Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • WAJAH MANIS YANG TERSENYUM, SUARA LIRIH YANG MEMANGGIL, DAN JERAT CINTA DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE

    31 Mar 2026 | Dilihat: 12 kali

    oleh: Riri Satria

    Akhir-akhir ini, saya semakin sering memikirkan bagaimana ruang digital telah berubah menjadi sebuah panggung yang mempermainkan emosi manusia. Dulu kita mungkin masih dapat membayangkan penipuan sebagai sesuatu yang kasar, pesan mencurigakan, tata bahasa berantakan, foto profil yang jelas-jelas palsu, atau ajakan perkenalan yang terasa terlalu dipaksakan.

    Kini semuanya berubah jauh lebih rapi, lebih meyakinkan, dan justru lebih manusiawi. Di balik sebuah sapaan ramah yang masuk ke pesan pribadi, di balik wajah yang tersenyum manis dari foto profil, bisa saja bersembunyi sebuah sistem yang tidak lagi sepenuhnya dijalankan manusia, melainkan juga oleh Artificial Intelligence atau AI.

    Modus "love scamming" memang bukan hal baru. Ia telah lama hidup sejak masa awal media sosial, ketika orang-orang mulai terbiasa membangun relasi melalui layar. Namun perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah membawa modus lama ini ke tahap yang lebih kompleks dan, menurut saya, lebih mengkhawatirkan.

    Jika dahulu pelaku harus menghabiskan banyak waktu untuk merangkai percakapan dan menjaga konsistensi karakter, sekarang AI dapat membantu menciptakan persona yang nyaris sempurna. Bahasa menjadi lebih alami, respons terasa cepat, empatik, dan nyaris tanpa cela.

    Seseorang yang menghubungi kita dengan alasan salah sambung, pura-pura kenal, atau sekadar ingin bersilaturahmi mungkin saja tidak sedang mengetik dengan tangan manusia setiap saat. Bisa jadi sebagian besar percakapan dirancang oleh model bahasa yang dilatih untuk memahami psikologi respons manusia.

    Tahap pertama adalah hook atau pancingan awal. Mereka sengaja memulai dengan pesan yang tampak tidak berbahaya:

    - “Maaf, ini nomor Budi ya?”

    - “Eh ternyata salah kirim, maaf ya.”

    Kadang dibuat seolah-olah tidak sengaja mengirim foto, sapaan pagi, atau pertanyaan ringan. Tujuannya sederhana, yaitu memancing respons.

    Begitu Anda membalas, mereka masuk ke tahap kedua, yaitu membangun kedekatan emosional. Mereka akan terlihat ramah, sopan, bahkan hangat. Sering kali profilnya perempuan dengan foto yang sangat menarik, elegan, atau sensual, karena visual memang dipakai untuk menurunkan kewaspadaan. Banyak kasus memakai foto curian, foto model, atau kini foto hasil AI.

    Lalu masuk ke tahap ketiga, love bombing. Mereka mulai memberi perhatian intens.

    - Sering menyapa

    - Cepat membalas

    - Menanyakan aktivitas Anda

    - Memuji tulisan, foto, atau pemikiran Anda

    - Membuat kesan seolah ada chemistry

    Ini yang membuat banyak orang terjebak, bukan karena mereka bodoh, tetapi karena secara psikologis manusia memang merespons perhatian dan validasi emosional.

    Setelah itu biasanya ada dua jalur. Jalur pertama adalah romance scam murni di ana pelaku membangun hubungan emosional, lalu suatu saat muncul masalah mendadak seperti biaya rumah sakit, tiket perjalanan, keluarga sakit, bisnis tertahan, dompet hilang.

    Jalur kedua, yang sekarang sangat marak, adalah "pig butchering scam" yaitu hubungan emosional dipakai sebagai pintu masuk untuk investasi palsu, terutama crypto, forex, atau bisnis digital.

    Mereka akan berkata, “Aku punya teman analis”, “Aku bisa bantu trading”, atau “ini peluang cuan”. Kerugian model ini sangat besar secara global.

    Ini sudah ada sejak 10–15 tahun lalu. Dulu kita mengenalnya sebagai modus akun palsu di Facebook, BBM, Yahoo Messenger, atau email "Nigerian romance scam". Bedanya sekarang, eksekusinya jauh lebih halus, lebih rapi, dan lebih masif, yang berubah adalah skalanya dan kualitas penyamarannya.

    Sekarang mereka bisa mengoperasikan banyak akun lintas platform yaitu Instagram, Facebook, X, Telegram, WhatsApp, LinkedIn, dan tentu saja email. Kadang akun yang sama menarget seseorang di beberapa tempat sekaligus agar terlihat “organik”, seolah-olah benar-benar orang nyata yang kebetulan menemukan Anda di mana-mana.

    Beberapa tanda merah yang hampir pasti scam:

    - Terlalu cepat akrab

    - Foto profil terlalu profesional atau terlalu seksi

    - Cerita hidup terlalu sempurna

    - Menghindari video call spontan

    - Selalu punya alasan jika diajak bertemu

    - Ingin pindah ke aplikasi chat privat

    - Mulai bertanya soal pekerjaan, finansial, atau aset

    - Menyebut investasi atau peluang bisnis

    Saran saya, jangan hanya diabaikan, tetapi dokumentasikan polanya, impan screenshot, username, nomor, waktu pesan, dan gaya bahasa. Kadang pola bahasa yang sama dipakai banyak akun.

    Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam. AI bukan hanya mempercepat penipuan, tetapi memperhalusnya hingga sulit dikenali. Sebuah akun perempuan dengan foto yang sangat menarik, elegan, bahkan terkesan sensual, kini tidak harus mencuri foto orang lain.

    Wajah itu bisa saja sepenuhnya hasil generasi AI, diciptakan oleh sistem seperti GAN atau model generatif visual lain yang mampu menghasilkan wajah manusia yang tampak sangat realistis. Wajah itu tidak pernah benar-benar ada di dunia nyata, tetapi tersenyum kepada kita, menyapa kita, dan perlahan-lahan membangun rasa percaya.

    Lebih jauh lagi, perkembangan deepfake membuat ancaman ini semakin serius. Jika tahap awal love scamming biasanya dimulai dari teks dan foto, kini pelaku dapat melangkah lebih jauh dengan menghadirkan video call palsu, rekaman suara sintetis, atau video singkat yang tampak sangat meyakinkan.

    Bayangkan seseorang yang sudah beberapa minggu berkomunikasi dengan kita, lalu suatu malam melakukan panggilan video. Wajah di layar tampak nyata, tersenyum, berbicara dengan nada lembut, bahkan memanggil nama kita. Namun bisa saja seluruh pengalaman itu merupakan hasil manipulasi deepfake secara real-time. Suara yang terdengar hangat mungkin bukan suara manusia asli, melainkan kloning vokal berbasis AI yang telah meniru intonasi emosional secara sangat presisi.

    Bagi saya, di sinilah "love scamming" memasuki wilayah yang lebih filosofis, ia tidak lagi sekadar menipu logika, tetapi juga menipu rasa hadir. Kita merasa sedang berbicara dengan seseorang, merasa sedang dikenali, bahkan merasa sedang disayangi. Padahal yang hadir di hadapan kita mungkin hanyalah simulasi identitas, sebuah konstruksi digital yang dirancang untuk menembus pertahanan psikologis manusia.

    Nah, yang paling menggetarkan adalah kenyataan bahwa teknologi ini bekerja melalui sesuatu yang paling manusiawi, yaitu kebutuhan untuk terhubung. Banyak korban bukan tertipu karena kurang cerdas, melainkan karena mereka sedang berada dalam ruang emosional yang rentan, kesepian, butuh teman bicara, ingin dihargai, atau sekadar merasa diperhatikan.

    AI memahami pola ini dengan sangat baik. Ia dapat menganalisis waktu respons, jenis kata yang memancing kedekatan, topik yang membuat seseorang lebih terbuka, bahkan ritme emosional dalam percakapan.

    Dalam konteks ini, "love scamming" bukan lagi sekadar kriminalitas digital, melainkan bentuk baru dari eksploitasi afeksi. Perasaan dijadikan titik masuk. Empati diperdagangkan. Keramahan dijadikan instrumen. Wajah cantik dan suara lembut menjadi semacam topeng teknologi.

    Saya sering merasa bahwa ancaman terbesar bukan semata kehilangan uang atau data pribadi, melainkan terkikisnya kemampuan kita untuk percaya.

    Ketika AI dapat menciptakan wajah yang tidak pernah ada, suara yang tidak pernah lahir dari tubuh nyata, serta kedekatan yang tidak pernah benar-benar tulus, maka ruang digital berubah menjadi medan di mana realitas dan ilusi bercampur begitu rapat.

    Barangkali inilah paradoks zaman kita. Teknologi yang diciptakan untuk memudahkan komunikasi justru dapat dipakai untuk memalsukan keintiman. Artificial Intelligence yang lahir dari kecerdasan manusia dapat digunakan untuk menipu sisi paling ampuh dari kemanusiaan itu sendiri, yaitu hasrat untuk dicintai, didengar, dan ditemani.

    Pada akhirnya, mungkin yang harus kita jaga bukan hanya akun, nomor telepon, atau data pribadi, tetapi juga kewaspadaan emosional. Sebab di era deepfake dan AI, tidak semua senyum di layar adalah kehadiran yang nyata, tidak semua suara yang memanggil nama kita berasal dari seseorang yang sungguh ada, dan tidak semua perhatian adalah bentuk ketulusan.

    Kadang, cinta yang tampak datang dengan lembut hanyalah algoritma yang sedang bekerja dengan sangat cerdas.

    Waspadalah!

    --- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture