Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Catatan atas Pertanyaan dan Gugatan Terhadap Diri
oleh: Riri Satria
Saya sering dikatakan tidak fokus. Alasannya terdengar sederhana sekaligus menghakimi karena saya dianggap menyentuh terlalu banyak bidang. Bukan hanya teknologi digital, transformasi digital, manajemen strategis, dan bisnis, yang sejak lama menjadi wilayah kerja saya, tetapi juga ekonomi makro, persoalan sosial dan kebudayaan, filsafat, bahkan sastra, terutama puisi.
Di telinga sebagian orang, semua itu terdengar seperti kegamangan. Seolah saya berjalan ke banyak arah tanpa tujuan yang jelas. Seolah ketekunan hanya sah jika seseorang berdiri lama di satu titik yang sempit, menatap lurus ke depan, dan menutup mata dari panorama di sekelilingnya.
Namun berkali-kali saya menggugat anggapan itu, terutama kepada diri saya sendiri. Apakah memang demikian seharusnya hidup dijalani? Bukankah hidup ini justru sangat berwarna, berlapis, dan penuh persilangan? Dan bukankah setiap fenomena ekonomi, teknologi, politik, budaya, bahkan puisi, selalu lahir dari perjumpaan banyak sebab, bukan dari satu sumber tunggal?
Saya tidak pernah benar-benar melihat berbagai bidang itu sebagai silo-silo yang terpisah, berdiri sendiri, dan tak saling menyapa. Bagi saya, semuanya berada dalam satu kerangka narasi besar tentang manusia dan zamannya. Teknologi tidak pernah netral, ia membawa nilai, kepentingan, dan imajinasi tentang masa depan.
Ekonomi bukan sekadar angka dan grafik, ia menyentuh dapur, harapan, kecemasan, dan martabat manusia. Kebudayaan bukan ornamen, ia adalah cara kita memaknai hidup. Filsafat memberi bahasa untuk bertanya, sementara puisi memberi keberanian untuk merasakan apa yang tak selalu bisa dijelaskan.
Di ruang itulah saya merasa sedang melakukan connecting the dots. Bukan untuk terlihat tahu banyak, tetapi untuk memahami lebih utuh. Karena realitas tidak datang kepada kita dalam potongan rapi seperti bab-bab buku teks. Ia hadir sekaligus, kusut, saling terkait, dan sering kali kontradiktif.
Bagi saya, ikhtiar menjelajah banyak bidang ini bukanlah tanda kehilangan fokus, melainkan usaha untuk bersikap holistik. Sebuah pendekatan yang mencoba memandang sesuatu secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang hidup, bukan sekadar kumpulan bagian yang dipisah-pisahkan demi kenyamanan analisis. Pendekatan yang menekankan hubungan, interaksi, dan konteks, agar pemahaman yang lahir tidak kering, tidak dangkal, dan tidak tergesa-gesa.
Ada kelelahan dalam jalan ini, tentu saja. Ada saat-saat ragu ketika suara-suara dari luar dan dari dalam diri sendiri bertanya apakah semua ini terlalu melebar. Tetapi ada juga kepuasan yang hening ketika satu gagasan dari filsafat tiba-tiba menjelaskan fenomena bisnis, atau satu bait puisi justru memberi cahaya pada persoalan teknologi. Di titik-titik itulah saya merasa utuh sebagai manusia, bukan sekadar profesional dalam satu kotak peran.
Mungkin saya memang tidak fokus dalam pengertian sempit. Tetapi saya memilih untuk setia pada satu hal yaitu keinginan memahami kehidupan secara lebih utuh. Dan bagi saya, kesetiaan semacam itu justru membutuhkan keberanian untuk melintasi batas-batas disiplin, mendengarkan banyak suara, dan menerima bahwa kebenaran sering kali lahir di ruang pertemuan, bukan di wilayah yang steril dan terpisah.
Jika itu disebut tidak fokus, saya menerimanya. Sebab barangkali yang sedang saya perjuangkan bukan fokus yang menyempit, melainkan perhatian yang luas sebagai upaya kecil untuk tetap manusiawi di dunia yang semakin gemar menyederhanakan segalanya.
Tentu saja saya menaruh hormat yang sungguh-sungguh kepada siapa pun yang memilih fokus menekuni satu bidang dengan konsentrasi tinggi. Mereka yang menghabiskan bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk menggali satu ceruk pengetahuan, mengasahnya hingga tajam, dan akhirnya diakui sebagai pakar atau spesialis. Dunia ini berjalan dalam banyak hal berkat ketekunan semacam itu. Ilmu pengetahuan maju karena ada orang-orang yang setia tinggal lama di satu titik, meneliti dengan sabar, mengulang pertanyaan yang sama dengan ketelitian yang hampir asketik.
Penghormatan saya kepada jalan itu tidak pernah setengah hati.
Namun saya juga percaya bahwa setiap manusia memiliki hak dan kebebasan untuk memilih jalannya sendiri. Tidak semua orang dipanggil untuk tinggal lama di satu lorong yang sempit. Ada yang justru merasa hidup ketika berjalan dari satu ruang ke ruang lain untuk memperhatikan keterkaitan di antara semuanya.
Saya paham betul bahwa perkembangan ilmu pengetahuan terutama melalui riset memang menuntut konsentrasi tinggi pada satu bidang. Tradisi akademik modern dibangun di atas spesialisasi. Thomas Kuhn menjelaskan bagaimana science bekerja dalam kerangka paradigma tertentu, dengan aturan, metode, dan fokus yang jelas. Tanpa disiplin semacam itu, pengetahuan akan mudah kehilangan pijakan.
Namun pemahaman ini tidak otomatis membuat pendekatan lain menjadi keliru. Menghubungkan berbagai temuan, membangun connecting the dots dalam narasi yang lebih luas, bukanlah pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan. Justru di situlah ilmu pengetahuan bertemu dengan kebijaksanaan. E.O. Wilson menyebutnya sebagai consilience atau paya menyatukan berbagai cabang pengetahuan untuk memahami realitas secara lebih utuh. Bukan menggantikan spesialisasi, melainkan melengkapinya.
Dalam pengalaman personal saya, banyak persoalan besar zaman ini seperti krisis iklim, ketimpangan ekonomi, disrupsi teknologi, serta keterasingan manusia, tidak pernah hadir sebagai masalah tunggal yang bisa diselesaikan oleh satu disiplin saja. Ia selalu datang sebagai simpul dari banyak benang yaitu sains, ekonomi, politik, budaya, etika, bahkan imajinasi. Di titik itu, kemampuan melihat hubungan antar bidang menjadi sama pentingnya dengan kedalaman di satu bidang.
Saya sering merasa berada di wilayah antara di mana tidak sepenuhnya tinggal di satu rumah disiplin, tetapi juga tidak sekadar singgah tanpa arah. Ada kegelisahan? tentu saja. Ada rasa seolah berjalan di tanah yang tidak sepenuhnya kokoh. Tetapi ada pula rasa tanggung jawab batin untuk mencoba menyusun cerita besar dari potongan-potongan kecil pengetahuan yang berserakan.
Bagi saya, connecting the dots adalah kerja makna. Ia bukan tentang menjadi tahu segalanya, melainkan tentang merajut pemahaman agar tidak terfragmentasi. Dalam dunia yang semakin terspesialisasi, barangkali kita justru membutuhkan lebih banyak jembatan, yaitu orang-orang yang bersedia berdiri di antara pulau-pulau pengetahuan, menerjemahkan, dan menghubungkan, tidak selamanya berdiri di satu pulau semata.
Pada akhirnya, ini bukan soal mana yang lebih unggul antara spesialis atau generalis, antara fokus sempit atau pandangan luas. Keduanya adalah jalan yang sah, dengan risiko dan keindahannya masing-masing. Saya memilih untuk menghormati semua jalan itu, sambil tetap setia pada pilihan pribadi saya yaitu berjalan perlahan, menengok ke berbagai arah, dan berusaha memahami dunia bukan hanya sebagai kumpulan bagian, tetapi sebagai kisah besar yang saling terhubung.
Dan mungkin, di situlah saya menemukan ketenangan, bukan dalam kepastian mutlak, melainkan dalam upaya terus-menerus untuk merangkai makna.
(Riri Satria - Januari 2024)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]