Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada satu hal yang menarik ketika membaca buku "Science and Poetry" karya Mary Midgley*. Buku ini tidak hadir sebagai manifesto yang dahsyat, juga tidak sebagai perdebatan yang meledak-ledak. Ia bergerak pelan, seperti seseorang yang sedang menyusun ulang isi sebuah ruangan yang selama ini kita kira sudah rapi, tetapi ternyata penuh dengan asumsi yang tidak pernah kita periksa.
Midgley memulai dengan satu pengamatan yang tampak sederhana, bahwa dalam kehidupan modern, sains telah memperoleh posisi yang sangat tinggi, bukan hanya sebagai alat untuk memahami dunia, tetapi sebagai penentu utama tentang apa yang dianggap nyata.
Sains tidak lagi sekadar metode, melainkan perlahan berubah menjadi semacam ukuran tunggal. Segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah sering kali ditempatkan di pinggir, seolah kurang sahih, kurang penting, atau bahkan tidak layak dipertimbangkan.
Dari sini Midgley mulai membangun argumennya, bukan dengan menolak sains, tetapi dengan menempatkannya kembali dalam konteks yang lebih luas.
Ia menunjukkan bahwa sains bekerja sangat baik dalam menjelaskan mekanisme dunia fisik, yaitu tentang bagaimana sesuatu terjadi, bagaimana proses berlangsung, bagaimana hukum-hukum alam bekerja secara konsisten.
Namun ketika sains mencoba melangkah lebih jauh, memasuki wilayah makna, nilai, dan pengalaman batin manusia, di situlah mulai muncul masalah.
Midgley tidak mengatakan bahwa sains gagal, melainkan bahwa ia memang tidak dirancang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Lalu pembahasan Midgley bergerak ke arah yang lebih dalam, yaitu soal reduksionisme. Ia mengkritik kecenderungan untuk menyederhanakan realitas yang kompleks menjadi satu jenis penjelasan saja, biasanya penjelasan ilmiah yang berbasis fisika atau biologi.
Dalam pandangan reduksionis, pengalaman manusia, termasuk kesadaran, emosi, bahkan moralitas, sering dipahami sebagai hasil dari proses-proses material semata. Midgley melihat pendekatan ini sebagai penyempitan cara pandang. Menurutnya dunia tidak bisa ditampung hanya dalam satu bahasa.
Untuk menjelaskan hal ini, ia mengangkat peran imajinasi dalam sains itu sendiri. Ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik, karena di sini batas antara sains dan puisi mulai terlihat tidak setegas yang sering dibayangkan. Midgley menunjukkan bahwa teori ilmiah tidak lahir begitu saja dari data mentah, melainkan melalui proses pemodelan, analogi, dan metafora.
Ketika Richard Dawkins berbicara tentang “gen egois” misalnya, ia sedang menggunakan bahasa kiasan untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak. Metafora tersebut bukan sekadar hiasan, tetapi bagian dari cara kerja pemikiran ilmiah itu sendiri. Dengan demikian, sains ternyata tidak sepenuhnya bebas dari unsur puitis.
Dari sini Midgley melangkah ke pembahasan tentang mitos. Ia tidak menggunakan kata “mitos” dalam arti negatif, melainkan sebagai kerangka naratif yang membantu manusia memahami dunia secara menyeluruh. Dalam sejarah, mitos selalu menjadi cara manusia memberi makna pada realitas.
Menurut Midgley, masyarakat modern pun tidak benar-benar meninggalkan mitos. Kita hanya menggantinya dengan bentuk baru. Kepercayaan bahwa sains dapat menjelaskan segala hal, misalnya, dapat dilihat sebagai salah satu bentuk mitos modern, yaitu sebuah narasi besar yang memberi rasa kepastian, tetapi tetap merupakan konstruksi manusia.
Pembahasan ini kemudian bersinggungan dengan warisan pemikiran René Descartes, terutama mengenai pemisahan antara pikiran dan tubuh. Midgley mengkritik dualisme ini karena dianggap menyederhanakan pengalaman manusia menjadi dua bagian yang terpisah.
Dalam praktiknya pemisahan tersebut sering mendorong cara pandang mekanistik terhadap manusia, di mana tubuh diperlakukan seperti mesin dan pikiran diposisikan sebagai sesuatu yang terpisah. Midgley menawarkan pendekatan yang lebih menyatu, di mana manusia dipahami sebagai keseluruhan yang utuh.
Dalam kerangka ini, bahasa menjadi elemen penting. Midgley membedakan antara bahasa ilmiah dan bahasa puitis, bukan untuk mempertentangkan, tetapi untuk menunjukkan fungsi masing-masing.
Bahasa ilmiah bekerja dengan presisi, mengukur, mengklasifikasi, dan menjelaskan. Bahasa puitis bekerja dengan cara yang berbeda, ia membuka ruang makna, menyentuh pengalaman, dan menghadirkan kedalaman yang tidak bisa dicapai oleh angka dan rumus.
Kedua bahasa ini tidak saling menggantikan, tetapi saling melengkapi. Pada titik tertentu gagasan-gagasan Midgley mulai bersinggungan dengan arus pemikiran postmodernisme, terutama dalam kritiknya terhadap klaim kebenaran tunggal.
Seperti yang juga disoroti oleh Jean-François Lyotard, narasi besar yang mengklaim otoritas universal memang perlu dipertanyakan. Midgley sejalan dengan semangat ini ketika ia menolak dominasi satu cara pandang atas cara pandang lainnya. Ia juga dekat dengan gagasan Michel Foucault tentang bagaimana pengetahuan selalu terkait dengan konteks dan tidak pernah sepenuhnya netral.
Namun kedekatan ini tidak berarti kesamaan penuh. Midgley tidak melangkah sejauh sebagian pemikir postmodern yang cenderung merelatifkan semua kebenaran. Ia tidak membongkar makna sampai kehilangan pijakan, sebagaimana sering diasosiasikan dengan pendekatan Jacques Derrida.
Sebaliknya ia tetap mempertahankan bahwa dunia itu nyata dan dapat dipahami, meskipun tidak secara tunggal. Ia tidak menolak kebenaran, tetapi menolak penyederhanaan kebenaran menjadi satu bentuk saja.
Dengan demikian posisi Midgley dapat dilihat sebagai semacam jembatan. Ia mengakui kompleksitas dunia seperti yang ditekankan oleh postmodernisme, tetapi tetap menjaga kemungkinan adanya pemahaman yang bermakna dan terhubung.
Ia tidak membiarkan sains menjadi satu-satunya suara, tetapi juga tidak menghapus perannya. Ia membuka ruang bagi berbagai cara memahami dunia untuk hidup berdampingan.
Pada akhirnya, buku "Science and Poetry" membangun satu gambaran yang cukup luas tentang manusia. Manusia tidak hanya berpikir secara rasional, tetapi juga merasakan, membayangkan, dan memberi makna.
Sains membantu menjelaskan dunia dalam kerangka sebab-akibat yang dapat diuji, sementara puisi membantu menghadirkan pengalaman dunia dalam bentuk yang dapat dihayati.
Keduanya bekerja dalam wilayah yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membentuk pemahaman yang lebih utuh.
Buku ini tidak menawarkan kesimpulan yang final atau sistem yang tertutup. Ia lebih menyerupai peta yang menunjukkan bahwa ada banyak jalur untuk memahami dunia, dan tidak ada satu jalur pun yang cukup untuk menggantikan yang lain. D
alam peta itu, sains dan puisi tidak lagi berdiri sebagai dua kutub yang berlawanan, melainkan sebagai dua cara yang sama-sama diperlukan untuk menjangkau kenyataan yang terlalu luas untuk ditangkap oleh satu bahasa saja.
Bagaimana menurut Anda?
--- Riri Satria -----
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]