekakan justru berubah menjadi alat dominasi yang tak kasat mata. Saya sering merasa sedih ketika melihat orang-orang yang terdidik secara akademis, tetapi kehilangan empati dan kerendahan hati. Seolah-olah pendidikan hanya menghasilkan kepintaran teknis, tetapi gagal melahirkan kebijaksanaan moral.

    Fenomena-fenomena semacam ini mengingatkan saya pada gagasan paradoks yang pernah dipopulerkan oleh Charles Handy pada dekade 1990-an melalui bukunya "The Age of Paradox" yang terbit pada tahun 1994. Handy menggambarkan bagaimana dunia modern dipenuhi pertentangan yang berjalan berdampingan, kemajuan teknologi diiringi kecemasan manusia, keterhubungan global berjalan bersama keterasingan sosial, dan kebebasan individu tumbuh bersamaan dengan hilangnya makna kolektif.

    Semakin maju peradaban, semakin kompleks pula kontradiksi yang harus dihadapi manusia. Saya merasa teori itu masih sangat relevan hari ini, bahkan mungkin menjadi semakin nyata di tengah kehidupan digital yang serba cepat dan serba dangkal.

    Saya juga sering menyaksikan bagaimana kebahagiaan dan penderitaan berjalan beriringan dalam cara yang ironis. Ada orang yang hidupnya dihabiskan untuk membahagiakan sesama, mendengarkan keluh kesah orang lain, membantu tanpa pamrih, atau sekadar menjadi tempat pulang bagi hati yang lelah.

    Akan tetapi, di saat yang sama, ada pula yang justru menjadikan penderitaan orang lain sebagai sumber keuntungan. Kesedihan dijadikan tontonan, kecemasan dijadikan komoditas, bahkan luka batin seseorang kadang diperah menjadi alat untuk mencari perhatian, popularitas, atau uang.

    Kadang saya bertanya dalam hati, mengapa di zaman yang katanya semakin maju ini, empati justru terasa semakin mahal?

    Hal lain yang sering membuat saya termenung adalah kenyataan bahwa ada orang-orang yang benar-benar ingin meringankan beban sesama, tetapi ada pula yang seolah hidup dari memperberat langkah orang lain. Ada yang mempermudah urusan dengan niat tulus membantu, tetapi ada pula yang sengaja menciptakan kerumitan agar dirinya terlihat penting, berkuasa, atau mendapatkan keuntungan tertentu.

    Kalimat “kalau bisa dipersulit, kenapa mesti dipermudah?” yang awalnya terdengar seperti lelucon, perlahan terasa seperti potret mentalitas yang benar-benar hidup di sekitar kita. Sistem yang berbelit, birokrasi yang melelahkan, hingga hubungan sosial yang penuh permainan kepentingan sering kali membuat manusia kehilangan rasa kemanusiaannya sendiri.

    Semua ini terasa seperti sebuah paradoks besar dalam kehidupan modern. Kemajuan teknologi berkembang pesat, tetapi kedewasaan moral manusia tidak selalu berjalan seiring. Informasi semakin mudah diakses, tetapi kebijaksanaan justru semakin langka. Agama semakin sering dibicarakan, tetapi kedamaian justru semakin sulit ditemukan. Pendidikan semakin tinggi, tetapi kerendahan hati justru semakin jarang terlihat. Kita hidup di zaman ketika kebaikan dan kepentingan pribadi saling bertarung setiap hari, kadang begitu samar hingga sulit dibedakan.

    Karena itulah, saya merasa bahwa masyarakat hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Kita membutuhkan kejernihan hati, kehati-hatian dalam menilai sesuatu, kemampuan untuk memahami sesuatu secara utuh, dan keberanian untuk tetap menjadi manusia yang arif di tengah dunia yang sering kali membingungkan arah nuraninya sendiri.

    Pada akhirnya mungkin kita memang tidak bisa sepenuhnya mengubah dunia yang penuh pertentangan ini. Namun setidaknya, kita masih bisa memilih berada di sisi yang mencoba mencerdaskan, membahagiakan, menenangkan, dan meringankan beban sesama manusia.

    Sebab di tengah masyarakat yang dipenuhi paradoks, pilihan kecil tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain sering kali menjadi satu-satunya cara untuk tetap menjaga harapan agar kemanusiaan tidak benar-benar kehilangan wajahnya.

    (Mei 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture