Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Oleh Riri Satria
Di tengah berbagai pernyataan resmi bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh stabil di kisaran 5%, berita mengenai meningkatnya PHK justru memperlihatkan wajah lain dari realitas ekonomi nasional. Data Kementerian Ketenagakerjaan yang dikutip berbagai media menunjukkan ribuan pekerja kehilangan pekerjaan hanya dalam beberapa bulan pertama tahun 2025. DetikFinance melaporkan korban PHK Januari–April telah menembus 15.425 orang, sementara sejumlah laporan lain menyebut angka nasional bahkan jauh lebih besar ketika memasuki pertengahan tahun.
Fenomena ini menghadirkan paradoks modern yang semakin sering muncul di banyak negara. Pertumbuhan ekonomi tetap terjadi, inflasi relatif terkendali, dan pasar keuangan terlihat stabil, tetapi rasa aman masyarakat terhadap pekerjaan justru menurun.
Di Indonesia, paradoks tersebut tampak sangat jelas. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia masih melihat fondasi ekonomi nasional cukup kuat. Cadangan devisa tetap tinggi, inflasi berada dalam sasaran, konsumsi domestik masih menopang pertumbuhan, dan investasi asing masih masuk dalam jumlah tertentu. Dokumen Bappenas dan berbagai laporan ekonomi resmi menunjukkan bahwa pemerintah memandang Indonesia masih relatif tangguh di tengah ketidakpastian global.
Di balik stabilitas makro tersebut, sektor mikro memperlihatkan tekanan yang jauh lebih berat. Banyak perusahaan mengalami penurunan margin keuntungan akibat kenaikan biaya produksi, pelemahan permintaan, tekanan nilai tukar, serta kompetisi global yang semakin agresif.
Dalam teori mikroekonomi klasik, perusahaan akan selalu berusaha mencapai efisiensi biaya untuk mempertahankan profitabilitas. Ketika pendapatan menurun sementara biaya tetap tinggi, tenaga kerja sering menjadi komponen pertama yang dikurangi. Situasi tersebut dikenal sebagai "labour adjustment mechanism" dalam teori ekonomi perusahaan modern.
Kasus-kasus PHK di Indonesia memperlihatkan pola yang cukup konsisten. Industri tekstil, garmen, manufaktur ringan, elektronik, ritel, hingga media mengalami tekanan serius. Banyak pabrik kesulitan bersaing dengan produk impor murah, terutama dari China.
Dalam kerangka teori perdagangan internasional David Ricardo maupun model Heckscher-Ohlin, negara akan bertahan pada sektor yang memiliki keunggulan. Persoalannya, Indonesia kini berada dalam posisi yang rumit. Upah buruh tidak lagi semurah Bangladesh atau Vietnam, tetapi produktivitas industri belum setinggi China atau Korea Selatan. Akibatnya, Indonesia terjebak di wilayah transisi industri yang tidak sepenuhnya kompetitif.
Tekanan global memperburuk keadaan. IMF dalam World Economic Outlook 2025 menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akibat eskalasi perang dagang, ketidakpastian geopolitik, dan fragmentasi rantai pasok global. OECD dan WTO juga memperingatkan perlambatan perdagangan internasional dan melemahnya industri global.
Kementerian Keuangan sendiri mengakui bahwa perang tarif Amerika Serikat dan meningkatnya proteksionisme global berdampak langsung terhadap investasi, perdagangan, daya beli, bahkan risiko PHK di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Dalam perspektif ekonomi Keynesian, kondisi seperti ini berkaitan erat dengan lemahnya "aggregate demand" atau permintaan agregat. Ketika masyarakat menahan konsumsi akibat ketidakpastian ekonomi, perusahaan kehilangan pasar. Produksi menurun, investasi tertahan, dan PHK meningkat.
Siklus tersebut dapat membentuk lingkaran yang saling memperburuk. Orang kehilangan pekerjaan, daya beli turun, konsumsi melemah, lalu perusahaan kembali mengurangi produksi dan tenaga kerja. Fenomena ini terlihat di berbagai sektor konsumsi domestik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Pendekatan neoliberal dan teori efisiensi pasar melihat PHK sebagai bagian dari mekanisme penyesuaian ekonomi modern. Dalam logika tersebut, perusahaan harus tetap kompetitif di tengah globalisasi dan perubahan teknologi. Restrukturisasi tenaga kerja dianggap sebagai konsekuensi rasional dari dinamika pasar.
Perspektif ini sering dikritik karena terlalu melihat manusia sebagai variabel produksi semata, bukan sebagai subjek sosial yang hidupnya terdampak secara psikologis, keluarga, dan budaya.
Bank Dunia justru melihat persoalan Indonesia lebih struktural. Dalam berbagai laporannya, Bank Dunia menyoroti tingginya informalitas tenaga kerja, rendahnya produktivitas, lemahnya perlindungan sosial, dan terbatasnya transformasi industri bernilai tambah tinggi.
Laporan Bank Dunia tentang reformasi menuju Indonesia yang formal dan makmur menegaskan bahwa sebagian besar pekerja Indonesia masih berada di sektor informal dengan tingkat perlindungan yang rendah. Regulasi ketenagakerjaan dan sistem pesangon bahkan dinilai sering tidak efektif dalam praktik.
Analisis tersebut penting karena banyak korban PHK sebenarnya tidak pernah benar-benar tercatat secara resmi. Pekerja kontrak yang tidak diperpanjang, pekerja harian, freelancer digital, pekerja platform daring, dan pekerja informal yang kehilangan penghasilan sering tidak masuk statistik pengangguran formal.
Secara angka, mereka mungkin tetap dianggap “bekerja”, tetapi secara ekonomi mengalami penurunan kesejahteraan yang drastis.
Transformasi teknologi memperumit situasi. Revolusi digital dan kecerdasan buatan atau AI membuat perusahaan semakin mudah melakukan otomatisasi. Dalam teori "creative destruction" Joseph Schumpeter, inovasi teknologi memang selalu menghancurkan model kerja lama untuk melahirkan struktur ekonomi baru.
Dahulu revolusi industri menggantikan pekerjaan manual dengan mesin. Kini AI dan otomatisasi mulai menggantikan pekerjaan administratif, layanan pelanggan, desain dasar, bahkan analisis data sederhana. Perusahaan teknologi global menunjukkan bahwa kapitalisme modern tidak lagi membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi modern sering tidak lagi identik dengan pertumbuhan lapangan kerja. Ekonomi dapat tumbuh karena produktivitas teknologi meningkat, tetapi penyerapan tenaga kerja justru menurun.
Fenomena "jobless growth" yang dahulu banyak dibahas ekonom seperti Robert Solow dan kemudian dikembangkan dalam kajian ekonomi digital kini semakin terasa nyata di Indonesia.
Kasus PHK di Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari krisis kelas menengah. Banyak ekonom independen menilai kelas menengah Indonesia mulai mengalami tekanan berat akibat stagnasi upah, kenaikan biaya hidup, cicilan rumah tangga, dan ketidakpastian pekerjaan. Ketika kelas menengah melemah, konsumsi domestik ikut menurun karena kelompok inilah yang selama ini menjadi mesin utama pasar nasional.
Dalam teori konsumsi Keynes maupun hipotesis pendapatan permanen Milton Friedman, ketidakpastian masa depan akan membuat rumah tangga lebih berhati-hati membelanjakan uangnya. Dampaknya langsung terasa pada sektor ritel, properti, otomotif, dan industri konsumsi lainnya.
Situasi global juga menunjukkan pola serupa. Amerika Serikat mengalami gelombang PHK besar di sektor teknologi. China menghadapi krisis properti dan penurunan manufaktur. Eropa mengalami stagnasi industri akibat biaya energi dan perlambatan ekonomi. Banyak negara berkembang menghadapi tekanan utang, pelemahan ekspor, dan meningkatnya pengangguran. Indonesia sebenarnya bukan kasus yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari reorganisasi ekonomi global besar-besaran setelah pandemi COVID-19, perang dagang, dan revolusi teknologi digital.
Pandemi menjadi titik penting perubahan tersebut. Setelah pandemi, perusahaan di seluruh dunia menyadari bahwa mereka dapat beroperasi dengan jumlah pekerja lebih sedikit melalui digitalisasi dan otomatisasi. Model kerja berubah secara permanen.
Banyak perusahaan kini lebih memilih kontrak fleksibel, outsourcing, atau pekerja berbasis proyek dibanding hubungan kerja jangka panjang. Ekonomi platform mempercepat perubahan itu. Akibatnya, rasa aman kerja yang dahulu menjadi ciri kelas menengah modern perlahan menghilang.
Narasi resmi negara dan pengalaman masyarakat sering berjalan di dua jalur berbeda. Pemerintah berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, ketahanan fiskal, stabilitas moneter, dan optimisme investasi. Masyarakat berbicara mengenai sulitnya mencari kerja, ancaman PHK, upah yang terasa tidak cukup, dan masa depan yang tidak pasti.
Kedua narasi tersebut sesungguhnya sama-sama benar, tetapi berasal dari level pengalaman ekonomi yang berbeda. Makroekonomi dapat tampak sehat, sementara mikroekonomi rumah tangga justru rapuh.
Isu PHK menjadi sangat penting untuk dibaca bukan hanya sebagai data statistik, melainkan sebagai refleksi perubahan besar peradaban ekonomi global. Dunia sedang bergerak menuju ekonomi yang semakin otomatis, semakin digital, dan semakin efisien, tetapi belum tentu semakin manusiawi.
Pertumbuhan ekonomi tidak lagi otomatis menciptakan rasa aman sosial. Teknologi menciptakan produktivitas tinggi, tetapi juga mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Negara berusaha menjaga stabilitas ekonomi, tetapi stabilitas tersebut tidak selalu terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Berita PHK sekarang terasa berbeda dibanding masa lalu. Fenomena tersebut bukan lagi sekadar tanda perusahaan bangkrut atau ekonomi mengalami resesi, melainkan gejala perubahan mendasar dalam hubungan antara manusia, pekerjaan, teknologi, dan kapitalisme global di abad ke-21.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]