Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Emi Suy dan Riri Satria
di antara hening dan nyaring
: perasaan dan kenyataan
cemas!
yang diseduh air panas
biarlah mengendap
di ampas kopi
lalu
aku
lalu
laju
di waktu sahur malam Lailatul Qadar
mencecapi
secangkir sepi
di tiap teguk
ada harap menyala
di bakar bara doa
yang begitu tenang
di saat subuh tiba
puasa adalah jalan sunyi
menujuNya
lahaula walakuata illabillah
hingga lebaran menjadi satu-satunya
kampung halaman kita
ada bisikan di antara sunyi
memuji kebesaran Sang Khalik
dan aku terdiam
jiwa tafakur
hening
erawangku jauh
melampaui malam
menyisir kilauan cahaya
mencari makna
bersama-Mu
malam ini ada orkestra
partitur ayat-ayat Semesta
mengiringi bait-bait puisi cinta
aku terdiam
Tertunduk
di tengah pusaran Jagat Raya
Tuhan, dari tahun ke tahun
ia menabuh rindu bertalu-talu
dari pintu ke pintu ia mengantar kecemasan mudik
menenteng rasa dan menghimpun air mata paling puitik
Tuhan, dari asin peluh yang membasuh
di tubuh kota yang gaduh
tempat menjual patuh pada keterasingan
takdir paling aduh—nasib paling riuh
semua berseru dari takbir ke takbir
dari takdir ke takdir
sunyi menghampiri—menari-nari
di keramaian sepanjang hari
ada yang pulang
perjalanan paling romantis
dari palung ke palung menuju ibu,
kampung halaman
menziarahi—kemenangan
di antara kenangan berserakan
dari debar ke debar dari pijar ke pijar
jantung bergetar cahaya memudar
dari antik ke antik gaya tarik menarik
hanya Tuhan yang Maha Asyik
pada malam yang turun perlahan seperti hujan
terdengar takbir menggema dari dalam kalbu
di antara sunyi yang tak bernama
kita belajar tunduk kepada Tuhan yang selalu kutuju
kita membawa rindu seperti perahu kecil
mengapung di atas samudera yang tak bertepi
di sanalah raga belajar berserah diri
bahwa cinta adalah jalan pulang yang sunyi
tak ada yang kita punya selain napas yang rapuh
dan doa yang sering jatuh sebelum sampai
namun dalam diam jiwa tetap memuja
sebab nama-Mu lebih luas dari segala kata
maka biarlah hidup berjalan seperti air
mengalir pelan menuju cahaya yang tak terlihat
di ujung perjalanan ini, wahai Tuhan
biarlah kalbu ini tenggelam dalam cinta dan taat
Tuhan
ia butuh ruang
untuk pulang,
pulang pada dirinya sendiri
merenangi kedalaman sunyi
dalam diri
saat ia diinjak
dilindas--dilumuri lumpur
dan dilempari batu
siapa, ada membela?
pada semesta alam
ia meminta
melaju tubuhnya
sebagai kereta
fi bulan ketika puasa menjadi sunyi yang panjang
kita berjalan perlahan
dalam perjalanan hidup yang tak selalu terang
di antara haus dan lapar yang sederhana
nama Tuhan diam-diam kupanggil seperti pulang
pada malam-malam yang jatuh seperti hujan yang lembut
kita belajar tunduk pada waktu dan pada diri sendiri
sebab cinta bukan hanya yang kita miliki
tetapi juga yang kita lepaskan sambil memuja sunyi
kadang doa hanya berupa napas yang pelan
kadang harap hanya setipis cahaya di kejauhan
namun di suatu malam yang dirahasiakan langit
barangkali itulah Lailatul Qadar yang diam-diam datang
dan kita mengerti akhirnya
bahwa hidup hanyalah perjalanan pulang yang panjang
dari tubuh yang berpuasa menuju jiwa yang lapang
dari cinta yang rapuh menuju Tuhan yang tak pernah hilang.
cuma sedikit jejak matahari senja
dari rasa yang besar setelah petang usai pesta
tak ada yang ditakar apalagi ditukar
sejak embun subuh yang diam-diam pergi
hingga hatimu menyala lalu pucat pasi
perjalanan boleh redup
tapi harapan tetap hidup
kalau gelap kerap menimang kesedihan
di dekapmu sepasang lengan yang cidera
mungkin kau pernah rapuh di deru waktu yang
detiknya berdetak — di dinding retak
sunyi yang ia rawat di dada kiri terlahir dari rahim sepi
sesuatu yang lebih hidup dari kehidupan
suka – duka mengalir di jantung berdegup,
kerap menganga — memompa
mengatup di deru mesin waktu
yang dituhankan manusia
tapi ditahan atau dihentikan oleh tuhan
luka tetap luka sepenggal kisah musim yang terkoyak
— terjepit mulut pintu yang berderit-derit
kenangan bercakap-cakap
memanggil hujan membasahi luka di tubuh kemarau
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]