Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Belakangan ini, saya menerima banyak keluhan dari sahabat, kerabat, dan juga berbagai pihak lainnya. Keluhan itu datang dengan nada yang hampir serupa, rasa sesak, penyesalan, dan kegelisahan karena merasa, dalam "terjebak pinjol".
Ada yang meminjam untuk biaya berobat orang tua, ada yang terdesak membayar uang sekolah anak, ada pula yang hanya ingin menutup kebutuhan rumah tangga di akhir bulan. Sebagian lainnya, dengan jujur, mengakui bahwa pinjaman itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya masih bisa ditunda, tetapi pada saat itu terasa mendesak secara emosional.
Dari cerita-cerita itulah saya merasa perlu menuliskan beberapa hal tentang pinjaman online, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak kita semua memahami persoalan ini secara lebih jernih, lebih manusiawi, dan lebih reflektif. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.
Pinjaman online lahir sebagai salah satu wajah perkembangan teknologi finansial yang menawarkan kemudahan. Dalam hitungan menit, seseorang dapat mengajukan pinjaman hanya melalui telepon genggam, tanpa harus datang ke kantor, tanpa prosedur yang panjang, dan sering kali tanpa jaminan.
Dari sisi ini, pinjol jelas memiliki nilai positif. Ia menjadi alternatif akses keuangan bagi masyarakat yang sulit menjangkau layanan perbankan formal, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor informal, pelaku usaha kecil, atau mereka yang membutuhkan dana darurat secara cepat.
Dalam kondisi tertentu, seperti kebutuhan biaya kesehatan, pendidikan, atau modal usaha, pinjol legal bahkan dapat menjadi penyelamat sementara.
Namun kemudahan itu sekaligus menyimpan sisi gelap yang tidak sedikit. Di sinilah kita perlu jujur melihat plus minusnya.
Sisi positifnya terletak pada kecepatan, kemudahan akses, dan fleksibilitasnya. Akan tetapi, sisi negatifnya jauh lebih kompleks jika tidak disikapi dengan hati-hati. Bunga yang relatif tinggi, biaya administrasi yang kerap tidak dipahami sejak awal, serta denda keterlambatan yang terus berjalan dapat membuat utang membengkak dalam waktu singkat.
Apa yang pada mulanya terlihat sebagai jalan keluar, perlahan berubah menjadi beban yang semakin berat.
Saya mendengar kisah dari seorang sahabat yang awalnya meminjam dalam jumlah kecil untuk kebutuhan mendesak. Ketika jatuh tempo tiba dan ia belum mampu membayar, ia meminjam lagi dari aplikasi lain untuk menutup pinjaman pertama.
Dari sana lingkaran itu terus berulang meminjam untuk membayar pinjaman, lalu meminjam kembali untuk menutup pinjaman berikutnya. Inilah jebakan yang paling sering terjadi, gali lubang tutup lubang.
Pada tahap ini, persoalan pinjol tidak lagi sekadar angka dan nominal, melainkan telah masuk ke wilayah psikologis: rasa malu, tekanan mental, gangguan tidur, kecemasan, dan bahkan konflik dalam keluarga.
Bahaya yang lebih besar muncul ketika masyarakat tidak mampu membedakan antara pinjol legal dan ilegal. Pinjol ilegal sering menawarkan proses yang jauh lebih cepat, dengan syarat yang sangat mudah, tetapi di balik itu tersembunyi risiko besar, sepeti penyalahgunaan data pribadi, akses ke daftar kontak, foto, pesan, bahkan ancaman penyebaran informasi kepada orang-orang terdekat sebagai bentuk intimidasi saat pembayaran terlambat.
Dalam konteks ini, pinjol bukan lagi sekadar isu ekonomi, tetapi juga isu etika, sosial, dan kemanusiaan.
Karena itulah, ada beberapa langkah praktis yang perlu menjadi pegangan masyarakat agar tidak terjerat. Langkah pertama dan paling penting adalah memastikan bahwa aplikasi pinjaman tersebut benar-benar legal dan terdaftar di OJK. Jangan pernah tergiur hanya oleh janji “cair cepat” sebelum mengecek status izinnya.
Langkah kedua, pahami secara rinci besaran bunga, biaya administrasi, tenor, dan denda keterlambatan. Banyak orang terjebak karena hanya fokus pada jumlah dana yang cair, tanpa menghitung total yang harus dikembalikan.
Langkah ketiga, periksa izin akses aplikasi pada telepon genggam. Jika sebuah aplikasi meminta akses berlebihan terhadap kontak, galeri foto, atau data pribadi lain yang tidak relevan, itu patut dicurigai.
Langkah keempat, cek identitas perusahaan, alamat kantor, dan layanan konsumen yang jelas. Lembaga yang legal tentu memiliki jejak administratif yang dapat diverifikasi.
Langkah kelima, baca ulasan pengguna lain secara kritis, bukan sekadar melihat rating bintang, tetapi mencermati pengalaman orang lain, terutama soal bunga, penagihan, dan transparansi biaya.
Langkah keenam, waspadai penawaran yang datang melalui SMS, WhatsApp, atau tautan yang tidak jelas asal-usulnya. Banyak pinjol ilegal memanfaatkan jalur semacam ini untuk menjaring korban.
Langkah ketujuh, dan mungkin yang paling reflektif, adalah bertanya kepada diri sendiri, untuk apa saya meminjam? Apakah benar-benar untuk kebutuhan mendesak dan produktif, atau hanya untuk memenuhi keinginan sesaat? Pertanyaan ini sering kali menentukan apakah pinjaman menjadi alat bantu atau justru pintu menuju kesulitan baru.
Dari berbagai cerita yang saya terima, saya semakin merasa bahwa persoalan pinjol sesungguhnya berakar pada tekanan hidup yang dihadapi banyak orang. Tidak sedikit yang meminjam bukan karena ingin, tetapi karena merasa tidak punya pilihan lain.
Di sinilah pentingnya literasi keuangan, solidaritas sosial, dan keberanian untuk mencari jalan keluar lain sebelum memutuskan berutang. Teknologi finansial pada dirinya tidak selalu buruk, tetapi tanpa kesadaran dan perhitungan yang matang, ia dapat berubah menjadi jerat yang menyengsarakan.
Tulisan ini saya hadirkan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai upaya untuk memotret realitas yang sedang dihadapi banyak orang di sekitar kita. Mudah-mudahan siapa pun yang membacanya dapat lebih waspada, lebih tenang dalam mengambil keputusan, dan lebih berani untuk berpikir panjang sebelum menekan tombol “ajukan pinjaman”.
Sebab di balik keputusan yang tampak sederhana itu, ada masa depan ekonomi, ketenangan batin, dan martabat hidup yang sedang dipertaruhkan.
--- Riri Satiria ----
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]