Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Oleh: Emi Suy
Ada tulisan yang memberi kita jawaban. Dan ada tulisan yang justru membuat kita tidak bisa lagi hidup dengan jawaban lama.
Tulisan Bang Riri Satria termasuk yang kedua. Ia tidak sekadar menjelaskan tentang kecerdasan buatan, ekonomi digital, atau transformasi organisasi. Ia seperti membuka satu lapisan yang selama ini kita anggap selesai, padahal belum benar-benar kita pahami. Kita membaca tentang intelligent economy dan creative economy, tetapi diam-diam kita sedang membaca ulang apa arti bekerja, berpikir, bahkan menjadi manusia.
Dulu kita percaya kemajuan adalah soal mesin yang membantu manusia. Mesin mempercepat kerja, mempermudah hidup, dan memperluas kemampuan. Dalam tulisan ini, relasi itu bergeser pelan-pelan. Mesin tidak lagi sekadar membantu, ia mulai masuk ke wilayah yang paling sunyi dalam diri manusia, wilayah berpikir dan mencipta.
Ketika Deep Blue mengalahkan Garry Kasparov, mungkin itu masih bisa kita terima sebagai kemenangan komputasi atas strategi. Tetapi ketika mesin mulai menulis puisi, menciptakan gambar, bahkan menyusun narasi yang terasa dekat dengan pengalaman manusia, kita tidak lagi berhadapan dengan alat. Kita berhadapan dengan sesuatu yang memantulkan diri kita sendiri, kadang lebih cepat, kadang lebih rapi, kadang bahkan terasa lebih yakin daripada kita.
Di titik itu, kegelisahan muncul tanpa perlu diundang. Jika mesin bisa mencipta, lalu di mana letak keunikan manusia. Tulisan ini tidak buru-buru menjawab. Ia justru menggeser cara kita melihat pertanyaan itu. Manusia tidak lagi berdiri sebagai satu-satunya pencipta, melainkan sebagai pengarah makna.
Dalam proses kreatif yang baru, manusia memberi arah, mesin memberi kemungkinan, lalu manusia kembali memilih, menyaring, dan memberi sentuhan akhir. Ada hubungan yang tidak sepenuhnya nyaman di sana. Kita menciptakan mesin, tetapi pada saat yang sama kita mulai bergantung padanya untuk menciptakan ulang dunia kita sendiri. Perubahan ini tidak hanya teknis. Ia menyentuh cara kita memahami diri.
Kita tidak lagi selalu memulai dari nol. Kita memilih dari begitu banyak kemungkinan yang terbuka. Di situlah manusia diuji. Bukan lagi pada seberapa banyak ia bisa mencipta, tetapi pada seberapa dalam ia mampu memaknai pilihannya.
Tulisan ini juga tidak menutup mata pada sisi yang lebih gelap. Manipulasi digital, realitas yang direkayasa, dan batas yang semakin kabur antara yang nyata dan yang dibuat membuat kita hidup dalam keadaan yang ganjil. Sesuatu bisa terlihat benar, terasa nyata, tetapi sebenarnya tidak pernah terjadi.
Pertanyaannya menjadi lebih sunyi. Jika kita tidak lagi yakin pada apa yang kita lihat, lalu apa yang bisa kita pegang sebagai kebenaran. Di sini, teknologi tidak lagi sekadar alat. Ia menjadi ruang etika yang menuntut kesadaran, bukan sekadar kecakapan.
Ketika tulisan ini berbicara tentang organisasi dan dynamic capability, ia terdengar seperti bahasa manajemen. Tetapi jika dibaca perlahan, ada sesuatu yang lebih dekat. Kemampuan untuk membaca perubahan, mengambil peluang, dan bertransformasi sebenarnya juga adalah cara manusia bertahan hidup.
Manusia juga dituntut untuk peka terhadap perubahan dalam dirinya, berani mengambil keputusan di tengah ketidakpastian, dan tidak takut menjadi berbeda dari dirinya yang dulu. Organisasi, dalam hal ini, seperti cermin yang diam-diam memantulkan wajah manusia modern yang terus bergerak, terus menyesuaikan diri, dan tidak pernah benar-benar selesai.
Pada akhirnya, tulisan ini membawa kita pada kesadaran yang tidak keras, tetapi menetap. Masa depan bukan hanya tentang teknologi yang semakin canggih, tetapi tentang manusia yang harus semakin sadar. Sadar bahwa ia hidup di tengah sistem yang terus berubah. Sadar bahwa kreativitasnya kini tidak lagi sendirian.
Nilai manusia tidak lagi semata-mata ditentukan oleh apa yang bisa ia lakukan, karena mesin mungkin bisa melakukannya lebih cepat dan lebih efisien. Nilai itu perlahan bergeser, menjadi tentang bagaimana ia memberi arti pada apa yang ia lakukan.
Membaca tulisan Bang Riri Satria seperti berdiri di antara dua dunia. Dunia yang serba terukur, berbasis data, dan semakin rasional. Dan dunia yang tetap rapuh, penuh rasa, dan tidak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Di antara keduanya, manusia berdiri. Tidak lagi menjadi pusat, tetapi juga belum tergantikan.
Yang perlu dijaga bukan sekadar kemampuan untuk bersaing dengan mesin, tetapi kemampuan untuk tetap menjadi manusia. Manusia yang masih bisa ragu, masih bisa merasa, dan masih percaya bahwa di balik semua algoritma, hidup bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang arti.
Di ujung semua percepatan ini, manusia tidak sedang berlomba dengan mesin, melainkan dengan dirinya sendiri. Seberapa jauh ia mampu tetap sadar di tengah banjir kemungkinan, tetap jernih di tengah simulasi yang nyaris sempurna, dan tetap utuh ketika dunia berubah terlalu cepat.
Barangkali masa depan tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling canggih, tetapi oleh siapa yang paling mampu menjaga makna. Dan di situlah manusia menemukan tempatnya kembali, bukan sebagai yang paling kuat, melainkan sebagai yang paling mengerti arti keberadaannya.
Jakarta, 25 April 2026
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]