Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Jabat Tangan Jagat Sastra Milenia: Memahami Intertekstualitas dalam Sastra

    06 Nov 2026 | Dilihat: 14 kali

    Kontributor | Rissa Churria

    Jakarta, Hatipena // Jagat Sastra Milenia (JSM) kembali menyelenggarakan Forum Jabat Tangan ke-6 pada Selasa, 3 November 2026 di Eatwell Cafe, dengan mengangkat tema “Memahami Intertekstualitas dalam Sastra”. Forum ini menghadirkan Naning Scheid sebagai narasumber dan Riri Satria sebagai moderator, serta diikuti oleh peserta yang hadir langsung di lokasi maupun yang mengikuti siaran langsung melalui Facebook, Instagram, dan TikTok.

    Acara yang semula juga direncanakan menghadirkan Sofyan RH Zaid sebagai pembahas ini akhirnya berlangsung dengan Naning Scheid sebagai narasumber tunggal, setelah Sofyan berhalangan hadir karena keperluan mendadak ke luar kota.

    Intertekstualitas sebagai Kesadaran Estetis

    Dalam pemaparannya, Naning Scheid menegaskan bahwa intertekstualitas, sebagaimana dirumuskan pertama kali oleh Julia Kristeva—bukan sekadar teknik pinjam-meminjam, melainkan sebuah kesadaran estetis yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun teks yang lahir dari ruang hampa.

    “Sebuah karya sastra adalah mosaik dinamis yang secara sadar maupun tidak sadar berdialog, merespons, dan mentransformasikan makna dari teks-teks pendahulu yang telah ada di dalam ekosistem kebudayaan.”

    Ia juga menegaskan perbedaan fundamental antara intertekstualitas dan plagiarisme:

    “Jika plagiarisme merupakan tindakan pencurian intelektual tanpa pembaruan nilai, intertekstualitas justru mengeksplorasi ruang dialog kreatif di mana teks lama digunakan sebagai fondasi untuk melahirkan kedalaman makna baru.”

    Intertekstualitas: Sengaja maupun Tanpa Disadari

    Salah satu hal menarik yang mengemuka dalam diskusi adalah bagaimana intertekstualitas dapat terjadi, baik secara sengaja maupun tanpa disadari oleh pengarang. Seorang penulis mungkin dengan sadar mengambil inspirasi dari karya terdahulu, mengembangkan gagasannya, atau bahkan menghadirkan kritik terhadapnya.

    Namun, Naning menyoroti bahwa intertekstualitas juga dapat muncul melalui pengalaman membaca dan menyerap berbagai cerita, gagasan, serta simbol yang kemudian tersimpan dalam ingatan.

    “Ketika seorang penyair menulis tentang laut, gambaran laut dalam puisinya mungkin memiliki hubungan dengan berbagai karya sastra yang pernah dibacanya, meskipun ia tidak secara khusus bermaksud merujuk pada karya tertentu. Ini menunjukkan bahwa proses kreatif tidak selalu berlangsung dalam kesadaran yang sepenuhnya utuh.”

    Ia menambahkan bahwa ada pengalaman, ingatan, dan pengaruh kebudayaan yang ikut membentuk karya sastra, bahkan ketika pengarangnya tidak lagi mengingat dari mana pengaruh tersebut berasal.

    Membaca sebagai Penelusuran Percakapan

    Diskusi ini juga mengingatkan bahwa intertekstualitas bukan sekadar persoalan kemiripan atau pengaruh antar karya, melainkan cara memahami sastra sebagai ruang dialog yang terus hidup. Sebuah karya dapat berbicara dengan karya lain, menghadirkan kembali gagasan lama dalam konteks baru, atau memberikan makna berbeda terhadap cerita yang telah dikenal sebelumnya.

    “Membaca sastra bukan hanya memahami apa yang tertulis di dalam sebuah karya, tetapi juga menelusuri percakapan yang berlangsung di baliknya, mengubah aktivitas membaca menjadi proses pembongkaran kode dan keterlibatan aktif dalam jaringan komunikasi lintas zaman antar-penulis.”

    Bagi pembaca, pemahaman intertekstual ini tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis struktural, tetapi juga membuka pengalaman resepsi yang lebih kaya.

    Topik intertekstualitas yang dibahas dalam forum ini merupakan bagian dari riset dua tahun yang dilakukan Naning Scheid untuk tesis S2-nya. Saat ini, Naning sedang menempuh studi S3 di Paris, Prancis, dan sehari-hari berdomisili di Brussels, Belgia. Latar belakang akademis serta pengalamannya sebagai peneliti dan penerjemah memberikan kedalaman tersendiri dalam diskusi ini.

    Diskusi berlangsung selama kurang lebih dua jam dengan suasana akrab namun tetap bernas. Di akhir acara, moderator membacakan satu puisi karya Naning Scheid secara spontan sebagai bentuk apresiasi atas kehadiran dan gagasan yang dibagikan.

    Melalui Jabat Tangan #6, JSM kembali menegaskan perannya sebagai rumah belajar bersama yang terus merawat semangat berkarya dan memperluas cakrawala kesusastraan Indonesia melalui dialog lintas budaya dan bahasa. (*)

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Hari ini pas Hari Pelindo 1 Oktober, Paltform Digital Adhara resmi dipergunakan

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture