Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • PUISI, DOA, DAN ORKESTRA MALAM RAMADAN (versi prosa liris)

    11 Mar 2026 | Dilihat: 12 kali

    Di antara hening dan nyaring, perasaan bertemu kenyataan, atau hanyalah ilusi pertemuan itu sendiri. Cemas itu diseduh panas, tapi apakah panas itu nyata, atau hanya bayangan di dasar cangkir kopi yang tak pernah habis? Malam Lailatul Qadar hadir tanpa pemberitahuan. Aku meminumnya secangkir sepi, meneguk harap yang membara namun tak pernah sampai, terbakar di bara doa yang sunyi, di Subuh yang mungkin hanya refleksi dari kegelapan.

    Puasa bukan lagi ritual, tapi peta kesendirian. Jalan sunyi menuju-Nya atau hanya lorong panjang dalam diri sendiri? Lahaula walakuata illabillah, kata-kata itu bergaung seperti gema yang tersesat. Lebaran menjadi kampung halaman yang tak pernah jelas batasnya, hanya memori yang dibingkai kembali oleh nostalgia dan algoritma pikiran.

    Di sunyi, bisikan memuji Sang Khalik. Aku diam, tafakur? Atau hanya menunda pertanyaan tentang makna. Cahaya malam menari di mata yang lelah mencari makna, di ruang yang terbentang antara ada dan tiada. Orkestra? Partitur Semesta? Atau hanya simulasi suara yang menempel di kulit kota yang gaduh, di tubuh yang basah peluh, di patuh yang dijual sebagai barang.

    Tuhan, dari tahun ke tahun, rindu ditabuh. Tapi siapa yang mendengar? Pintu ke pintu, kecemasan mudik, air mata dipungut menjadi puisi. Semua terfragmentasi, takbir dari takbir, nasib dari nasib, sunyi menari di keramaian, seolah mengolok-olok konsistensi kita. Perjalanan pulang romantis? Palung ke palung, ibu, kampung halaman, atau hanya konstruksi narasi untuk menenangkan kesepian eksistensial?

    Jantung bergetar, cahaya memudar, tarik-menarik antara antik dan kontemporer. Hanya Tuhan yang Maha Asyik menonton absurditas malam turun perlahan seperti hujan digital. Takbir dari dalam kalbu? Atau hanya algoritma otak yang meniru gema? Rindu kita hanyalah perahu kecil di samudera tak bertepi, tapi samudera itu sendiri ada atau tidak? Kita belajar berserah, atau belajar bahwa tidak ada yang bisa diserahkan.

    Cinta adalah jalan pulang yang sunyi, tapi apakah ada yang pulang? Napas rapuh, doa jatuh sebelum sampai, atau mungkin doa itu hanya bentuk eksistensi yang fana. Nama-Nya lebih luas dari kata, tapi kata itu sendiri pecah di antara layar-layar ingatan dan kehilangan. Hidup mengalir seperti air, tapi airnya mungkin hanya metafora, dan cahaya di ujung perjalanan mungkin hanya bias memori.

    Tubuh ini butuh ruang untuk pulang, tapi pulang ke mana? Ke diri sendiri yang terkoyak, yang diinjak, dilumuri lumpur, dilempari batu. Siapa yang membela? Semesta diam, atau bertepuk tangan dalam ironi. Tubuh melaju sebagai kereta, atau hanyalah ilusi gerak dalam ruang yang tak ada. Puasa adalah sunyi panjang, tapi panjang itu hanya dalam persepsi. Kita berjalan perlahan, haus, lapar, dan diam-diam memanggil nama Tuhan, atau sekadar memanggil ego diri sendiri.

    Cinta bukan hanya yang dimiliki, tapi juga yang dilepaskan. Kadang doa hanyalah napas pelan, harap seberkas cahaya, atau mungkin cahaya itu tak pernah ada. Malam rahasia, barangkali Lailatul Qadar, mengajarkan bahwa perjalanan pulang hanyalah konstruksi: tubuh yang berpuasa ke jiwa yang lapang, cinta rapuh ke Tuhan yang tak pernah hilang, atau hanya narasi yang kita ciptakan untuk bertahan dalam ketidakpastian.

    Jejak matahari senja, rasa besar, petang tanpa pesta. Tak ada yang ditakar, tak ada yang ditukar, atau mungkin semuanya ditukar tapi kita lupa catatan. Gelap menimang kesedihan, lengan yang cidera mendekap, rapuh di deru waktu yang retak. Sunyi lahir dari rahim sepi, lebih hidup dari kehidupan, atau mungkin lebih nyata dari klaim realitas. Luka tetap luka, kisah musim terkoyak, pintu berderit, semua bercakap-cakap memanggil hujan yang membasahi luka, atau sekadar menghidupkan fantasi tentang kesembuhan.

    Dalam fragmentasi ini, kita menemukan puisi, doa, dan orkestra malam Ramadan. Bukan untuk pulang, tapi untuk menyadari, bahwa pulang mungkin hanyalah ilusi, dan yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa kita ada, dan itu sudah cukup atau terlalu sedikit.

    Dan di situlah, dalam diam dan tafakur, kita menemukan ayat-ayat yang menuntun kita pada pulang yang sesungguhnya, pulang ke hati sendiri, ke Tuhan yang selalu menunggu.

    (Maret 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture