Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • AI ADALAH ALAT, KREATIVITAS ADALAH PENGGERAKNYA

    08 Jul 2026 | Dilihat: 25 kali

    oleh Riri Satria

    Banyak orang masih memandang penggunaan kecerdasan buatan atau AI sebagai sekadar persoalan teknis. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga belum sepenuhnya benar. AI memang dibangun melalui disiplin ilmu komputer, algoritma, data, dan rekayasa perangkat lunak (engineering).

    Penggunaannya pun sering dikaitkan dengan prompt engineering, yaitu kemampuan menyusun perintah agar sistem AI menghasilkan keluaran yang sesuai dengan harapan. Pandangan tersebut kemudian melahirkan kesan bahwa keberhasilan memanfaatkan AI semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis dalam menyusun prompt. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks dari pada itu.

    Proses penggunaan AI sesungguhnya diawali jauh sebelum seseorang mengetikkan sebuah prompt. Pengguna terlebih dahulu mengamati sebuah fenomena, mengenali persoalan, merumuskan pertanyaan, menentukan tujuan, membayangkan berbagai kemungkinan solusi, lalu memilih pendekatan yang dianggap paling tepat. Proses tersebut merupakan aktivitas berpikir yang sangat kreatif. Prompt engineering hanyalah salah satu tahapan di tengah rangkaian proses yang lebih panjang. Kualitas sebuah prompt pada akhirnya mencerminkan kualitas cara berpikir orang yang menyusunnya.

    Perbedaan tersebut dapat dijelaskan melalui sebuah ilustrasi sederhana. Dua orang dapat menggunakan aplikasi AI yang sama dengan model bahasa yang sama pula. Orang pertama hanya meminta AI membuat ringkasan sebuah dokumen. Orang kedua menggunakan AI untuk mengembangkan berbagai alternatif solusi, membandingkan beberapa teori, mencari analogi dari disiplin ilmu yang berbeda, menguji kelemahan argumennya sendiri, kemudian menyusun sintesis yang lebih komprehensif. Teknologi yang digunakan sama, tetapi hasil akhirnya sangat berbeda.

    Perbedaan itu bukan terletak pada kecanggihan AI, melainkan pada kreativitas manusia dalam memanfaatkan AI sebagai mitra berpikir.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI bukan sekadar engineering process, melainkan juga sebuah creative process. Rekayasa teknis memang diperlukan agar AI dapat bekerja secara efektif. Namun kreativitas manusialah yang menentukan arah penggunaannya. Kreativitas membantu seseorang menentukan masalah yang layak diselesaikan, memilih perspektif yang berbeda, menghubungkan berbagai disiplin ilmu, serta menemukan peluang yang sebelumnya tidak terlihat. AI kemudian berperan mempercepat eksplorasi berbagai kemungkinan yang telah dirancang oleh manusia. Hubungan keduanya bukanlah hubungan yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi.

    Perubahan tersebut membawa konsekuensi yang menarik bagi dunia pendidikan, penelitian, bisnis, bahkan pemerintahan. Kompetensi yang paling dibutuhkan pada masa depan bukan lagi sekadar kemampuan mengoperasikan aplikasi AI. Kompetensi yang jauh lebih penting adalah kemampuan berpikir kritis, berpikir strategis, berpikir kreatif, dan merumuskan pertanyaan yang bermakna. Manusia yang mampu mengajukan pertanyaan yang tepat hampir selalu memperoleh manfaat AI yang lebih besar dibandingkan mereka yang hanya menguasai aspek teknis penggunaannya. Nilai tambah manusia bergeser dari kemampuan mengolah informasi menuju kemampuan menciptakan makna, membangun perspektif baru, dan menghasilkan inovasi.

    Refleksi tersebut mengingatkan kita bahwa teknologi tidak pernah menjadi sumber kreativitas. Teknologi hanyalah alat yang memperluas kemampuan manusia. AI dapat membantu menyusun kalimat, membuat analisis, menghasilkan gambar, bahkan menulis program komputer dalam hitungan detik.

    Namun, AI tidak pernah menentukan mimpi yang ingin diwujudkan, nilai yang ingin diperjuangkan, ataupun masa depan yang ingin dibangun. Semua itu tetap lahir dari imajinasi, pengalaman, kebijaksanaan, dan kreativitas manusia. Oleh karena itu, keberhasilan memanfaatkan AI pada akhirnya bukan ditentukan oleh siapa yang paling mahir menggunakan teknologinya, melainkan oleh siapa yang paling mampu berpikir kreatif bersama teknologi tersebut.

    AI mempercepat proses rekayasa, tetapi manusialah yang tetap menjadi penggerak utama proses kreatif. Pada akhirnya, masa depan bukan akan dimenangkan oleh mereka yang sekadar mampu menggunakan AI, melainkan oleh mereka yang mampu memadukan kecerdasan manusia dengan kecerdasan buatan untuk melahirkan gagasan, strategi, dan solusi yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

    Sebelum seseorang menyusun sebuah prompt, sesungguhnya ada proses yang jauh lebih penting yang sering kali luput dari perhatian, yaitu menyusun strategi. Strategi lahir dari kemampuan memahami persoalan, menetapkan tujuan, mengidentifikasi berbagai alternatif solusi, mempertimbangkan risiko, serta memilih pendekatan yang paling tepat.

    Seluruh rangkaian tersebut merupakan proses kreatif (creative process) yang sepenuhnya berada di tangan manusia. Prompting bukanlah titik awal penggunaan AI, melainkan turunan dari strategi yang telah dirumuskan sebelumnya. Oleh karena itu, kualitas sebuah prompt pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas strategi yang melahirkannya.

    Prompt engineering memang merupakan sebuah proses rekayasa (engineering process), tetapi strategi yang mendasarinya merupakan hasil kreativitas, pengalaman, pengetahuan, dan kebijaksanaan manusia.

    Pemahaman ini menjadi semakin penting pada era kecerdasan buatan. Banyak orang berlomba-lomba mempelajari teknik menyusun prompt yang efektif, padahal kemampuan yang paling mendasar justru adalah berpikir strategis dan berpikir kreatif. AI dapat membantu memproses informasi, menghasilkan berbagai alternatif jawaban, dan mempercepat penyelesaian pekerjaan.

    Namun AI tidak menentukan masalah mana yang harus diselesaikan, tujuan apa yang ingin dicapai, ataupun strategi terbaik yang harus ditempuh. Semua keputusan tersebut tetap merupakan tanggung jawab manusia. Dengan demikian, keunggulan manusia di era AI bukan hanya terletak pada kemampuannya menggunakan teknologi, melainkan pada kemampuannya merancang strategi yang kreatif, kemudian menerjemahkan strategi tersebut menjadi prompt yang tepat agar AI dapat bekerja secara optimal.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture