Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • ILALANG

    10 Apr 2026 | Dilihat: 17 kali

    Aku adalah ilalang yang tumbuh liar di antara tanah yang tak pernah benar-benar memilihku. Setiap pagi embun turun seperti sisa air mata langit yang semalam terlalu lama terjaga, lalu matahari datang mengecup tubuhku dengan hangat yang terasa asing, seolah dunia selalu memulai hari dengan berpura-pura lupa pada luka-lukanya sendiri.

    Dari tubuhku yang mudah gemetar karena angin, aku menyaksikan anak-anak melintas, membawa tawa yang masih utuh, wajah-wajah kecil yang belum disentuh debu kenyataan. Mereka berlari menuju sekolah untuk masa depan seperti sekawanan burung yang percaya langit selalu biru.

    Dari tempatku berdiri, hidup tampak sederhana: sepasang sepatu, seragam yang sedikit kusut, dan senyum yang belum tahu bahwa masa depan kadang hanyalah lorong panjang dengan lampu yang sengaja dipadamkan.

    Namun sore selalu datang seperti pisau yang pelan-pelan membuka kulit hari. Cahaya berubah tembaga, lalu karat. Di jalan yang sama, kulihat tangan-tangan kurus mengais sisa dunia, seorang pengemis memungut belas kasih yang jatuh lebih pelit daripada daun kering, seorang pemulung meraba-raba perut bumi yang sudah lama kosong.

    Tawa pagi seolah tak pernah ada, yang tersisa hanya langkah-langkah letih dan udara yang berbau nasib. Aku mulai curiga bahwa hidup adalah panggung yang suka mengganti topeng terlalu cepat, yaitu pagi memakai wajah malaikat, sore berubah menjadi tengkorak yang tersenyum.

    Ketika malam turun, dunia seperti membuka rahang hitamnya. Bau alkohol merayap dari sudut-sudut kota seperti roh yang kehilangan kubur, musik murahan mengapung bersama tawa yang terdengar lebih mirip retakan kaca daripada kegembiraan.

    Aku melihat manusia berjalan seperti bayangan yang terlepas dari tubuhnya sendiri, saling bersenggolan dalam gelap, mencari sesuatu yang mungkin tak pernah ada. Kadang aku merasa malam adalah pasar tempat kesepian diperjualbelikan, dan setiap orang datang membawa dirinya sendiri sebagai barang dagangan.

    Lalu angin datang. Selalu angin yang datang. Ia menyusup ke sela tubuhku seperti rahasia yang terlalu lama disimpan bumi. Ia menyentuhku perlahan, membuatku meliuk, gemetar, dan menyerah pada gerak yang tak kupahami asalnya. Dalam pelukannya, aku merasa tubuhku bukan lagi rumput, melainkan seutas ingatan yang dibiarkan menari di bawah bulan.

    Ada sesuatu yang nyaris erotik sekaligus muram dalam cara angin membelai, bukan kelembutan, bukan kekerasan, melainkan semacam bisikan dari semesta yang ingin mengingatkanku bahwa segala yang hidup pada akhirnya hanyalah sesuatu yang bergerak menuju lenyap.

    Pada malam-malam tertentu angin bercerita tentang sebuah negeri yang indah, begitu indah hingga keindahannya sendiri terdengar seperti ejekan. Negeri itu, katanya, perlahan kehilangan surganya. Jalan-jalannya dipenuhi manusia yang menukar nurani dengan suara gemerincing, sementara kebenaran digantung di etalase seperti barang diskon.

    Aku mendengarnya sambil bergoyang pelan, tak tahu apakah harus percaya atau tertawa, sebab bukankah dunia memang sering lebih absurd daripada mimpi yang paling gelap?

    Di negeri itu, kata angin, orang-orang menjadi sinting bukan karena kehilangan akal, tetapi karena terlalu lama hidup berdampingan dengan kebohongan yang disepakati bersama.

    Aku tumbuh di pantai. Di sana, ombak datang menjilat kakiku dengan lidah asin yang purba, seolah laut ingin menuliskan sesuatu pada tubuhku lalu menghapusnya lagi sebelum sempat kubaca. Pantai adalah batas antara yang nyata dan yang tak pernah selesai dijelaskan. Hujan menimpa tubuhku dari pagi sampai sore, jatuh seperti ribuan jari langit yang mencoba membangunkanku dari mimpi yang tak pernah selesai.

    Aku dibiarkan basah, dibiarkan dingin, dibiarkan hidup. Dalam absurditas itu, aku justru menemukan semacam kebebasan, bahwa tak ada yang benar-benar memiliki siapa pun, bahkan angin yang setiap malam memelukku pun selalu pergi sebelum fajar.

    Dan aku tetap di sini, ilalang di antara malam, angin, dan pantai, tubuh kecil yang terus bergoyang di bawah langit yang retak, dipeluk desir yang tak terlihat, dijilat laut, disaksikan bulan yang diam seperti mata tua semesta. Kadang aku bertanya kepada bintang, apakah hidup memang hanya rangkaian hari yang pura-pura masuk akal.

    Bintang tak pernah menjawab. Mereka hanya menggantung seperti mata-mata sunyi di langit yang terlalu tinggi untuk disentuh.

    Maka aku belajar menerima bahwa absurditas adalah satu-satunya bentuk kejujuran yang masih tersisa, dan aku, ilalang yang rapuh ini, mungkin lebih mengerti dunia justru karena aku tak pernah bisa pergi darinya.

    (Riri Satria, April 2026)

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture