Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Perjalanan saya sebagai penulis sesungguhnya dimulai tahun 1990-an. Buku "Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis" yang terbit pada 2003 lahir dari perhatian saya terhadap ekonomi, bisnis, organisasi, manajemen, dan perubahan lingkungan. Ini adalah kumpulan tulisan esai saya di harian Republika pada kurun waktu 1998 sampai 2021 tentang topik-topik tersebut.
Setelah jeda cukup panjang, saya kembali memasuki dunia sastra melalui buku puisi "Jendela" pada 2016. Buku ini bagi saya seperti membuka sebuah pintu yang lama tertutup, di dalamnya terdapat puisi-puisi yang merekam perjalanan batin, kegelisahan, pengalaman, kerinduan, dan pencarian makna. Setelah itu lahir "Winter in Paris" (2017), kumpulan puisi berbahasa Inggris yang saya tulis dari pengalaman berada di Paris pada musim dingin, kemudian "Siluet, Senja, dan Jingga" (2019), yang semakin mempertemukan pengalaman perjalanan, waktu, kehidupan, dan refleksi batin.
Kalau saya melihat kembali ketiga buku puisi tersebut hari ini, saya merasa bahwa perjalanan geografis yang saya jalani sebenarnya selalu membawa saya kembali kepada perjalanan ke dalam diri.
Pada 2021, ruang penulisan saya semakin melebar melalui trilogi buku kumpulam esai "Proposisi Teman Ngopi", yaitu "Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital", "Pendidikan dan Pengembangan Diri", serta "Sastra dan Masa Depan Puisi". Ketiga buku tersebut merepresentasikan tiga dunia yang selama ini memang dekat dengan kehidupan saya, dunia profesional dan ekonomi, manusia dan pengembangan dirinya, serta sastra.
Saya kemudian meneruskan perjalanan itu melalui buku "Jelajah" (2022), sebuah kumpulan esai yang mencerminkan cara saya melihat kehidupan dari berbagai sudut. Pada tahun yang sama saya menerbitkan buku puisi "Metaverse", buku puisi yang secara lebih eksplisit membawa teknologi digital, dunia virtual, dan perubahan peradaban ke dalam puisi.
Bagi saya, teknologi tidak pernah hanya merupakan perangkat atau sistem. Teknologi selalu mempunyai konsekuensi terhadap manusia, cara manusia berpikir, berinteraksi, bekerja, mencipta, bahkan memaknai kehidupannya. Karena itu, sejak awal saya merasa bahwa teknologi dan sastra sebenarnya tidak berada di dua dunia yang terpisah.
Gagasan itu kemudian semakin berkembang tahun 2023 melalui "Algoritma Kesunyian", karya duet saya bersama Emi Suy, dan "Login Haramain" yang lahir dari pengalaman perjalanan ibadah haji saya pada 2025.
Algoritma Kesunyian mempertemukan dua kata yang seolah-olah berasal dari dunia berbeda, algoritma, yang sangat dekat dengan teknologi dan ilmu komputer, serta kesunyian, yang sangat dekat dengan wilayah batin dan perenungan manusia.
Sementara itu, "Login Haramain" mempertemukan pengalaman spiritual dengan sebuah istilah yang sangat akrab dalam kehidupan digital. Saya sengaja membawa bahasa teknologi ke dalam pengalaman spiritual karena bagi saya keduanya tidak harus dipertentangkan. Manusia modern dapat hidup bersama teknologi, tetapi tetap membutuhkan ruang untuk berhenti, merenung, berdoa, dan kembali menemukan dirinya.
Dalam perjalanan penulisan saya, di sinilah teknologi mulai saya lihat bukan hanya sebagai objek pemikiran, tetapi sebagai salah satu bahasa untuk memahami manusia dan kehidupannya.
Tahun 2026 menjadi salah satu periode paling produktif dalam perjalanan penulisan saya dengan terbitnya 4 buku sekaligus, yaitu "Selesai Tak Usai", "Teknologi Bukan Musuh", "Masa Depan Sastra dan Kecerdasan Buatan", dan "Bom Waktu".
"Selesai Tak Usai" merupakan refleksi saya mengenai esai, proses menulis, dan proses berpikir yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar selesai. "Teknologi Bukan Musuh" berangkat dari keyakinan saya bahwa persoalan utama bukanlah teknologinya, melainkan kompetensi dan etika manusia dalam menggunakannya. "Masa Depan Sastra dan Kecerdasan Buatan" merupakan kelanjutan dari kegelisahan saya mengenai hubungan sastra dan teknologi yang sudah saya pikirkan sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Sementara "Bom Waktu", yang berisi 100 puisi, membawa kegelisahan tersebut ke wilayah yang lebih luas, perkembangan peradaban, ketimpangan, lingkungan, keadilan sosial, dan masa depan manusia. Keempat buku ini, dengan cara masing-masing, memperlihatkan bahwa saya semakin tertarik pada pertanyaan tentang ke mana manusia dan peradaban sedang bergerak.
Di samping buku-buku yang telah diterbitkan tersebut, sesungguhnya masih terdapat sejumlah manuskrip dan karya intelektual yang saya tulis, tetapi belum lengkap atau belum saya anggap layak disebut sebagai buku. Sebagian di antaranya berupa tulisan dan gagasan mengenai kecerdasan buatan, deepfake, transformasi digital, analisis dan kritik sastra, serta berbagai persoalan lain yang berada di persimpangan antara teknologi, manusia, masyarakat, dan kebudayaan.
Bagi saya, manuskrip-manuskrip tersebut tetap merupakan bagian dari perjalanan intelektual, meskipun belum menjadi karya yang selesai dalam bentuk buku. Ada gagasan yang mungkin suatu hari berkembang menjadi buku tersendiri, ada yang mungkin tetap menjadi kumpulan tulisan, dan ada pula yang mungkin justru berhenti sebagai catatan pemikiran dari suatu periode kehidupan.
Saya tidak terlalu memaksakan semuanya harus menjadi buku. Sebab, bagi saya, nilai sebuah gagasan tidak selalu ditentukan oleh apakah ia akhirnya menjadi sebuah buku atau tidak. Ada gagasan yang memang membutuhkan waktu panjang untuk matang, bahkan mungkin baru menemukan bentuknya bertahun-tahun kemudian.
Kalau seluruh buku, manuskrip, artikel, esai, puisi, dan berbagai catatan pemikiran itu saya lihat sebagai satu kesatuan, saya menemukan sebuah garis yang cukup jelas, dari bisnis dan perubahan, bergerak menuju diri dan pengalaman, kemudian sastra dan perjalanan, masuk ke teknologi dan peradaban, lalu menuju spiritualitas, kecerdasan buatan, dan masa depan manusia.
Saya tidak pernah merencanakan perjalanan penulisan ini sebagai sebuah peta yang sistematis. Ia tumbuh bersama perjalanan hidup saya. Saya adalah seseorang yang hidup di banyak ruang, yaitu ilmu komputer, manajemen, teknologi digital, organisasi, pendidikan, sastra, perjalanan, dan kehidupan sosial. Semua ruang itu akhirnya bertemu di dalam tulisan.
Karena itu, jika saya harus mencari satu benang merah dari seluruh karya saya, saya kira jawabannya bukan teknologi, bukan ekonomi, dan bukan pula puisi. Benang merahnya adalah manusia yang terus berusaha memahami dirinya dan memahami perubahan zamannya.
Jangan-jangan, justru inilah esensi dari makna “Jelajah”, seperti judul salah satu buku esai saya. Saya sebenarnya sedang menjelajahi berbagai ruang pemikiran, ruang bisnis, ekonomi, teknologi, pendidikan, sastra, budaya, spiritualitas, hingga kecerdasan buatan. Saya berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya, bukan semata-mata karena ingin berada di banyak tempat, tetapi karena saya selalu ingin mencari hubungan dan benang merah di antara ruang-ruang tersebut.
Semakin saya menjelajah, semakin saya menyadari bahwa semua itu sesungguhnya bukanlah komponen yang terpisah-pisah. Ada sesuatu yang menyatukannya, yaitu kegelisahan manusia dalam menghadapi perubahan zaman. Kegelisahan itu dapat muncul dalam bentuk teknologi, ekonomi, ketimpangan, pendidikan, sastra, budaya, spiritualitas, ataupun kecerdasan buatan.
Bentuknya berbeda-beda, tetapi pertanyaan dasarnya sering kali sama, ke mana manusia akan pergi, bagaimana manusia menghadapi perubahan, dan bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah dunia yang terus berubah?
Pada akhirnya, saya berharap seluruh tulisan dan pemikiran yang saya tinggalkan, baik yang telah menjadi buku maupun yang masih berupa manuskrip, esai, puisi, catatan, dan gagasan, dapat menjadi semacam legacy saya kepada kehidupan. Bukan legacy dalam pengertian kemegahan atau kebesaran pribadi, melainkan jejak tentang bagaimana saya memandang kehidupan, bagaimana saya mencoba memahami berbagai persoalan, bagaimana saya menganalisisnya, lalu bagaimana saya berusaha menawarkan pemikiran kepada banyak orang.
Saya tidak berharap semua orang harus setuju dengan apa yang saya tuliskan. Justru sebaliknya, saya berharap tulisan-tulisan itu dapat dibaca, dipahami, didiskusikan, diperdebatkan, bahkan dipertentangkan. Sebab sebuah pemikiran akan menjadi hidup ketika ia bertemu dengan pemikiran lain.
Jika dari seluruh perjalanan penulisan saya ada sesuatu yang dapat memberi manfaat bagi kehidupan, menjadi pengetahuan bagi orang lain, membuka perspektif baru, atau sekadar membuat seseorang berhenti sejenak untuk berpikir, bagi saya itu sudah merupakan sesuatu yang berarti.
Semoga apa yang saya tulis tidak berhenti sebagai kumpulan kata dan buku, tetapi dapat menjadi bagian kecil dari percakapan panjang manusia tentang kehidupan, perubahan zaman, dan bagaimana kita semua berusaha tetap menjadi manusia di dalamnya.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]