Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • JANGAN SAMPAI KITA MENJADI KORBAN BERIKUTNYA

    03 Apr 2026 | Dilihat: 25 kali

    oleh: Riri Satria

    Hari ini dua orang sahabat saya, pribadi-pribadi yang saya kenal cerdas, teliti, dan tidak mudah percaya, justru menjadi korban penipuan di dunia siber atau intenet. Kerugiannya puluhan juta rupiah. Peristiwa itu membuat saya terdiam cukup lama. Ada rasa marah, sedih, sekaligus cemas.

    Marah karena masih ada orang yang dengan sengaja menjadikan kepercayaan sebagai alat untuk memangsa sesama manusia. Sedih karena korban bukan sekadar kehilangan uang, melainkan juga kehilangan rasa aman. Cemas karena kejadian ini terasa begitu dekat hingga saya sadar bahwa siapa pun di antara kita bisa menjadi korban berikutnya.

    Dunia siber atau internet yang semula kita sambut sebagai ruang kemudahan, pengetahuan, dan konektivitas, kini juga menjelma menjadi ruang yang penuh jebakan. Penipuan digital semakin marak, semakin halus, dan semakin canggih.

    Pelaku memanfaatkan pesan singkat, panggilan telepon, media sosial, hingga teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk menipu korbannya. Mereka dapat meniru suara, membuat pesan yang sangat meyakinkan, bahkan menciptakan identitas palsu yang tampak begitu nyata. Jelaslah bahwa ewaspadaan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan dalam kehidupan digital kita sehari-hari.

    Bentuk penipuan yang paling sederhana biasanya dimulai dari sesuatu yang tampak sepele, yaitu sebuah pesan WhatsApp, SMS, email, atau tautan yang dikirim dengan nada mendesak. “Akun Anda akan diblokir.” “Paket Anda tertahan.” “Segera klik untuk verifikasi.”

    Modus seperti ini dikenal sebagai "phishing", yaitu upaya memancing korban agar memberikan data pribadi seperti kata sandi, PIN, OTP, atau nomor kartu. Sederhana tetapi sangat efektif karena bermain dengan rasa panik dan kegagapan.

    Ada pula penipuan yang menyerang sisi emosional, seperti "love scam" atau penipuan asmara. Pelaku membangun kedekatan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mereka hadir sebagai sosok yang perhatian, romantis, dan tampak tulus. Namun di balik semua itu, tersimpan tujuan finansial.

    Setelah korban terikat secara emosional, mulailah muncul kisah tentang musibah, bisnis yang membutuhkan bantuan dana, atau investasi yang diklaim sangat menguntungkan. Nah, yang dirampas bukan hanya uang, tetapi juga perasaan dan kepercayaan.

    Modus lain yang semakin sering terjadi adalah penipuan investasi dan kripto. Korban diperlihatkan tampilan keuntungan palsu, grafik yang terus naik, serta testimoni yang tampak meyakinkan.

    Mula-mula korban diberi keuntungan kecil agar percaya, lalu diminta menaruh dana dalam jumlah lebih besar. Setelah uang terkumpul, akun mendadak dibekukan dengan berbagai alasan, seperti pajak, biaya administrasi, atau verifikasi tambahan.

    Bentuk yang lebih canggih lagi adalah penyamaran identitas berbasis kecerdasan buatan atau AI. Suara anggota keluarga dapat ditiru, video call dapat dipalsukan, dan pesan dapat dibuat seolah-olah berasal dari atasan kantor atau pihak resmi. Inilah wajah baru kejahatan digital, yaitu kebohongan yang tidak lagi sekadar berupa kata-kata, tetapi juga simulasi realitas.

    Apa yang harus kita lakukan sebagai pengguna awam? Pertama, jangan pernah mengambil keputusan saat sedang panik. Penipu selalu berusaha menciptakan rasa mendesak agar kita tidak sempat berpikir jernih.

    Kedua, jangan pernah memberikan OTP, PIN, kata sandi, atau kode verifikasi kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku dari bank atau lembaga resmi.

    Ketiga, selalu lakukan verifikasi melalui jalur resmi. Jika ada pesan mencurigakan dari bank atau marketplace, hubungi layanan pelanggan resmi, bukan nomor yang tertera dalam pesan tersebut.

    Keempat, waspadai segala janji yang terlalu indah, hadiah undian, keuntungan besar tanpa risiko, cinta yang datang terlalu cepat, atau tawaran kerja yang meminta biaya pendaftaran. Kelima, aktifkan autentikasi dua faktor untuk semua akun penting.

    Bagi saya, kejadian yang menimpa dua sahabat hari ini bukan sekadar cerita tentang uang yang hilang. Ini adalah cermin zaman kita. Di era digital, kejahatan tidak selalu datang dengan wajah garang; kadang ia hadir dengan bahasa yang sopan, foto profil yang menarik, bahkan suara yang terdengar akrab. Kita hidup pada masa ketika kewaspadaan menjadi bentuk baru dari kecerdasan.

    Saya menulis ini dengan perasaan yang jujur, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan. Sebab saya sadar, penipuan digital tidak memilih korban berdasarkan tingkat pendidikan, usia, atau latar belakang sosial. Semua orang bisa terjebak. Justu yang membedakan hanyalah seberapa cepat kita mengenali modusnya.

    Maka pesan saya untuk sahabat semua, waspadalah, hati-hatilah, dan pelajarilah berbagai bentuk penipuan di dunia siber.

    Jangan sampai kita menjadi korban berikutnya.

    --- Riri Satria -----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture