Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada satu pertanyaan yang terus berulang setiap kali kita mendengar kabar tentang seseorang yang menjadi korban penipuan di internet: mengapa hal seperti ini masih terus terjadi?
Bukankah peringatan sudah begitu banyak disebarkan, himbauan untuk berhati-hati nyaris setiap hari muncul di layar ponsel, dan berbagai contoh kasus telah berkali-kali menjadi pelajaran bersama? Lebih mengherankan lagi, korban yang tertipu sering kali bukan orang yang kurang berpendidikan atau minim pengetahuan.
Tidak sedikit justru mereka yang terbiasa berpikir sistematis, memiliki kemampuan analitis yang baik, bahkan dikenal cerdas dalam lingkungan sosial maupun profesionalnya.
Nah, kita perlu memahami bahwa penipuan di dunia siber tidak terutama menyerang logika, melainkan sisi yang jauh lebih dalam dan rapuh dari diri manusia, yaitu wilayah psikologisnya. Itulah penyebab utama!
Dunia digital telah menjadi ruang tempat manusia hidup hampir tanpa jeda. Di sanalah kita bekerja, berkomunikasi, bertransaksi, mencari informasi, bahkan mencari kedekatan emosional. Ruang ini bukan lagi sekadar perangkat teknologi, melainkan perpanjangan dari kehidupan sehari-hari.
Ketika penipuan hadir di dalamnya, yang disasar bukan sekadar kesalahan berpikir, tetapi cara manusia merasakan, merespons, dan memaknai situasi. Seorang penipu yang canggih tidak sedang beradu argumen dengan logika korbannya. Ia tidak membutuhkan debat intelektual.
Ia hanya butuh menyentuh titik-titik paling sensitif dalam kejiwaan manusia: rasa takut, rasa panik, rasa iba, rasa ingin cepat selamat, rasa ingin mendapatkan peluang, dan terutama rasa ingin dicintai.
Salah satu contoh yang paling gamblang adalah "love scamming", sebuah modus penipuan yang justru memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa yang diserang adalah perasaan, bukan logika. Dalam kasus seperti ini, penipu tidak datang dengan ancaman yang kasar, tetapi dengan kelembutan yang dibuat sangat meyakinkan.
Ia hadir sebagai sosok yang perhatian, hangat, penuh empati, dan seolah memahami kesepian atau kebutuhan emosional korbannya. Percakapan dimulai dari hal-hal sederhana, lalu perlahan bergerak menuju ruang yang lebih intim, kabar pagi, perhatian di malam hari, kata-kata manis, dan janji-janji tentang masa depan.
Modus penipuan bekerja secara psikologis. Ia tidak menyentuh akal sehat, melainkan kebutuhan manusia yang paling mendasar, yaitu keinginan untuk merasa dihargai, dipahami, dan dicintai.
Ketika seseorang mulai merasa terhubung secara emosional, pertahanan logis sering kali menurun. Hati yang merasa nyaman kerap membuat pikiran menjadi kurang kritis.
Pertanyaan-pertanyaan yang semestinya muncul, siapa sebenarnya orang ini, mengapa ia begitu cepat membangun kedekatan, mengapa belum pernah bertemu tetapi sudah bicara soal komitmen, sering kali tenggelam oleh rasa yang sudah lebih dulu tumbuh.
Orang yang sangat pintar pun bisa jebol oleh modus seperti ini. Bahkan justru mereka yang secara intelektual kuat kadang tidak menyangka bahwa titik lemahnya berada pada ranah emosional. Kecerdasan akademik tidak otomatis melindungi seseorang dari kebutuhan afeksi.
Seseorang bisa sangat tajam dalam menganalisis data, sangat rasional dalam pekerjaan, tetapi tetap menjadi manusia yang membutuhkan kedekatan, perhatian, dan rasa memiliki.
Penipu memahami celah ini. Mereka sabar membangun kepercayaan, menciptakan ikatan emosional, lalu pada saat yang tepat memunculkan masalah, sakit mendadak, kecelakaan, paket tertahan, kebutuhan biaya perjalanan, atau alasan lain yang membutuhkan bantuan uang.
Nah, yang membuat "love scamming" begitu efektif adalah karena korban tidak merasa sedang berhadapan dengan penipu, melainkan dengan seseorang yang dianggap dekat secara emosional. Pada tahap ini, keputusan untuk membantu sering lahir bukan dari pertimbangan logis, tetapi dari rasa sayang dan empati.
Korban bukan tidak tahu bahwa transfer uang kepada orang yang belum pernah ditemui adalah sesuatu yang berisiko, tetapi rasa percaya yang telah dibangun perlahan membuat logika melemah. Dalam bahasa yang sederhana, yang jebol bukan kecerdasan, melainkan benteng psikologis.
Ada yangterasa sangat menyentuh ketika memikirkan kasus-kasus seperti ini. Sering kali kita terlalu cepat menilai korban sebagai naif atau terlalu mudah percaya, padahal yang terjadi adalah sisi manusiawinya sedang disentuh.
Tidak ada manusia yang sepenuhnya hidup hanya dengan logika. Kita semua bergerak oleh rasa. Kita ingin dicintai, ingin didengar, ingin dianggap penting oleh seseorang. Ketika ruang emosional itu disentuh dengan cara yang tepat, siapa pun bisa menjadi rentan.
Pada akhirnya, dunia siber hari ini bukan sekadar medan teknologi, tetapi juga medan psikologi manusia. Penipuan tidak selalu datang dengan wajah ancaman, tetapi bisa hadir dalam bentuk kasih sayang palsu, perhatian yang dirancang, dan cinta yang sebenarnya manipulatif.
Karena itu, yang paling penting bukan hanya meningkatkan literasi digital, tetapi juga kesadaran emosional. Kita perlu mengenali kapan hati mulai terlalu cepat percaya, kapan kesepian membuat kita mudah membuka diri, dan kapan rasa nyaman mulai menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan logis.
Repotnya, yang sudah tertipu pun banyak yang tidak mau mengaku karena malu, betapa bodohnya sampai tertipu.
Mungkin di situlah pelajaran paling pentingnya: di internet, yang sering kali diserang bukan akal, melainkan hati.
Ketika hati yang menjadi sasaran, orang yang paling cerdas sekalipun bisa runtuh. Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, tetapi juga makhluk yang merasa.
-- Riri Satria ---
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]