Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Melalui Mbak Nunung Noor El Niel, saya menerima sebuah buku yang menarik berjudul "Dari Tubuh ke Ombak: Antologi Puisi Perempuan Bahari". Buku ini digagas oleh Mbak Nia Samsihono sekaligus sebagai editor, dan merupakan seri terbaru dari antologi puisi perempuan bahari yang telah diterbitkan sebelumnya.
Bagi saya, buku ini memiliki daya tarik tersendiri karena menghadirkan refleksi-refleksi puitis para penyair perempuan Indonesia yang menafsirkan laut bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang batin, ruang pengalaman, ruang kenangan, bahkan ruang kehidupan.
Laut di dalam puisi-puisi mereka tidak hanya bergelombang di permukaan, tetapi juga berdenyut di kedalaman jiwa. Dari tubuh, lahirlah ombak-ombak pengalaman, dari laut, lahirlah puisi; dan dari setiap gelombang, lahirlah kata-kata yang mengabadikan hubungan manusia dengan alam yang membesarkannya.
Ketertarikan saya terhadap buku ini tentu bukan tanpa alasan. Sejak kecil saya tumbuh tidak jauh dari pantai, hanya sekitar dua kilometer dari rumah. Masa kanak-kanak saya dipenuhi oleh aroma asin laut, debur ombak, pasir, dan angin yang hingga kini masih melekat kuat dalam ingatan. Memasuki masa remaja, pantai tetap menjadi tempat yang paling sering saya kunjungi.
Bahkan ketika duduk di bangku SMA di Padang, saya pernah melakukan penelitian mengenai komunitas dan ekosistem pantai di kota Padang yang kemudian saya kirimkan ke Lomba Penelitian Ilmiah Remaja di Sumatera Barat saat itu.
Pengalaman-pengalaman itulah yang membuat saya memahami bahwa laut bukan sekadar lanskap geografis, melainkan ruang yang membentuk cara kita memandang kehidupan.
Ketika membaca antologi ini terasa begitu akrab, seolah saya sedang menyusuri kembali jejak-jejak masa kecil yang pernah saya tinggalkan di bibir pantai.
Kini meskipun profesi saya berada di dunia teknologi digital, keseharian saya justru sangat bersentuhan dengan dunia kepelabuhan dan ekosistem logistik maritim Indonesia.
Dari ruang kerja saya di lantai 10 sebuah gedung di kawasan utara Jakarta, Pelabuhan Tanjung Priok tampak membentang dengan segala dinamikanya, peti kemas yang bergerak tanpa henti, aktivitas bongkar muat, truk-truk yang lalu lalang, hingga denyut kehidupan masyarakat pesisir dan anak-anak nelayan yang bermain di sekitarnya.
Saya juga cukup sering mengunjungi Museum Bahari dan Museum Maritim di Jakarta, dua tempat yang semakin meneguhkan kecintaan saya pada dunia kebaharian. Karena itu, membaca antologi ini terasa seperti menyelami laut dari sudut pandang yang berbeda, yaitu melalui suara-suara batin para penyair perempuan yang mengubah ombak menjadi metafora dan pantai menjadi ruang kontemplasi.
Saya selalu percaya bahwa laut bukanlah sesuatu yang memisahkan kita, melainkan yang menyatukan Indonesia. Laut bukan halaman belakang negeri ini, melainkan halaman depannya. Di sanalah sejarah, perdagangan, kebudayaan, dan masa depan Indonesia bertemu.
Selamat kepada Mbak Nia Samsihono beserta seluruh sahabat penyair perempuan yang telah menghadirkan karya puisi ini. Semoga puisi-puisi dalam buku ini semakin memperkaya kesadaran kita bahwa identitas Indonesia sebagai negara maritim bukan hanya hidup dalam peta dan pelabuhan, tetapi juga dalam sastra, ingatan, dan kemanusiaan.
Dari tubuh lahir pengalaman, dari laut lahir inspirasi, dan dari gelombang lahirlah kata-kata yang akan terus hidup melintasi waktu.
Salam
dari lelaki bahari š
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku āApa dan Siapa Penyair Indonesiaā yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: āJendelaā (2016), āWinter in Parisā (2017), āSiluet, Senja, dan Jinggaā (2019), āMetaverseā (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul āAlgoritma Kesunyianā (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: āUntuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnisā (2003), trilogi āProposisi Teman Ngopiā (2021) yang terdiri tiga buku āEkonomi, Bisnis, dan Era Digitalā, āPendidikan dan Pengembangan Diriā, dan āSastra dan Masa Depan Puisiā (2021), serta āJelajahā (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaruās Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku āApa dan Siapa Penyair Indonesiaā yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: āJendelaā (2016), āWinter in Parisā (2017), āSiluet, Senja, dan Jinggaā (2019), āMetaverseā (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul āAlgoritma Kesunyianā (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: āUntuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnisā (2003), trilogi āProposisi Teman Ngopiā (2021) yang terdiri tiga buku āEkonomi, Bisnis, dan Era Digitalā, āPendidikan dan Pengembangan Diriā, dan āSastra dan Masa Depan Puisiā (2021), serta āJelajahā (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaruās Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ā Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa AlaaĀ atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Ā oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ā Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorakādengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuhātapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]