Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • PUISI DI UJUNG TEKNOLOGI, MANUSIA DI UJUNG RASA

    12 Apr 2026 | Dilihat: 21 kali

    oleh: Riri Satria

    Adakalanya saya membayangkan seorang anak dari Generasi Alpha duduk di sudut kamar pada suatu malam yang tenang. Di tangannya bukan lagi buku puisi tipis dengan halaman yang menguning, melainkan sebuah perangkat yang memancarkan cahaya ke wajahnya.

    Di layar itu, kata-kata bergerak perlahan, diiringi suara hujan buatan, visual langit yang berubah warna, dan suara seseorang yang membacakan larik-larik yang terasa begitu dekat dengan hatinya.

    Ia mungkin belum pernah menyentuh antologi puisi cetak seperti yang kita kenal saat ini, tetapi bukan berarti ia jauh dari sastra. Barangkali justru di sanalah sastra sedang menemukan tubuh barunya.

    Generasi Z, Alpha, dan generasi setelahnya lahir sebagai digital natives. Mereka tidak mengenal dunia sebelum internet, sebelum kecerdasan buatan, sebelum algoritma menjadi penentu arus informasi, sebelum ruang virtual dan teknologi imersif menjadi bagian dari keseharian.

    Sejak dini mereka akrab dengan layar, suara digital, avatar, dan dunia yang tidak lagi dibatasi oleh ruang fisik. Bagi mereka, teknologi bukan sesuatu yang baru, melainkan lingkungan alami tempat mereka tumbuh, belajar, dan merasakan dunia.

    Dalam lanskap seperti itu, sastra, terutama puisi, tidak hilang. Ia berubah. Ia menyesuaikan diri dengan ritme zaman yang lebih cepat, lebih visual, lebih cair. Saya sering merasa bahwa puisi justru memiliki daya hidup yang sangat besar di masa depan, karena puisi adalah bentuk sastra yang paling lentur. Ia bisa hidup di atas kertas, di layar ponsel, di suara yang dibacakan, di video pendek, di ruang virtual, bahkan di dalam percakapan dengan kecerdasan buatan.

    Ini adalah bagian dari tantangan sastra terutama puisi pada era digital dan kecerdasan buatan yang pernah saya presentasikan pada Pertemuan Penyair (PPN) XIII tahun 2025 yang lalu di Perpustakaan Nasional RI dalam sebuah sesi kuliah umum.

    Bayangkan seorang remaja Generasi Z yang tengah gelisah setelah hari yang panjang. Ia membuka layar ponselnya, lalu mengetik beberapa kata kepada sebuah AI, “Buatkan puisi tentang rasa kehilangan yang tidak bisa saya jelaskan.” Dalam hitungan detik, larik-larik itu muncul.

    Namun yang paling menyentuh bukanlah kecepatan mesin merangkai kata, melainkan alasan mengapa kata-kata itu dicari? Jawabannya, karena hati manusia tetap membutuhkan bahasa untuk menyebut luka, cinta, kesepian, dan harapan.

    Di titik inilah saya percaya bahwa AI tidak akan pennah menggantikan puisi, melainkan menjadi salah satu medium yang memperluas ruang pertemuannya dengan manusia. Mesin dapat membantu merumuskan metafora, menciptakan bentuk baru, atau menawarkan gaya bahasa yang berbeda.

    Namun kedalaman emosi tetap lahir dari pengalaman hidup manusia itu sendiri. AI mungkin bisa menulis tentang hujan, tetapi hanya manusia yang benar-benar pernah merasa bagaimana hujan terdengar saat hati sedang patah.

    Pada masa generasi digital ini, puisi tidak lagi harus hadir sebagai teks yang diam. Ia bisa menjadi pengalaman yang hidup. Dalam dunia metaverse atau ruang virtual yang semakin berkembang, saya membayangkan puisi dapat dialami sebagai sebuah perjalanan.

    Pembaca tidak sekadar membaca larik, tetapi memasuki ruangnya, berjalan di tengah lanskap digital yang merepresentasikan metafora, mendengar suara penyair, melihat simbol-simbol bergerak, dan merasakan atmosfer yang dibangun oleh kata-kata.

    Sastra menjadi lebih imersif, lebih multisensorik, dan mungkin lebih personal daripada sebelumnya. Sangat menarik ketika memikirkan masa depan puisi di tangan generasi yang tumbuh bersama blockchain, NFT, dan ekosistem digital lainnya.

    Sebuah puisi mungkin tidak hanya dibaca, tetapi juga dimiliki secara unik sebagai karya digital dengan jejak autentik. Seorang penyair muda bisa menerbitkan puisinya di ruang digital global dan langsung menemukan pembaca dari berbagai belahan dunia. Batas geografis menghilang, bahasa bertemu bahasa lain, dan sastra menjadi lebih terbuka.

    Namun di balik segala kemungkinan yang memukau itu, saya juga menyimpan kegelisahan yang sangat manusiawi. Generasi digital hidup dalam kecepatan yang nyaris tak memberi ruang untuk diam. Mereka terbiasa dengan scroll yang tak berujung, notifikasi yang terus berdenting, dan perhatian yang terpecah dalam banyak arah.

    Dalam dunia yang begitu cepat, apakah puisi masih memiliki ruang untuk direnungi? Apakah kedalaman makna masih sempat menyentuh hati ketika segala sesuatu berlalu dalam hitungan detik?

    Menurut saya, puisi akan menemukan peran terbesarnya di masa depan. Di tengah dunia yang serba cepat dan serba cerdas, puisi bisa menjadi ruang perlambatan. Sebuah tempat kecil di mana generasi digital berhenti sejenak, menatap dirinya sendiri, dan mendengar suara batinnya yang selama ini tertutup oleh kebisingan teknologi.

    Puisi mungkin menjadi bentuk perlawanan terhadap zaman: mengajak manusia kembali merasakan.

    Saya membayangkan generasi setelah Alpha akan tumbuh di dunia yang jauh lebih kompleks daripada yang kita bayangkan hari ini. Mereka mungkin hidup berdampingan dengan AI yang sangat canggih, ruang virtual yang nyaris tak bisa dibedakan dari kenyataan, dan sistem digital yang mengelola hampir seluruh aspek kehidupan.

    Namun satu hal yang saya percaya tidak akan berubah, manusia akan tetap membutuhkan kata-kata untuk memberi bentuk pada perasaannya.

    Sastra, terutama puisi, akan tetap hidup selama manusia masih memiliki kerinduan, kehilangan, cinta, dan pertanyaan tentang dirinya sendiri. Medium boleh berubah, teknologi boleh berkembang, bentuk boleh bergeser dari halaman ke hologram, dari buku ke ruang virtual, dari tinta ke algoritma.

    Namun inti puisi tetap sama, yaitu usaha manusia untuk menangkap sesuatu yang besar yaitu pengalaman batin.

    Barangkali masa depan puisi bukan lagi tentang di mana ia ditulis, melainkan di mana ia dirasakan. Selama masih ada hati yang bergetar, mata yang diam-diam basah, dan jiwa yang mencari bahasa untuk menyebut apa yang tak terucapkan, puisi akan selalu menemukan rumahnya, bahkan di tengah dunia digital yang paling canggih sekalipun.

    Pada akhirnya, waktu akan selalu membawa kita pada pergantian generasi. Akan tiba saatnya para penyair dan sastrawan dari generasi baby boomers, Generasi X, dan Generasi Y, yang selama ini banyak membentuk lanskap sastra kita, perlahan meninggalkan panggung dunia.

    Bersama mereka, mungkin ikut meredup pula suara-suara yang selama ini kerap mempertanyakan, membandingkan, atau bahkan menyangsikan cara Generasi Z dan Alpha membaca, menulis, dan mencintai puisi.

    Namun sesungguhnya, sastra tidak pernah tumbuh dari keluhan antar generasi atau generation gap, melainkan dari dialog yang panjang antara masa lalu dan masa depan. Ketika generasi senior itu kelak tidak lagi hadir, bukan berarti kritik dan percakapan tentang puisi ikut berakhir, melainkan bentuknya yang berubah.

    Generasi Z, Alpha, dan generasi setelahnya akan menjadi penentu bahasa zamannya sendiri. Mereka akan menulis puisi dengan cara yang mungkin asing bagi pendahulunya, tetapi tetap sah sebagai ekspresi jiwa manusia pada eranya.

    Mungkin pada suatu masa nanti, tidak ada lagi suara-suara yang nyinyir atau komplain terhadap bentuk puisi generasi baru, bukan karena puisi telah kehilangan perdebatan, melainkan karena zaman telah menyerahkan pena kepada tangan-tangan yang berbeda. Mereka yang lahir dan tumbuh di dunia digital akan berbicara dengan bahasanya sendiri, dengan ritmenya sendiri, dengan luka dan cintanya sendiri.

    Kita yang hari ini masih menyaksikan peralihan itu, hanya bisa berharap bahwa apa pun medium dan bentuknya, puisi tetap menjadi rumah bagi kemanusiaan. Sebab yang sesungguhnya abadi bukan nama generasi, bukan teknologi, bukan bahkan bentuk puisi itu sendiri, melainkan kebutuhan manusia untuk merasa, mengingat, mencintai, kehilangan, dan mengabadikan hidup melalui kata-kata.

    Di ujung teknologi, di balik algoritma, dan di tengah cahaya dunia digital yang tak pernah benar-benar tidur, saya percaya puisi akan tetap hidup, sebagai denyut paling sunyi dari jiwa manusia, hanya saja dia akan tetap mengalami metamerfosis.

    --- Riri Satria --

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture