Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Dalam sastra dan puisi, pengarang dapat menuangkan segala bentuk pemikiran, perasaan, dan imajinasi mereka dengan cara yang kreatif dan berbeda. Sastra dan puisi menjadi sarana yang efektif untuk berbagi pengalaman, menyampaikan pesan, serta merekam kehidupan dan budaya suatu zaman.
Dalam bahasa Inggris, ada sejumlah kata yang tampak serupa pada permukaan, tetapi sesungguhnya bergerak pada medan makna yang berbeda. Dua di antaranya ialah literacy dan literary. Keduanya lahir dari akar yang berdekatan, sehingga tidak mengherankan apabila dalam penerjemahan maupun percakapan sehari-hari, terutama dalam bahasa Indonesia, keduanya kerap tertukar. Kerancuan ini sering muncul karena keduanya sama-sama […]
A Poem for Deepfake, by Riri Satria Night does not arrive here as a curtain, it arrives as a wound, a slow velvet incision opening across the sky, from which darkness bleeds into the veins of the age. It spills into sleepless rooms steeped in the cold blue pulse of screens, where faces bloom from […]
Antologi puisi religi “Tadarus Cahaya Jiwa”, bersama puluhan penyair Indonesia, setebal 560 halaman .. ada 5 puisi saya di buku ini .. 👍😎🥰 ------- KEMBALI AKU DENGAR AZAN SUBUH DI MASJID NABAWI Kembali aku tertunduk Bersimpuh menghadap-Mu di pelataran Sang Nabi jelang pagi Orkestra memuja kebesaran-Mu menggema memenuhi ruang-ruang kefanaan di […]
oleh: Riri Satria Deepfake melalui Generative AI dan terutama GAN (Generative Adversarial Networks) dapat menganggu karya sastra bukan hanya pada tingkat teknis, tetapi juga pada makna, otentisitas, dan kepercayaan budaya terhadap tulisan itu sendiri. Kerusakannya sering kali lebih halus dibanding deepfake video, karena ia bekerja di wilayah bahasa, gaya, dan emosi. Pertama, yang paling serius […]
Jadi begini Emi ... akhir-akhir ini saya sering memikirkan sesuatu yang ruwet bin mumet, namun dengan rasa ingn tahu, bagaimana jika puisi yang selama ini kita anggap sebagai suara paling intim dari jiwa manusia, ternyata bisa memiliki bayangan yang begitu mirip dengan dirinya sendiri? Bayangan itu bukan tubuh, bukan penyair, serta bukan pengalaman hidup yang […]
gadang sarawa tagak di lapangan nan indak bapangka tarang tapi andingin rami tapi kosong inyo lah ado sabalun paham ado dilempar ka hari-hari nan datang indak jo alas an pagi batanyo ka mano? siang manjawab indak tau sore mangulang tanyo nan samo malam inyo tutuik jo haniang gadang sarawa tapi langkahnyo ketek bak […]
manyalinok diam-diam bukan di tanah bukan di daun tapi di celah nan indak basuaro antara niek jo ragu inyo alah ado sabalun pikiran jadi kato sabalun hati mangaku salah inyo lah lahia dari haniang nan panjang nan indak ka tanyo asal-usulnyo kulik licin jo basisiak bukan untuak diliek tapi untuak diraso bak bayang nan […]
oleh: Riri Satria Ada satu hal yang menarik ketika membaca buku "Science and Poetry" karya Mary Midgley*. Buku ini tidak hadir sebagai manifesto yang dahsyat, juga tidak sebagai perdebatan yang meledak-ledak. Ia bergerak pelan, seperti seseorang yang sedang menyusun ulang isi sebuah ruangan yang selama ini kita kira sudah rapi, tetapi ternyata penuh dengan asumsi […]
oleh: Riri Satria Sore menurunkan dirinya seperti tirai tipis yang enggan menutup panggung sepenuhnya. Gerimis jatuh bukan sebagai peristiwa, melainkan sebagai bahasa yang lupa bagaimana harus bersuara. Ia tidak mengetuk, tidak meminta dikenali, hanya menyusup ke dalam celah-celah waktu yang retak, melunakkan tepi-tepi hari yang terlalu keras. Di sana kita duduk, membiarkan pikiran larut seperti […]
oleh: Riri Satria Saya pernah duduk sendirian di depan layar komputer, mengetik kata “puitis” di mesin pencari serta aplikasi AI, seolah-olah makna bisa ditemukan seperti alamat yang pasti, lengkap dengan koordinatnya. Lalu muncullah definisi-definisi itu, rapi, tertib, seakan sudah selesai menjelaskan segalanya. Benarkah demikian? Apa yang saya peroleh? Puitis adalah pilihan kata yang estetik, bernada, […]
oleh: Selena F. Lie Kali ini saya menulis dalam bahasa Indonesia, walaupun pada umumnya saya menggunakan bahasa Inggris. Mohon dimaafkan apabila terdapat kekurangan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Membaca buku puisi "Jendela" (2016) seperti membuka catatan harian yang tidak secara khusus dimaksudkan sebagai catatan harian. Buku ini bagaikan perjalanan seorang individu yang tidak semata-mata berupaya menjadi […]
BETWEEN TWILIGHT, THE COSMOS, AND A SILENCE THAT NEVER ENDS: A NOTE FOR "SILUET, SENJA, DAN JINGGA" 2019 POETRY BOOK BY RIRI SATRIA by: Selena Fortuna Lie This time, I choose to write this reflection a little differently, in a descriptive-reflective tone, tracing the familiar rhythm of how Riri Satria writes his poems, unhurried, unforced, […]
Puisi, aku menulismu seperti menulis napas di dunia yang makin pandai menghitung segalanya ketika sains tumbuh seperti hutan logika dan teknologi berlari tanpa ingin menoleh kau tetap berjalan pelan di dalam dada menjaga sesuatu yang tak bisa diukur. Kau bukan algoritma yang rapi bukan rumus yang selesai dalam satu jawaban kau adalah getar yang […]
Aku bermimpi Depok tahun 2050 Depok tumbuh bukan sekadar kota yang penuh asap knalpot kendaraan bising dan manusia lalu-lalang dalam mimpiku Depok adalah taman gagasan tempat ide-ide muda berakar lalu bermekaran dan menjulang jadi menara cahaya. Aku membaca Depok dari kemarin, sekarang, dan akan datang dari kaboratoriu kampus ke kampus yang tak pernah tidur […]
PULANG KE CAHAYA YANG TERSISA Tanpa terasa langkah-langkah kecil kita tiba di ujung Ramadan bulan yang selalu lebih jujur daripada hari-hari lainnya, dan selalu meninggalkan ruang kosong yang tak sempat kita isi sepenuhnya. Di ambang ini aku menitipkan harap pada yang tak terlihat: semoga yang tersembunyi lebih dahulu sampai kepada-Nya daripada yang kita tampakkan. Aku […]
--- Kisah di balik empat buku saya, buku kumpulan pusi "Bom Waktu", buku "Gelombang Algoritma", buku "Membangkai Kata-kata", serta buku "Kata Rupa dan Warna" --- Ada jeda yang tidak saya rencanakan, tetapi justru menjadi ruang paling jujur bagi lahirnya buku-buku itu. Setahun terakhir sejak 2025, setelah "Login Haramain" terbit, saya seperti berjalan pelan, menengok ke […]
Kita berjalan di jalan yang berliku menanjak, menukik tidak pernah menurut peta yang kubuat di kepala. Kenangan berpendar seperti senja yang retak di celah-celah waktu yang rapuh selalu indah, meski tak sempurna memanggilku untuk menatapnya lagi membaca ulang detik yang pernah kita lalui. Kadang langkah kita terpisah jarak memanjang tanpa permisi belokan-belokan mengejutkan seolah dunia […]
Kelihatannya buku pertama saya yang rampung tahun 2026 ini adalah buku kumpulan puisi berjudul "Bom Waktu: Kumpulan Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangannya" Insya Allah akan menyusul setelahnya (sekarang masih dalam pesiapan), dua buku yang rada mumet, tentang analisis reflektif industri 5.0, ekonomi, bisnis, serta buku analisis reflektif tentang perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. […]
Di suatu titik perjalanan berhentilah sejenak di pinggir hari menatap langit yang seperti halaman buku yang belum sempat dibaca sampai habis Kita sadar, hidup ini bukan peta yang lengkap bukan pula cerita yang sudah diberi akhir ia hanya jalan panjang yang ditaburi serpihan kata potongan kalimat kadang-kadang sebaris puisi yang tiba-tiba jatuh dari langit kesadaran […]
Masa lalu itu seperti bayangan senja ia selalu berjalan di belakang tubuhmu tetapi tidak pernah benar-benar bisa menarik langkahmu kembali Biarkan ia menjadi cerita yang selesai dibaca bukan rantai yang mengikat kaki Hari ini adalah halaman yang masih kosong dan esok adalah kertas yang belum disentuh tinta setiap pagi, dunia menaruh sepotong cahaya di telapak […]
Di kota yang dulu mengajari kita mendengar laut dan hujan yang jatuh perlahan Padang menyimpan nama itu seperti batu yang ditanam di dasar sungai Robby Permata lahir 10 Maret 1980 seperti cahaya yang datang paling akhir di antara kami empat bersaudara yang paling kecil yang paling akhir memulai langkah tetapi justru yang lebih dahulu […]
Di antara hening dan nyaring, perasaan bertemu kenyataan, atau hanyalah ilusi pertemuan itu sendiri. Cemas itu diseduh panas, tapi apakah panas itu nyata, atau hanya bayangan di dasar cangkir kopi yang tak pernah habis? Malam Lailatul Qadar hadir tanpa pemberitahuan. Aku meminumnya secangkir sepi, meneguk harap yang membara namun tak pernah sampai, terbakar di bara […]
Batu-batu tua berbisik dalam bahasa yang hanya bisa diterjemahkan oleh kesunyian dan gua menelan cahaya fajar mengubahnya menjadi sungai emas yang mengalir perlahan di antara celah-celahnya Di dalam, ada bayangan para pemuda menari dalam tidur panjang dunia di luar berubah seperti lukisan yang diganti tiap malam namun iman mereka tetap menyala lentera yang tak […]
I arrived at the city of stones and prayers the place where You once called the Great Prophet through the silence of the night a summons carried by heaven I came here to search for Your presence,= to walk the dust of prophets to listen for Your whisper between the ancient walls At […]
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]